Usia Pulang - Doa - Perjalanan Usia - Waktu - Puisi Pagi (1) - Tak Pernah Pergi - Puisi Pagi (2) - Kesunyian Paling Bisu | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Usia Pulang - Doa - Perjalanan Usia - Waktu - Puisi Pagi (1) - Tak Pernah Pergi - Puisi Pagi (2) - Kesunyian Paling Bisu Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:30 Rating: 4,5

Usia Pulang - Doa - Perjalanan Usia - Waktu - Puisi Pagi (1) - Tak Pernah Pergi - Puisi Pagi (2) - Kesunyian Paling Bisu

Usia Pulang

Jika untuk pulang saja
aku harus menunggu tua,
betapa lama penantian,
betapa renta kerinduan.

Omah Mangkat, 2016

Doa

Ketika engkau pergi
menuju kesejatian pulang,
seketika risau dan sepi
padaku beriringan datang.

Tak mungkin bagiku
ikut semayam di pusara.
Terisak di labirin rindu,
kusebut kau dalam doa.

Cawang, 1 April 2016

Perjalanan Usia

Anak-anak tumbuh mendewasa,
Akankah aku hanya tumbuh menua?
Kelak mereka butuh lawan bicara,
Apakah kala itu aku kakek pelupa?

Anak-anak tidak selamanya bayi,
mereka butuh tak hanya dimengerti.
Mereka punya mata, punya hati,
tidak cukup dengan harta diwarisi.

Sampai kapan usiaku ditakdirkan,
sampai batas itulah aku dihadirkan.
Sebagai orang tua, sebagai teman,
sampai batas waktu yang ditentukan.

Tidak baik jika mereka di sini saja,
hangat dipeluk rumah dan keluarga.
Kehidupan itu pengembaraan jiwa,
dan mereka pengelana berikutnya.

Jika tumbuh dewasa ada ujungnya,
jangan sampai hanya menua sia-sia.
Dalam perjalananku menyusuri usia,
Setidaknya harus pernah bijaksana.

Omah Mangkat, 2016

Waktu

Hidup itu soal usia,
mati itu soal waktu.
Demi sebaik-baik usia,
Maka aturlah waktu.

Omah Mangkat, 2016


Puisi Pagi (1)

Pagi di Lereng Lawu,
ialah pagi yang pelik,
bagi seorang salik.

Menghadirkanmu, Dian,
di meja perjamuan,
dengan kecupan dan kopi,
ialah embun ini pagi.

Songgolangit, 2010


Tak Pernah Pergi

Hanya namamu kupanggil,
Cinta dan rindu menggigil.
Engkau adalah jiwa itu sendiri,
engkau bagiku badan ruhani.

Segala yang t’lah kuserahkan,
menjelma sebagai kesunyian.
Darimu aku belajar tentang sepi,
darimu aku belajar menyendiri.

Derita dan bahagia adalah kini,
Terasa sama saja di dalam hati.
Hidup adalah tentang sekarang,
Tetnang datang, tentang pulang.

Engkau t’lah menanam dasar.
Biarlah ini yang kugenggam tegar.
Engkau tak pernah pergi,
selalu hadir dalam wujud suci.

Engkau begitu syahdu,
melukis Merapi-Merbabu,
di luar jangkauku.

Juga ketika air,
gemericik ngalir,
Engkau kembali hadir,
membasuh pagi semilir.

Tak ingin kupulang,
meski pagi t’lah datang,
menjemput sang petualang,
di batas malam jalang.

Biar aku di sini,
hingga habis ini pagi,
meracik untukmu kopi,
wahai jiwa yang sunyi.

Segoro Gunung, 2010

Puisi Pagi (2)

: untuk para tercinta

Menyuapimu, Bima,
di setiap pagiku,
ialah menghitung masa
sebelum pergimu.

Menyapihmu, Manik,
dari ibu yang baik,

Bagiku tiada yang tiba-tiba,
dan bagiku Dia Maha Seketika.
Perjalanan adalah pengasuhan,
dan engkau adalah pengalaman.

Surabaya, 2013


Kesunyian Paling Bisu

Kesedihanku mendalam
tidak bisa membahagiakanmu.

Kerinduanku tenggelam
ke palung kesunyian paling bisu.

Doa-doaku apakah karam
karena harapanmu semakin ragu?

Kekasih, jangan kau diam,
kemarahan pun butuh tanda seru.

Kekasih, jangan kau bungkam,
tidakkah resahku sampai padamu?

Tiada damai selain tenteram,
dan bukankah kita masih setuju?

Kediri, 2015



Candra Malik, penyair dan musikus sufi.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Candra Malik
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Jawa Pos" edisi Minggu, 24 Juli 2016

0 Response to "Usia Pulang - Doa - Perjalanan Usia - Waktu - Puisi Pagi (1) - Tak Pernah Pergi - Puisi Pagi (2) - Kesunyian Paling Bisu"