Sepotong Lebaran di Kota Tokyo | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Sepotong Lebaran di Kota Tokyo Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 15:19 Rating: 4,5

Sepotong Lebaran di Kota Tokyo

NAMAKU Dania Masayu, atau Dania Akiyama. Seorang ibu rumah tangga di penghujung usia kepala tiga, yang tinggal di salah satu sudut kota Tokyo. Anak-anakku bertumbuh layaknya kanak-kanak Jepang: santun dan lekas mandiri. Suamiku lelaki Jepang yang sederhana, rajin dan tak banyak bicara. Kurasa, kebahagiaan terbesarnya sesederhana kenikmatan semangkuk sup miso hangat, setelah dia penat bekerja.

Seperti ibu (di) Jepang pada umumnya, aku tidak punya banyak waktu untuk diri sendiri. Semua untuk anak, rumah, suami. Aku beruntung, memiliki kesibukan sebagai penari. Kadang aku memenuhi undangan pertunjukan atau mengajar. Pentas-pentas ini selalu menyenangkan. Aku berkesempatan bertemu orang-orang baru, pengalaman baru, juga honor sebagai bonus uang saku.

Sayang, pentasku tak selalu berakhiran sempurna. Sebuah pentas tari di awal bulan Juni, menjadikan Ramadanku tahun ini berubah jadi neraka. 

Sore itu aku menari di Asia Festival, yang digelar di kota Chiba. Belasan kios makanan, minuman dan permainan membentuk kumpulan, mengelilingi panggung rendah di tengah-tengahnya. Selain aku, ada beberapa penari lain dari Korea, India, dan Thai, Indonesia diwakili Ngarojeng, tari Betawi yang meriah gembira dengan kostum penuh warna. 

Aku baru saja usai melayani permintaan foto bersama, ketika sebuah suara berat menegurku, dengan nama yang datang dari masa lalu.

“Ayu ...?”

Gusti Allah. Hanya satu orang di dunia ini yang menyebutku seperti itu. Nyaris terduduk aku mendengarnya. Nama itu ... suara itu ... menyihir tubuhku jadi semacam agar-agar. Dan rasa panas menyengat pipiku, menjalar hingga leher dan kedua ujung telinga.

“Kamu Ayu, kan? Yang kutemui waktu itu di Roppongi?” Suara itu menyapaku lagi.

Ada dua pilihan yang kumiliki saat itu. Mengiyakan, atau menggeleng kuat-kuat menyatakan bahwa pria itu salah orang. Bukankah aku bertopeng make-up tari? Juga wajahku tertutup tirai manik-manik sepanjang dagu, dari hiasan kepala Tari Ngarojeng-ku.

Namun kepalaku yang bebal justru mengangguk. Ya, aku Ayu yang itu.

“Oh my goodness. tarianmu tadi sungguh elok. Kamu cantik sekali.”

Dia bilang aku cantik. Cantik. Bahkan suamiku pun belum pernah memujiku seperti itu.

Cantik. Potongan kata keramat yang menjatuhkanku ke dalam pesonanya dulu. Seperti waktu itu, dia mengucapkannya diiringi mata bersorot memuja. Seketika aku siap melakukan apa saja untuknya.

Bagaikan anak bau kencur yang kemalu-maluan di depan pria cinta pertamanya, aku menyibakkan sebagian tirai manik-manikku. Mengintip kepada pria tinggi besar itu.

“Hai. Apa kabar?” Aku mengulum senyum. Pria itu mengulurkan tangan, menggenggam jemariku seperti tak akan melepaskannya lagi. Ringan, tangan kirinya bergerak menyentuh pipiku.

Lalu, dunia di sekitar kami pun membatu.

Pria itu adalah Caspar. Entah berapa puluh purnama yang lalu, kami menghabiskan satu malam berdua di Roppongi1. Malam kebebasan, yang dihadiahkan suami untuk ulang tahunku. Tidak, kami tidak melakukan apa yang kalian bayangkan. Hanya bercakap-cakap dengan sangat dekat. Satu malam saja. Paginya, aku kembali jadi istri dan ibu yang baik, pada kehidupanku yang membosankan.

Dia lebih tampan daripada yang bisa kuingat. Telapak tangannya terasa hangat pada tanganku yang dingin. Kami tetap berdiri, bertukar kata tanpa melisankannya, bicara hanya melalui senyuman dan tatapan mata.

“Kamu tidak meneleponku,” ujar Caspar akhirnya. Merajuk, namun matanya melembut.

Aku tertawa menyembunyikan jengah. Sudah lama sekali, aku tidak mendapatkan tatapan selembut itu dari seorang pria. Bahkan dari suamiku sendiri. 

“Aku hampir tidak memercayai keberuntunganku, menemukanmu di sini setelah sekian lama ....” Caspar maju mendekat. Pasrah kurasakan akal sehatku perlahan menguap. Genggaman tangannya terlepas saat dia merogoh saku celananya, mencabut selembar kartu nama dari dompet.

“Kali ini aku akan pastikan kamu menyimpannya baik-baik!” Caspar mengacungkan kertas persegi warna kelabu itu kepadaku. Aku menelengkan kepala manis. “Tapi aku tidak punya kartu nama untuk bertukar. Jadi sebagai gantinya, kamu harus menyimpan ini.” Kupetik satu rumpun kembang goyang dari sanggulku, kuserahkan kepadanya.

Perhiasan itu baru berpindah ke tangannya selama dua detik, manakala sebuah kekuatan besar menunjukkan kemurkaannya terhadap apa yang tengah terjadi. Tanpa aba-aba, jarum-jarum hujan yang besar dan tajam menghantami bumi. Lebat dan kuat. Orang-orang langsung kalang kabut, bertemperasan berlari menghindari basah. Aku terjajar ke pinggiran.

“Ayu!” Telingaku masih mendengar seruan Caspar. Namun kabut hujan dan puluhan manusia yang panik mengaburkan pandanganku. Mataku berkeliling, namun tidak berhasil menemukannya.

Hanya satu wajah kukenal di sana. Dan dia bukan Caspar.

Berdiri tak jauh dariku, tegang di bawah siraman hujan. Dia menatapku dengan sorot kesakitan yang asing. Aku tergugu. Itu sosok suamiku, yang sore ini memang berencana menjemputku. Tanganku terulur hendak menggapainya.

“Anata2!” panggilku gemetar. Namun yang kupanggil justru berbalik, memacu langkah pergi.
Langit negeri Sakura runtuh menguburku. Dan sungguh, aku tak ingin digali kembali.

***
Tanggal 10 bulan Ramadan

Lagi-lagi satu porsi makanan terbengkalai di atas meja makan. Aku mendesah.

“Anata, gohan tabenai no?” [Sayang, kamu tidak makan?]

Tidak ada jawaban. Padahal aku yakin suamiku mendengarnya.

Sedih kupandangi nasi, ayam, sup miso, sayur dan cangkir teh itu. Rumah kami begitu sunyi. Anak-anak kusuruh tidur begitu PR mereka selesai. Dini hari mereka mesti bangun lagi untuk sahur. Ramadan di Tokyo tahun ini jatuh pada musim panas, sehingga puasa kami lebih panjang. Mereka harus menghemat tenaga.

“Aku masak ayam panggang Indonesia kesukaanmu. Tadi siang aku belanja ke toko Asia di Shinokubo. Beli ayam halal, macam-macam bumbu instan, buah kaleng, tempe ....” Aku mulai meracau. Apa saja, asal suamiku mau bicara. Tapi tak peduli seberapa lama aku berkicau, dia tetap diam, memaku mata pada TV. Seolah aku ini radio rusak yang bicara kepada hantu.

Aku menghela napas panjang. Ini bukan malam pertama dia bersikap seperti ini. Sejak kejadian di Mitaka waktu itu, suamiku jauh lebih pendiam. Jika semula dia hemat kata-kata, kini dia nyaris bisu. Dan aku tahu persis apa penyebabnya. Tentu saja.

“Kamu masih marah, ya? Bukankah aku sudah ceritakan semua ... bahwa kami tidak memiliki hubungan apa-apa. Hanya satu malam di Roppongi itu saja aku bersama dia. Sudah. Tidak ada lagi. Lagipula, itu, kan, sudah lama sekali,” desahku putus asa.

Tidak ada sahutan.

“Berapa kali aku harus minta maaf? Toh, aku sekarang di sini, kan. Bersamamu dan anak-anak ....” Aku menggigit bibir menahan tangis. “Bicaralah. Marahlah. Lebih baik daripada diam saja!
Suamiku malah bangkit. Pergi ke ruang kerja tempat dia kini suka mengurung diri.
“Anata! Gohan tabenai no?” Aku masih berusaha mencoba. Dan kembali menelan kecewa.

***
Tanggal 20 bulan Ramadan

Sahur kami sederhana saja pagi ini. Nasi, ikan salmon bakar, dan acar.

“Papa wa?” Bungsuku membuka suara, mulutnya sibuk mengunyah potongan salmon. “Papa tidur. Makanya nggak ada sup miso!” Si sulung yang menyahuti. “Papa mabuk lagi, tahu!”

Bungsuku ternganga, menatapku dan kakaknya berganti-ganti. Aku tersenyum saja, menyuruhnya menghabiskan makanan sahurnya. Untung kali ini dia tidak banyak bertanya.

Beberapa hari terakhir, situasi kami semakin tak terkendali. Bila minggu lalu suamiku hanya mengunci mulut, kini dia makin sering menghilang. Pulang tengah malam, dengan aroma alkohol menguar dari tubuhnya. Padahal sejak kami menikah dan dia meyakini Islam, pria itu tidak pernah lagi menyentuh osake dan makanan haram. Salatnya memang belum rapi, salat Ied pun tak pernah datang. Tapi setidaknya dia berusaha. Tahun lalu dia bahkan berpuasa penuh sebulan.

“Mama, kenapa menangis?” Suara bungsuku terdengar lagi. Buru-buru aku menyeka basah di pipiku yang mengalir tanpa kusadari. Kukarang alasan apa saja tentang sakit mata. Si Sulung mengerling tak percaya. Dia terlalu besar untuk ditipu. Aku menyeringai. Mencoba menipu diri.

***
Tanggal 30 bulan Ramadan

“Mama benar-benar akan pergi?” Suara si sulung membuatku mengangkat wajah dari kesibukan merapikan koper. Aku mengangguk dengan tenggorokan tercekat dan benak masygul.

“Papa terlalu marah padaku. Bahkan dia tidak peduli ketika aku minta izin ingin pulang ke Indonesia Lebaran tahun ini. Jadi kurasa, lebih baik kami berjauhan dulu. Kamu tidak apa-apa?”

Anakku memelukku. Ya, dia tidak apa-apa dan siap menjaga adiknya. Mereka sudah besar.

Suara pintu terbuka diiringi gemerisik tanda suamiku pulang. Tumben hari ini tidak terlalu malam. Aku masih memeluk anakku ketika pintu di belakang kami bergeser. Suamiku datang.

Anakku melepaskan diri, menoleh kepada Papanya, dan menunjuk koperku yang nyaris rapi.

“Mama betul-betul pergi besok. Papa tidak sedih?” cetusnya seperti menyalahkan.

Kulihat mata suamiku melebar, lalu menyipit dengan kerutan dalam di keningnya. Tapi dia--seperti biasa--tidak bersuara. Aku mengeluh dalam hati. Ya, sudahlah. Selesai semuanya.

“Apa ini, Papa? Lontong dan opor? Papa beli di mana?” Mendadak terdengar kerusuhan dari ruang makan. Bungsuku sepertinya tengah mengobrak-abrik sesuatu yang dibawa pulang Papanya.

Suamiku menunduk. “Itu opor. Aku beli tadi habis ikut mengaji di Sekolah Indonesia ....”

Aku berjengkit. “Kamu tadi ke sana? Ikut takbiran? Kenapa?” berondongku heran.

“Karena ... sebetulnya aku ingin mengajak kalian salat Lebaran di sana, besok. Aku .... Ingin memberi kejutan untukmu ....” Pria itu memandangku, tampak sedikit malu. Lalu berbisik, “Kamu jangan pulang, ya. Di sini saja. Sama aku dan anak-anak. Jangan pulang.”

Aku terbang memeluknya. Dia pun memelukku. Kami saling menghamburkan kata maaf.

Lebaran tahun ini aku pulang. Tapi bukan ke kampung halaman, melainkan pulang kepada rumah di mana masa depanku dijanjikan. Di sini, di kota Tokyo. ***

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Irene Dyah Respati
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Tabloid Nova" edisi 1480/XXIX | 4 - 10 Juli 2016

0 Response to "Sepotong Lebaran di Kota Tokyo"