Sesaat | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Sesaat Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 15:32 Rating: 4,5

Sesaat

PAGI, belum lewat jam tujuh pagi. Tiba-tiba telepon genggamku berdering. Mira di ujung sana. Ada apa ini?

“Pagi-pagi sudah berisik. Ada apa, sih?”

“Bakal ada reuni, nih!”

“Reuni? Lagi? Nggak bosen-bosennya reuni terus!”

“Eh, kalau sama aku, kamu boleh bosen. Kita bareng terus dari TK, kan? Tapi yang satu ini, beda.”

“Karena?”

“Karena sekarang kita akan reuni SMA.”

“SMA?”

“Ya, dan 99% ikut. Panitianya .... Tanya dong, siapa?”

“Siapa?”

“Dia.”

“Dia siapa?”

“Dia-ku.”

“Halah, nggak seru!”

“Hahaha .... Tapi dia-mu juga datang, kok. Sudah konfirmasi.”

“Apa? Dia siapa?”

“Aih, pake tanya dia siapa segala. Ya, siapa lagi?”

Ujung-ujung jariku mendadak terasa begitu dingin. Kepalaku begitu ringan. Dia yang tak pernah kutemui sejak 20 tahun lalu akan ikut reuni. 

“Jadi kamu ikut ya?” desak Mira.

“Nanti, pikir-pikir ....”

“Sok mikir segala. Sudah, aku daftarkan! Kita reunian sama kesayangan masa lalu. Siap tunggu jemputanku saja. Dandan yang keren.”
Kesayangan masa lalu.

Lalu gambarnya muncul begitu saja. Tinggi, berkulit gelap, rambutnya ikal, matanya dalam. Ketika bicara, suaranya rendah seperti bergumam. Dulu, ketika baru kenal, aku selalu bertanya lagi dan lagi, dengan suara keras, “Maksudnya apa? Kalau ngomong jangan kumur-kumur gitu.” Tapi entah bagaimana, justru suara bergumam itu jadi bunyi yang paling kurindukan. Mungkin karena setiap kali menjawab, ada senyum yang mengiringi. Dan matanya yang dalam, dengan bulu mata tebalnya, memandang. Lututku ikut-ikutan dingin.

Dia pindahan dari Bandung, bergabung di sekolah kami di semester dua, kelas satu. Karena tempat kosong di kelas itu cuma ada di belakangku, maka jadilah aku teman pertamanya. Ia pinjam catatan ini itu, buku ini itu, tapi sering terlambat dikembalikan. Menjengkelkan. Tapi aku tak pernah jera meminjamkan juga. 

Di akhir tahun pelajaran, kami jadi teman dekat. Di hari pertama kami di kelas dua, ia bilang cinta padaku. Lalu kami pacaran. Ke sana kemari bersama. Ia pemain basket utama tim sekolah kami. Pernah ikut lomba antar sekolah, antar propinsi di kalangan pelajar. Aku ingat telapak tangannya yang lebar dengan jari-jari panjang. Ketika menggenggam tanganku, hati pun teduh. Dia pikir kami akan terus bersama. Aku pikir kami akan menikah. Ah, tahu apa aku tentang perkawinan, pacaran saja baru sekali itu.

Tahun berlalu, dan kami menuju akhir masa SMA. Ia bisa kuliah di negeri orang. Aku tetap di Jakarta. Kami berjanji akan jalan terus. Di masa libur, kami akan bertemu. Di masa ada tiket promo, ada yang bisa berkunjung. Umur 25 kita menikah, katanya.

Tapi siapa yang tahu bahwa jarak bisa membuat rasa yang begitu indah tak bertahan lama? Rusuh dengan curiga; ramai membahas berbagai kekhawatiran yang tak perlu; pertanyaan tak penting dijawab dengan penjelasan panjang lebar yang semakin memusingkan kepala. Perlahan semua memudar. Tak hanya ribut-ribut via telepon singkat berbayar mahal, tapi juga rasa indah itu. Kemudian semua lenyap begitu saja. Kabarnya ia memilih tinggal di negeri seberang itu.

Kukira selesai cinta kami. Ternyata bertahun setelah itu aku masih terus mengingat cerita kami. Entah sampai kapan aku masih berharap ia akan kembali, kami bersatu. Melewati rumahnya, tenggorokanku tercekat. Berharap ia keluar dari sana, melambaikan tangan, memanggilku dan kami jadi satu lagi. Ketika umur mencapai angka 25 tahun, aku menemukan seseorang yang lain, yang memintaku jadi istrinya. Baiklah, sudah waktunya cerita baru dimulai. Dan kukira sejak itu selesai cerita sudah cintaku dengan dia.

Lalu, sekarang kami akan bertemu. Seperti apakah ia sekarang? Tetapkah tinggi, menjulang, menjawab dengan senyumnya yang tak akan pernah kulupa itu? Aku pernah mencarinya di Facebook, tapi tak kutemukan. Dalam hitungan minggu, dia akan berdiri di hadapanku lagi. Jantungku tak juga tenang. Jemariku kian dingin. Di kepalaku berderet kalimat kususun, siap disampaikan saat bertemu nanti. Bagaimana kusapa dia nanti? Akankah aku berjingkat ketika mencapai pipinya untuk kucium sekilas? Akankah genggaman tangannya mengalirkan keteduhan seperti dulu? Akankah ia membahas ukuran pinggangku yang tak lagi sekecil dulu? Akankah ia suka pada potongan rambutnya yang sekarang sangat pendek ini? Sepotong lagu kugumamkan. Lagu kami.

***
“Jadi reuninya?” suamiku bertanya. 

“Jadi.”

“Mau aku antar?”

“Nggak usah. Aku berangkat dan pulang dengan Mira.”

“Oke. Tapi kalau perlu dijemput, kabari saja. Aku siap,” kata suamiku. Sekilas ia mencium pipiku. Iseng!

Betapa biasanya lelaki yang memilihku jadi istrinya ini. Dibandingkan dia yang akan kutemui nanti, suamiku betul-betul biasa. Tidak tinggi, kurang tampan, rambutnya lurus dan kaku seperti ijuk, matanya kecil, kulitnya pucat. Berjalan di sampingnya tak membuat banyak perempuan menoleh karena merasa iri padaku. Kucoba mengingat kembali apa yang membuatku menerima pinangannya kalau ia sebiasa ini? Ya, ya, suamiku pandai banyak hal, tapi dibandingkan dengan yang akan kutemui nanti, rasanya ia pasti kalah hebat. Bahasa Inggris suamiku, parah. Dia: pasti lancar seperti air karena lama tinggal di negeri seberang. Lalu sekarang, dengan bertambahnya usia, aku merasa suamiku semakin hari semakin cerewet. Semua dikomentari, didebat. Oh melelahkan. Membosankan juga. Kalau akhir pekan, mandi enggan, sikat gigi tak mau. Seharian sibuk dengan mobil VW kodoknya yang lebih sering mogok ketimbang jalan itu. Betapa tidak menariknya dia. Sekali lagi aku bertanya dalam hati: mengapa dulu kuterima ajakan kawinnya? Ah.

Mira datang menjemput bersama supirnya.

Sebelum berangkat, sekali lagi kupandangi bayanganku di cermin besar:

Baju sudah sesuai dress code undangan, disiapkan sejak seminggu lalu; sepatu: dibeli khusus agar sesuai dengan warna baju reuni. Aku dandan. Suamiku bilang aku gaya, cantik. Oh, harus. Kau tak tahu siapa yang akan kutemui sore ini.

Tak lama, kami tiba di lokasi reuni.

Mira langsung menghilang, mencari kesayangannya yang sudah sejak tadi sibuk mengirimkan pesan di telepon genggamnya. Telapak tanganku basah. Keringat mulai muncul di hidung, di tengkuk, mengalir sampai ke pinggang, padahal mobil kami tadi berpendingin, ruangan tempat acara ini pun sejuk. Mataku mulai mencarinya. Di manakah?

Tiba-tiba seseorang menyentuh bahuku.

Aku berbalik cepat. Di hadapanku berdiri seorang lelaki yang cukup tinggi, bertubuh tebal. Perutnya bulat menyorong ke depan sampai ikat pinggangnya harus turun jauh ke bawahnya. Kemeja seragam warna terang itu membuatnya tampak lebih gemuk lagi. Keringat membasahi ketiak bajunya. Kepalanya nyaris tak berambut. Ia tersenyum lebar, menampakkan gigi-gigi yang tak lagi lengkap. Lalu kudengar ia berkata, “Hai, Nin,” dengan suara menggumam yang sangat kukenal. Deretan kalimat yang telah kusiapkan: hilang.

Tunggu, tunggu: ke mana semua keindahan yang ia miliki dulu? Aku mengajaknya ke luar arena. Kami duduk di bangku halaman. 

Ia bercerita, sudah menikah untuk ketiga kalinya. Dan berpisah untuk ketiga kalinya pula. Oh!

“Mungkin tidak tahan dengan kondisi yang ada,” katanya.

“Kondisi seperti apa?”

“Kondisi sebagai imigran gelap. Aku masuk Amerika tanpa visa yang resmi. Bersembunyi dari tempat ke tempat lain.” Astaga!

“Lalu kenapa tidak pulang saja? Tinggal di sini?”

“Aku harus cari cara untuk kembali.”

“Buat apa? Tinggal di rumah orangtuamu saja.”

“Rumah itu akan dijual, uangnya dibagi rata. Mungkin akan aku pakai untuk modal hidup di sana. Juga mengurus semuanya supaya bisa nyaman bergerak.”

“Tapi kau pandai, pasti bisa hidup di sini.”

“Aku tak suka negeri ini. Bising. Kacau. Ribut melulu. Picik.”

Picik? Aku tak suka dengan pilihan katanya. 

“Ya, apa yang bisa diharapkan dari negeri kampungan ini. Semua serba kacau. Ini bukan tempat yang baik untuk hidup,” katanya dengan senyum mengejek.

“Tapi di sini pasti lebih baik daripada hidup di negeri orang seperti buron.

“Ah, negeri ini tak bisa memberi yang aku butuhkan.”

“Apa? Apa yang kau butuhkan?”

“Banyak. Tapi yang jelas aku tak pernah rindu pulang. Kalau bukan karena urusan warisan, mungkin aku tak kembali.”

Kupandangi dahinya yang mengkilat, berkeringat dan penuh kerut. Wajahnya berminyak. Berkali-kali ia mengusap kepalanya yang juga sudah mulai mengkilat itu dengan tissue yang sudah basah. Napasnya terdengar berat, mungkin perut buncit itu penyebabnya. Bibirnya yang dulu selalu tersenyum kini melengkung ke bawah, seperti mengejek semua yang ada di sekitarnya. Tangannya yang besar itu sekarang gemuk-gemuk seperti pisang mas. Ketika menggenggamku, tanganku malah jadi berkeringat. Tak ada rasa teduh itu.

Siapa lelaki yang duduk di hadapanku ini?

Aku tak mengenalinya. Dia mungkin lelaki yang bernama sama dengan kekasih pertamaku dulu. Selebihnya, dia lelaki yang berbeda. Jalan pikirannya tak ingin kumengerti. Betapa tidak menariknya dia. Dan untuk orang yang tak menarik ini aku habiskan banyak malam dengan terjaga, membayangkan masa-masa lalu yang begitu manis. Bodohnya.

“Kau, bagaimana?”

“Baik.”

“Suamimu? Berapa anakmu?”

“Semua baik, suami dan dua anakku.”

“Baguslah. Aku tak punya anak. Terlalu riskan untuk punya anak dengan kondisi yang tak menentu.” Ya, itu pasti.

“Mengapa kau datang ke reuni ini?” aku berharap ia menjawab: rindu ia padaku.

Ia memandang ke arah kerumunan teman-teman kami, “Cari jalur, siapa tahu ada yang mau bagi-bagi duit, hahaha ....” Ia perlu uang. Bukan aku. Bukan kenangan tentang kami. Ia tak perlu pertemuan ini. Baginya aku cuma penggalan masa lalunya yang sudah lama lewat dan tak penting untuk diingat. Sementara aku telah merelakan jantung berdebar hingga hampir lepas untuk pertemuan ini. Bodoh. Sangat.

“Aku dengar ada teman kita yang sudah jadi entrepreneur super sukses. Siapa tahu dia bisa berbagi proyek.” Aku ingin menginjak kakinya. Beraninya ia berharap banyak dari penghuni negeri yang disebutnya picik. Ih!

Kupandangi lagi wajahnya: betapa sangat tidak menariknya ia.

Tiba-tiba aku merindukan laki-laki yang melepasku berangkat reuni sore tadi di pagar rumah kami. Aku ingin berlari pulang, menuju laki-laki yang selalu menemaniku bekerja hingga malam, tanpa keluh. Laki-laki yang amat sangat bangga pada tanah lahirnya, dan menularkan kebanggaan itu pada anak-anak kami. Laki-laki yang memilihku jadi istrinya, dan ibu anak-anak kami.

“Semoga banyak teman yang memberi bantuan, kalau begitu,” kataku sambil berdiri. Dia mengangguk. Kuraih telepon genggamku dalam tas yang kecil yang juga kubeli khusus untuk acara ini. Kutekan satu tombol. Kudekatkan ke telinga.

Saat itu juga ia bergerak menjauh, lalu bersalaman dengan teman lain. Terlibat pembicaraan. Diam-diam aku merasa lega. Jantungku kembali tenang. Tanganku tak lagi berkeringat.

Kudengar suara yang kutunggu menjawab di seberang sana.

“Aku akan naik taksi, kita makan malam bersama ya? Di tempat biasa. Ajak anak-anak,” kataku.

“Cepat sekali reuninya?”

“Ya, nggak penting ternyata.”

Aku ingin pulang.

Segera. ***

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Reda Gaudiamo
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Tabloid Nova" edisi 1480/XXIX 4 - 10 Juli 2016

0 Response to "Sesaat"