Seperti Ibu | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Seperti Ibu Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 15:33 Rating: 4,5

Seperti Ibu

"HANYA  Mbak Laras satu-satunya perempuan yang seperti ibumu." Begitu kata bapak tiap kali ada ucapanku yang menyakiti hati bapak.

Bapak memang belum belum bisa melupakan ibu yang meninggal lima tahun lalu. Ibu sangat berbeda denganku. Ibu itu lembut, pendiam, tidak pernah berkata kasar. Sedangkan aku sangat sensitif. Berbeda 180 derajat dengan ibu. Mungkin bapak tidak sadar bila aku mewarisi sifat keras kepalanya. Sedangkan Mbak Laras persis seperti ibu.

"Ibumu itu lembut. Tidak pernah marah walau sakit hati," ucap bapak sambil mengunyah kolak singkong buatanku.

"Tapi Aning bukan Ibu, Pak! Aning berbeda dengan Ibu!" jawabku tegas.

Air bening menetes dari kedua mataku. Ada perasaan menyesal telah membentak bapak. 

"Kalau Mbak Laras bisa menjadi seperti Ibu, kamu juga harus bisa seperti Ibumu." Bapak menyeruput kopi hitam yang maish mengepul.

"Kamu harus menyusul Mbak ke Malaysia. Besok, Bapak akana mendaftarkan kamu ke tempat penyaluran tenaga kerja ke luar negeri. Supaya keluarga kita ini tidak terus-terusan dihina di kampung ini."

"Tapi Aning baru lulus SMA, Pak!"

Bapak tidak mau mendengarkan alasanku. Dia pergi sambil membawa pacul dan caping gunung di kepalanya. 

Begitulah bapak, orang paling keras kepala sedunia. Semua keinginannya harus terpenuhi. Mungkin maksud bapak baik. Bapak ingin anak-anaknya bisa sukses. Tidak seperti bapak yang pontang-panting bekerja agar aku bisa tamat SMA. Terkadang bapak harus mencari pinjaman pada tetangga. Meski tak sedikit yang meragukan kemampuan bapak bisa melunasi utang-utangnya.

***
GERIMIS turun bersamaan dengan kumandang azan Subuh. Selesai salat Subuh aku bergegas menuju dapur memasak nasi. Tiba-tiba HP-ku berbunyi. Di layar ponsel, ada foto Mbak Laras.

"Halo Mbak Laras. Pripun kabare. Mbak?" tanyaku senang. Maklum sudah dua bulan kakak kandungku itu tidak memberi  kabar.

Mbak Laras sudah tiga tahun bekerja menjadi pembantu di Malaysia. Selama tiga tahun itu, Mbak Laras tidak pernah pulang ke rumah. Mbak Laras hanya mengirim uang untuk melunasi utang-utang bapak. Mbak Laras merasa kasihan pada bapak. Padahal bapak belum tentu juga kasihan pada Mbak Laras.

"Alhamdulillah kabar Mbak baik, Nduk. Lebaran besok Mbak Laras mau pulang. Kontrak kerja dengan majikan Mbak sudah habis. Maaf ya, nduk. Sudah dua bulan Mbak tidak bisa kirim uang," cerita Mbak Laars dari ujung telepon.

Tut... tut... tut...

Tiba-tiba Mbak Laars mematikan teleponnya. Padahal ada banyak cerita yang ingin aku ceritakan pada Mbak Laras. Tentang Bapak yang selalu marah-marah tidak jelas dan memaksaku menjadi TKW seperti Mbak Laras. Tentang Lik Kum yang mulai sakit-sakitan. Ah, mungkin Mbak Laras masih banyak kerjaan.

***
JUMAT petang Lik Kum meninggal. Kuburannya persis di samping kuburan Ibu. Seperti permintaan Lik Kum saat masih hidup. Aku ingin mengabari Mbak Laars kalau Lik Kum meninggal. Tetapi nomor telepon Mbak Laras tidak aktif.

Pulang tahlilan di rumah Lik Kum, bapak menghampiriku sambil membawa uang Rp 3 juta. Bapak memebrikan uang itu padaku.

"Ini uang perjanjian kalau kamu niat mau bekerja ke Malaysia. Uang itu kamu simpan, buat jaga-jaga saat kamu terbang ke Malaysia. Tapi ingat, kalau kamu sampai gagal berangkat, Bapak bisa kena denda tiga kali lipat. Paham?"

"Aning tidak mau menjadi TKW, Pak. Aning mau menjadi buruh pabrik saja!"

"Kamu ini memang keras kepala. Tidak seperti Mbak Laras. Hanya Mbak Laars yang bisa menjadi seperti Ibu."

Hatiku sakit sekali saat bapak membandingkan aku dengan Mbak Laras. Ya, Mbak Laras memang penurut. Selalu menuruti perintah bapak. Dan Mbak Laars memang seperti ibu.

Aku mengangguk. "Jika keinginan Bapak itu bisa membuat Bapak bahagia, Aning ikhlas, Pak. Asal Bapak mau menganggap Aning seperti Ibu."

Aku lari menuju beranda depan rumah. Aku menangis. Di langit, sambaran kilat seolah memerlihatkan wajah ibu di kegelapan. Ibu, aku merindukan pelukan hangatmu.

***
DI pagi yang dingin, embun yang jatuh kian terasa. Matahari tak nampak. Hanya guratan cahaya yang malu-malu mengintip. Bapak memutuskan tidak ke kebun. Musim ini, kebun bapak yang dipenuhi pohon cabe sedang tidak sehat. Pohon cabe banyak yang layu dan daunnya keriting karena musim yang buruk. Penjualan cabe juga sedang njlok. Alhasil bapak hanya memetik sekilo seminggu sekali untuk memenuhi bumbu dapur. Selebihnya cabe itu dibiarkan busuk dan jatuh dari pohonnya.

Bapak menaiki sepeda mootornya, aku membonceng di belakang. Pagi ini bapak akan mengantarku menuju kantor penyaluran tenaga kerja. Semua persyaratan menjadi TKW sudah aku susun di stopmap. Bapak memacu sepeda motornya. Jantungku berdegup. Sebentar lagi aku akan menjadi seperti ibu di mata bapak.

"Berhenti Pak Darsono!" teriak Pak LUrah saat kami melewati depan rumahnya.

Bapak mematikan mesin sepeda motornya.

"Ada apa, Pak LUrah?" tanya Bapak sambil melepas helmnya.

"Saya baru saja menerima telepon dari kecamatan kalau Laars Pujiastuti, puteri Pak Darsono di Malaysia meninggal di Malaysia. Sebelumnya saya ikut berbelasungkawa, Pak," ucap Pak Lurah sambil menjabat tangan Bapak. "Rencananya jenazah Laras akan dipulangkan besok, Pak."

Aku tercenung. Jantungku mendadak kekurangan oksigen. Napasku sesak sekali. Air mata terus membasahi pipiku. Aku sangat terpukul dengan kabar ini. Dalam hati aku berharap orang yang dimaksud Pak Lurah bukan Mbak Laras kakakku.

Kulihat bapak juga menangis. Sebelumnya, aku tidak pernah melihat Bapak menangis. Bapak adalah orang paling kuat yang pernah kulihat. Suaranya tak pernah lirih, selalu tegas dan keras. Tapi pagi ini bapak sama saja dengan yang lain. Air matanya mengucur deras. Tatapan matanya kosong. Tergambar jelas duka yang mendalam di wajah bapak.

Aku merangkul bapak. Berusaha menguatkan bapak, meski sebenarnya aku rapuh. 

"Bapak tidak bersalah. Allah sudah mencatat batas umur umatnya."

Bapak memelukku. "Kammu benar-benar seperti Ibumu. Maafkan Bapak, Nak."

***
MBAK Laras baru selesai dimakamkan. Para pelayat satu persatu meninggalkan tempat pemakaman. Hanya aku dan bapak yang belum bisa beranjak dari makam Mbak Laras. Bapak masih menangis sambil memeluk batu nisan bertuliskan nama Mbak Laras. Kulihat bapak lebih terpukul dengan kepergian Mbak Laras daripada dulu saat ibu meninggal.

Aku membantu bapak berdiri agar bapak mau pulang dan mengikhlaskan kepergian Mbak Laras.

"Bapak minta maaf, Laras," ucap Bapak pelan.

Sekarang Mbak Laras sudah tenang di samping ibu dan Lik Kum. Selamat jalan Mbak Laras. Sekarang Mbak Laras benar-benar menjadi seperti ibu. Menjadi almarhumah. 

Muhammad Fauzi. Jayengan RT 01 Rw 05 Plantaran Kaliwungu Selatan Kendal 51372

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Muhammad Fauzi
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" edisi 7 Agustus 2016


0 Response to "Seperti Ibu"