Sunyi Juga dan bahkan Sunyi | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Sunyi Juga dan bahkan Sunyi Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 21:30 Rating: 4,5

Sunyi Juga dan bahkan Sunyi

SAYA sedang di kantor ketika kabar itu datang. Ayah sakit. Teh Aisyah, kakak tertua saya, yang menelepon.

”Kamu harus pulang!“ kata Teh Aisyah seperti yang penting harus mengatakan kalimat perintah seperti itu. ”Kalau mau bareng, sekarang ditunggu di sini.“

”Saya nyusul aja, Teh. Masih ada pekerjaan yang harus saya selesaikan.“

”Tapi harus pulang, ya?“

”Iya Teh, pasti pulang.“

Teh Aisyah dan saya memang tinggal dan bekerja di Bandung. Sementara tiga kakak saya lainnya di kota lain. Aa Akbar dan Teh Zenab tinggal dan bekerja di Jakarta, sedang Aa Lukman tinggal dan bekerja di Kalimantan.

Hari Sabtu sore, tiga hari setelah Teh Aisyah mengabari ayah sakit, saya pulang. Semua kakak sudah di rumah. Hanya Teh Aisyah yang datang bersama suaminya, Kang Soleh. Yang lain datang sendiri-sendiri. Rumah besar ayah di kampung Cinenggang, sebuah kampung terpencil di Kabupaten Sumedang, masih terasa lengang. Ya, karena kehadiran mereka berbeda dengan saat Hari Raya Idul Fitri. Mereka datang bersama suami, istri, anak-anak, dan cucu-cucunya.

Semua kakak saya tentu saja marah melihat saya datang terakhir. ”Kamu ini tinggal paling dekat dengan ayah, tapi datang paling telat! Dasar anak durhaka!“ kata Aa Lukman. Saya menganggap biasa mendengar kalimat-kalimat seperti itu. Makanya saya tidak membantah.

Ayah sedang duduk di tempat tidur ketika saya masuk ke kamarnya. Matanya begitu berbinar ketika melihat saya. Saya bersujud di kaki ayah, memeluknya, dan mengucapkan kata-kata maaf dan penyesalan datang terlambat. Tapi ayah seperti tidak mendengarnya. Ayah mengusap-usap rambut saya, punggung saya, lalu mencium kening saya. Sesuatu yang sangat menakjubkan. Sesuatu yang sanggup menghentikan kata-kata penyesalan saya yang keluar tidak dari hati, menghentikan pelukan saya sebagai seremonial yang menunjukkan rasa kangen padahal tidak sama sekali. Ya, karena ayah mengusap-usap rambut saya, punggung saya, apalagi mencium kening saya, baru kali itu dilakukannya.

”Maafkan Ayah, Su. Ayah yang salah, kamu yang benar,“ kata ayah seperti berbisik.

”Tentang apa, Ayah?“ tanya saya tidak mengerti.

Tapi ayah tidak mengatakan apa pun lagi. Ayah hanya memandang tembok kamar.

***
Ayah baru setahun pensiun sebagai pegawai negeri. Meski pensiun, kegiatan ayah sebenarnya tidak berkurang. Ayah mempunyai beberapa bisnis bersama teman-temannya. Ayah mempunyai beberapa bisnis bersama teman-temannya. Meski ibu sudah meninggal dua tahun lalu, semangat ayah untuk terus bekerja tidak pernah melemah.

Awalnya ayah mendapatkan daging kecil menggantung di gusi atasnya. Ayahnya menganggapnya sepele. Daging itu ditariknya dengan harapan hanya meninggalkan perih. Nyatanya daging itu adalah satu satu akar kanker mulut. Darah mengucur deras ketika daging kecil itu ditarik. Ayah terkejut, lalu berteriak.

Teh Aisyah yang pertama datang sudah mendapatkan ayah dirawat di rumah sakit. Teh Aisyah menjadi wakil keluarga yang menyetujui operasi kecil pemotongan gusi. Meski prediksi dokter menyatakan kanker itu sudah menyebar, tapi operasi kecil itu membuat ayah lebih baik. Jadwal ayah selanjutnya adalah kemoterapi. Tapi ayah menolak. Ayah lebih memilih pengobatan herbal secara tradisional. Karena itu dokter mengatakan kepada Teh Aisyah, ”Bila tanpa kemoterapi, usia Bapak diperkirakan hanya bisa bertahan sekitar dua bulan.“

Saya dan kakak-kakak pulang pada hari Minggu sore. Selama kami di Cinenggang, ayah tidak mengatakan apa pun kepada anak-anaknya. Setiap ditanya hanya memandang sebagai jawabannya. Setiap diajak bicara tidak pernah merespons apa pun.

Meski begitu, hampir setiap hari ayah keluar rumah. Dia duduk berlama-lama di hadapan taman kecil. Ayah hanya mengubah posisi duduknya bila Mang Asip datang membawa makanan dan obat herbalnya. Ya, untungnya ada Mang Asip dan Bik Konah, suami-istri yang sejak saya kecil sudah tinggal di rumah Cinenggang, mengurus rumah, taman kecil, kebun, dan kolam.

Teh Aisyah pernah bertanya kepada Mang Asip, apakah ayah suka menceritakan sesuatu? Tapi Mang Asip menggeleng.

***
TEH Aisyah dan Kang Soleh sengaja datang ke rumah kontrakan asya Jumat sore itu. Mereka meminta saya menemani hari-hari ayah. “Karena ayah hanya menyebut namamu, Su. Hanya menyebut nanamu,” kata Teh Aisyah.

”Teteh ini bagaimana. Kan semua juga tahu, ayah sudah lama tidak suka dengan saya.“

Kemudian Aa Lukman menelepon, ”Kamu yang harus menemani hari-hari ayah. Kamu banyak dosa kepada ayah!“ katanya kasar. ”Jangan pikirkan pekerjaanku. Gajimu akan Aa ganti!“

Saya tidak suka dengan kalimat Aa Lukman. Dia memang yang paling kaya di antara anak-anak ayah. Selain bekerja di Perhutani, kabarnya dia juga punya bisnis lain. tapi tidak semestinya dia mengatakan itu kepada saya. Pekerjaan saya mungkin dianggapnya yang paling tidak mapan. Saya bekerja sebagai marketing di sebuah perusahaan percetakan. Sementara kakak-kakak saya semua pegawai negeri. Kebijakan pemerintah sejak lima belas tahun lalu ketika SBY berkuasa berpihak kepada pegawai negeri. Gaji mereka terus dinaikkan dengan harapan budaya korupsi menjadi minimal. Sementara kemapanan swasta terus menurun digerus inflasi.

Saya akan balik marah bila Teh Aisyah tidak memeluk saya. ”Jangan dengarkan dia,“ kata Teh Aisyah dengan mata berkaca-kaca. ”Kamu dipilih bukan karena pekerjaanmu dan hanya kamu yang belum menikah,“ katanya. ”Tapi karena ayah hanya menyebut namamu, Su. Hanya menyebut namamu.“

***
SAYA anak bungsu ayah yang berbeda usia cukup jauh dengan kakak-kakak. Saya baru empat tahun lulus kuliah dari salah satu perguruan tinggi di Jogjakarta. Usia saya dua puluh tujuh tahun. Sementara Teh Zenab, kakak terdekat saya, sudah tiga puluh tujuh tahun.

Perselisihan saya dengan ayah, kalau itu harus dibilang perselisihan, bermula ketika saya akan kuliah. Saya memilih jurusan bahasa, sementara ayah memaksa saya masuk jurusan ekonomi atau kehutanan. ”Kuliah ekonomi atau kehutanan itu lebih menjamin masa depanmu!” kata ayah.

”Mumpung ayah belum pensiun, Ayah bisa membantumu jadi pegawai negeri. Lulus kehutanan, kakakmu bisa membantumu!“ Tapi saya memilih jurusan bahasa sesuai minat saya.

Perselisihan kedua terjadi ketika saya lulus kuliah. Ayah meminta saya jadi pegawai negeri. ”Jalur belakang memang harganya seratus juta rupiah. Tapi uang sejumlah itu jadi kecil bila melihat gaji dan jaminan jadi pegawai negeri saat ini,” kata ayah. ”Ayah bisa mengeluarkan uang sejumlah itu dan mencari jalur belakangnya. Tapi ini tidak gratis!”

Saya tidak menanggapi apa yang dikatakan ayah. Meski begitu, saya tetap bersiap ikut tes CPNS saat itu. Tapi saya lebih memilih bekerja di sebuah percetakan kecil. Ayah marah dan menganggap saya bodoh, tidak tahu perubahan zaman.

Saat ibu meninggal dua tahun lalu, saya merasa hanya akan pulang ke Cinenggang setahun sekali saat Lebaran Idul Fitri.

***
Akhirnya saya mengikuti keinginan Teh Aisyah dan kakak-kakak untuk menemani ayah bukan karena merasa bekerja paling tidak mapan. Tapi ada semacam rasa penasaran, karena ayah hanya menyebut nama saya. Hanya menyebut nama saya.

Hampir setiap pagi menjelang pukul tujuh ayah keluar rumah. Ayah duduk di kursi yang menghadap taman. Seharian dia memandangi taman. Siapa pun tamu yang datang menengok, tidak pernah ada yang sanggup membuatnya bicara walau sepatah kata.

Ketika saya datang ayah hanya melirik dan sedikit tersenyum. Saat siang Mang Asip datang membawa makanan dan obat herbal, ayah belum mengatakan apa pun. Senja sebelum masuk ke dalam rumah, ayah baru melirik saya.

”Kamu yang benar, Su. Ayah yang salah,“ katanya seperti berbisik, mengulang apa yang dulu pernah dikatakannya.

”Mengenai apa, Ayah?“ tanya saya cepat.

”Semakin mendekati akhir usia, harta itu semakin tidak berguna. Kamu pasti bangga, Su. Sementara Ayah semakin menyesal. Tapi Ayah bangga kepadamu.”

”Maksud Ayah?”

Ayah tidak lagi mengatakan apap pun. Sampai seminggu saya menanti ayah bicara. Tapi hanya tatapan dan sedikit senyum yang membuat saya yakin ayah memerlukan kehadiran saya di sampingnya.

Menjelang senja di hari kedelapan, ayah melirik saya. ”Ulat itu begitu rakus, makan hanya untuk mati,” katanya lemah. Saya tidak siap memahami apa yang dikatakan ayah. Tapi begitu saya ikuti ap ayang dilihat ayah, di sebuah pohon talas hias ada kepompong menggantung. Hari-hari lalu mungkin kepompong itu adalah seekor ulat.

”Besok ulat itu mungkin akan menjalani hidup baru sebagai kupu-kupu,” ujarnya lirih. “Ayah ingin bermetamorfosis seperti ulat itu. Hanya kupu-kupu yang bisa melihat indahnya taman.”

Saya ini sarjana bahasa, belajar sastra dari masa lampau sampai yang terkini, tapi saya tidak punya kata-kata menanggapi pernyataan ayah.

***
SUATU pagi ayah mengajak saya pergi untuk membeli bibit pohon mangga. Bibit pohon mangga itu saya tanam di halaman rumah. Ayah memandangi saya yang mencangkul dan menimbun pohon dengan tatapan yang baru kali itu saya lihat.

”Ayah ingin bermetamorfosis menjadi sebatang pohon, Su,” katanya seperti berbisik. ”Pohon itu seperti tidak hidup, tapi ternyata dia tumbuh menjadi sangat kuat, berkali-kali lipat lebih kuat dari kita, dari makhluk terkuat sekalipun. Peliharalah pohon mangga itu. Ayah ingin bermetamorfosis menjadi sebatang pohon.”

Imajinasi saya belum sanggup menangkap apa yang ada di pikiran ayah. Saya hanya merasa, ayang sedang belajar melihat lagi, belajar mendengar lagi, dan belajar merasa lagi. Tapi saya perkiraan saya itu ingin saya katakan, ayah sudah tidak kuat. Ayah pingsan. Dan saat di jalan menuju rumah sakit, di pangkuan saya, ayah meninggal.

Kakak-kakak kemudian berdatangan. Hari kedua setelah penguburan ayah, kakak-kakak berniat pulang. ”Sebaiknya kamu sekarang ikut Aa ke Kalimantan,“ kata Aa Lukman. ”Aa mau buka usaha percetakan di sana. Kamu yang harus menjalankannya. Berapa pun modal yang kamu minta, Aa akan mengusahakannya.“
Tapi saya menolak. Saya lebih memilih memelihara pohon mangga yang tingginya baru selutut itu. ***

Cilembu, 16 Maret 2016

YUS R. ISMAIL, menulis cerpen, novel, dan puisi. Bukunya, Miss Maya and Other Sundanese Stories (Desember 2014) yang diterjemahkan oleh C.W. Watson. Buku kumpulan cerpennya antara lain, Pohon Tumbuh Tidak Tergesa-gesa, Disebabkan oleh Cinta, Sepanjang Jalan Cinta, dan Pencuri Hati.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Yus R. Ismail
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Jawa Pos" edisi Minggu, 7 Agustus 2016

0 Response to "Sunyi Juga dan bahkan Sunyi"