Tiga Buah Topi Baja | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Tiga Buah Topi Baja Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 19:00 Rating: 4,5

Tiga Buah Topi Baja

”SAYA menyesal, kenapa perang tiba-tiba dihentikan. Padahal saya ingin menembak kepala musuh lebih banyak lagi. Belum puas rasanya baru memperoleh tiga buah topi baja,” ucap Mbah Kasman begitu aku masuk ke ruang tamunya. 

Laki-laki itu mengangguk-angguk. Kulit di tubuhnya sudah keriput. Sorot matanya sayu. Dua tahun yang lalu ia ditinggal mati isterinya. Dua anaknya tinggal di Surabaya dan Makassar. Ia hidup bersama cucu keponakan. 

”Saya dulu baru senang-senangnya perang, Mas. Bisa menembak mati musuh itu bangga sekali rasanya. Mas Sam bisa membayangkan?” 

Aku menggeleng. Jangankan membunuh manusia, membunuh ayam saja aku tidak berani. Tapi di dalam perang memang hanya ada dua pilihan: membunuh atau dibunuh. Karena itulah aku tidak pernah berminat jadi tentara. Tidak tahan melihat darah. Bahkan melihat darah sendiri waktu sunat dulu aku langsung pingsan! 

Mbah Kasman sekarang menjadi warga kampung tertua. Semua teman-teman sebaya sudah meninggal. Setiap pagi yang dilakukan hanya berjemur, sarapan, nonton tivi sebentar lalu tidur. Matanya sudah tidak bisa dipakai untuk membaca meski sudah memakai kacamata. Untung ia memperoleh uang pensiun sebagai anggota veteran. Tidak banyak. Namun andaikata tidak ada pensiun, entahlah. Mungkin sudah meninggal juga. Karena ekonomi dua anaknya juga tidak begitu menggembirakan. 

”Yang membuat kami gemes itu waktu tentara Belanda disuruh mundur dari Yogya. Hooo, semalam kami sudah berencana membunuh mereka di tengah jalan. Tapi Ngarso Dalem sendiri yang berdiri di antara kami dan pasukan Belanda. Wahhh, bagaimana ini, pingin nembak tapi ada Ngarso Dalem. Gemes sekali. Tangan ini sudah gatal untuk segera menarik pelatuk bedil.” Mbah Kasman kembali mengangguk-angguk. 

”Kalau dijumlah sudah berapa nyawa musuh melayang karena Mbah Kasman tembak?” tanyaku iseng. 

Laki-laki tua itu menggeleng-gelengkan kepalanya. Mulutnya yang sudah tidak memiliki gigi juga bergerak-gerak. Mungkin begitulah cara lansia mengingatingat peristiwa yang sudah terjadi beberapa puluh tahun lalu. Memori otaknya harus kerja keras. 

”Ada sepuluh nyawa?” pancingku. 

”Ya, ya, lebih.” 

”Ouh, jadi Mbah Kasman termasuk penembak jitu waktu itu!” pujiku. 

Mbah Kasman tersenyum. Pendengarannya memang masih bagus meski umurnya sudah lebih dari 80 tahun. Pada zaman penjajahan Jepang ia sudah ikut berlatih untuk jadi heiho. Setelah proklamasi ia masuk jadi tentara. Waktu aksi polisionil Belanda ia sudah berperang. Sampai semua tentara Belanda harus ditarik dari Yogyakarta. Tapi ketika terjadi rasionalisasi di tubuh angkatan bersenjata, dirinya ikut diberhentikan. Lalu hidup jadi kuli angkut di stasiun Tugu. Untung ada temannya yang mengusulkan untuk diangkat jadi anggota veteran dan diterima. 

”Tolong saya Mas,” pintanya kemudian, lalu bangkit dari duduknya. ”Ikut saya masuk ke kamar.” Ia berjalan tertatih-tatih menuju kamar tidurnya, aku mengikuti di belakangnya. ”Tolong ambil itu semua dan bawa ke ruang tamu,” perintah Mbah Kasman sambil menunjuk tiga topi baja yang ada di atas tempat tidur. Aku ambil tiga topi baja yang cukup berat. Warna catnya sudah tampak kusam. Kami lalu kembali ke ruang tamu. 

Tiga topi baja kuletakkan di atas meja. Mbah Kasman mencoba tersenyum sambil tangannya memegang satu topi baja. ”Topi ini dulu dipakai tentara Belanda. Dia saya tembak persis kena jidatnya. Lalu topinya saya ambil. Setelah gambar bendera Belanda saya kerok dengan pisau, topi ini saya pakai,” katanya. 

”Mbah Kasman melihat sendiri mayat tentara itu?” 

”Ya. Ia ditinggalkan teman-temannya yang lari tunggang langang menyelamatkan diri.” 

”Waktu itu pertempuran di mana Mbah?” 

”Emmm...waktu merebut pangkalan udara Meguwo.” 

Aku mengangguk-angguk. Pangkalan udara itu sekarang jadi bandara Adisutjpto. 

”Topi yang ini,” katanya lagi sambil mengangkat topi kedua, ”milik tentara Gurkha. Orangnya tinggi, kulitnya sawo matang dan berewok. Dia saya tembak di dekat jembatan Gondolayu. Persis kena lehernya. Lalu topinya saya ambil.”

”Tidak dimarahi komandanmu Mbah?”

Mbah Kasman tertawa kecil. ”Komandan takut sama saya. Karena tahu kalau saya kebal peluru. Bagaimana mungkin dia memarahi saya.”

”Arwah mereka tidak pernah mendatangi Mbah Kasman?”

”Pernah sekali. Saya tidak takut. Malah saya umpat-umpat. Eee... lha kok yang takut malah arwahnya, hahaha.” Mbah Kasman lalu mengangkat topi baja ketiga. ”Yang ini tidak gampang mendapatkannya. Saya duel satu lawan satu dengan tentara Belanda. Kami sama-sama kehabisan peluru.”

”Di mana Mbah?”

”Di Ambarawa.”

”Mbah Kasman ikut perang ke sana?” Laki-laki itu mengangguk. ”Kami dari Yogya mungkin dua kompi. Lalu pasukan di Magelang bergabung. Sepanjang jalan para pemuda setempat pada ikut. Senjatanya apa saja. Pedang, keris, bambu runcing bahkan ada yang cuma tangan kosong.”

”Hebat!” pujiku.

”Ambarawa dikepung dari segala penjuru. Tetapi Belanda segera mendatangkan pasukan dari Semarang. Nah, waktu itu saya nekat mau menempak tentara Belanda dari jarak dekat. Eeee, peluru sudah habis. Begitu juga waktu tentara Belanda itu mau nembak saya, pelurunya sudah habis. Lalu kami duel satu lawan satu. Saya yang menang. Leher tentara Belanda itu patah setelah saya gebuk dengan popor bedil. Topi bajanya lalu saya ambil.”

”Hemm. Luar biasa.”

Mbah Kasman lalu menatapku. Sorot mata tuanya tidak menyiratkan rasa bangga. Justru tampak sayu. ”Mas Sam bisa menolong saya?”

”Menolong apa Mbah? Kalau duit aku tidak punya.”

Mbah Kasman menggeleng. ”Dua cucu saya mau masuk SMA. Satunya lagi mau masuk tentara. Mereka butuh biaya. Orangtuanya tidak mampu.”

”Lalu?”

”Kalau bisa tolong jualkan tiga topi baja ini. Katanya bisa laku mahal karena dianggap barang antik. Apalagi ini saya dapatkan dengan menyabung nyawa.”

”Waduh, tidak mudah Mbah menjual topi baja ini. Bagaimana kalau diberikan museum perjuangan saja?”

”Saya butuh duit. Sekarang masuk sekolah mahal. Jadi tentara juga harus bayar. Padahal saya dulu tinggal bergabung saja dan maju perang.”

”Hmm,” aku memutar otak. Mau tidak mau harus mencari kolektor barangbarang antik dan bersejarah. Hanya mereka yang mau membeli.

”Bagaimana Mas? Bisa menolong saya?”

”Kuusahakan Mbah. Tapi tidak bisa segera. Aku harus mencari pembeli yang mau menghargai barang-barang antik.”

”Ya, ya. Bawa saja tiga topi baja ini. Mudah-muahan membawa berkah.”

Tiga topi baja kubawa pulang. Aku harus membawa ke Surabaya. Di kota Pahlawan itu ada kolektor yang khusus menyimpan benda-benda yang ada kaitannya dengan dunia militer. Tiga topi baja kuletakkan di atas almari dekat tempat tidur. Pada malam ketiga setelah tiga topi baja itu di rumahku, pada subuh dini hari aku terbangun dan menjerit-jerit ketakutan.

Malam itu aku mimpi seperti berada di medan perang. Sendiri tanpa senjata, di tengah kota yang baru saja dibumihanguskan. Tiba-tiba ada tentara musuh yang mau membunuhku dengan ujung bayonet. Aku berlari di antara reruntuhan bangunan. Tiba di alun-alun aku lihat dua tentara Belanda sedang menghajar Mbah Kasman habis-habisan. Akhirnya dua tentara itu menembak mati Mbah Kasman. Melihat aku berdiri, mereka berdua lalu mengarahkan moncong bedil ke arahku. Aku lari sambil menjerit-jerit ketakutan. Apa lagi di ujung alun-alun seorang tentara sudah siap menyambutku dengan bayonet terhunus.

Aku terbangun dengan napas terengahengah. Keringat dingin membasahi tengkuk dan tubuh bagian belakang. Tiga topi baja itu tidak cocok ada di rumahku. Mungkin saja pemiliknya mau menuntut balas. Serem!

Esoknya tiga topi baja itu segera kubawa ke rumah Mbah Kasman. Aku tidak sanggup menjualkannya. Menakutkan! Topi baja ini tidak membawa berkah.

Tetapi ketika aku sampai di rumahnya tampak para tetangga sudah berkumpul di situ. ”Ada apa?” tanyaku kaget. ”Mbah Kasman meninggal dunia,” jawab seorang tetangga.

”Kapan?”

”Mungkin subuh tadi. Jenazahnya sudah kaku.”

Aku melongo. Para tetangga terheran-heran melihatku membawa tiga topi baja.❑-c 

Dayu, Jakal, 2016

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Budi Sardjono
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" edisi Minggu, 14 Agustus 2016

0 Response to "Tiga Buah Topi Baja"