Wates, Malam Hari - Kopi Lembah - Pantai Glagah - Musim Hujan di Waduk Sermo | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Wates, Malam Hari - Kopi Lembah - Pantai Glagah - Musim Hujan di Waduk Sermo Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:00 Rating: 4,5

Wates, Malam Hari - Kopi Lembah - Pantai Glagah - Musim Hujan di Waduk Sermo

Wates, Malam Hari

Batas akan membuatmu bimbang
Menghimpun ketakpastian di titik ambang
Hari remaja hari tua mengembang di udara malam
Di atas alun-alun utara kota yang temaram

Lihatlah, sepasang kekasih bercinta
Menyandarkan kepala di bahu kasih sayang
Meninggalkan dunia, menanggalkan segala ihwal
Seperti patung, bisu tanpa bahasa
Merangkum perjumpaan hampa berulang-ulang
Di keramaian yang tak saling kenal

Malam tak akan pernah berakhir, berhati-hatilah!
Sebab, malapetaka sewaktu-waktu bisa datang
Justru dari cinta yang paling likat dan kekal

Wates, 2012 

Kopi Lembah

--Mahwi Air Tawar

Pada suatu siang yang basah
Kecipak gerimis di muka sungai terdengar ritmis
Lama rasanya tak datang berkunjung
Aku khawatir pintu rumahmu tertutup
Rumput di latar sudah setinggi mata kaki
Senda gurau telah meninggalkan percakapan
Hanya ada lengang dan sepi

Aku tak menemukanmu
Bahkan pada sisa ampas kopi di ceruk cangkir
Yang tergeletak berserak sejak perbincangan terakhir kita
malam itu.

Mataku menyaksikan semuanya,
Tiba-tiba rindu dan duka bercampur entah kenapa.
Kenangan melahirkan kembali masa lalu
Sebagai aroma kopi dan simfoni hujan yang wangi.

Memang semua orang harus mencari petualangannya
Membangun rumah terpendam di mana-mana
Meninggalkan ibu, air tawar kampung kelahiran
Ke jauh waktu.

Di sini, di sebuah halaman, aku mengenalmu sebagai
Madrusin
Membacamu sebagai cerita pendek dan puisi yang asin

Yogyakarta, 2012-2016 


Pantai Glagah

Di sini, bayang-bayang nenek moyang bersauh
Angin membawanya dari masa lalu yang jauh
Lewat sumbang suara bocah-bocah bernyanyi
Sebagai gelora berbuncah-buncah tanpa henti

Sejatinya, gelombang hanya ada di permukaan
Pemecah ombak membuatnya seakan terselesaikan
Padahal kehidupan laut yang kekal tak pernah ramah
Selamanya akan mencipta kehancuran demi kehancuran
Tak terduga menyeret kematian-kematian tragis
Gemetar lemas rasa takut dan rintih tangis

Pelesir yang murung ini semakin membuatku tercenung
Saksikan hamparan pasir besi di atas pergolakan tanah
merah
Yang tak putus diperebutkan oleh para penguasa sejarah

Di sini, dari tepian yang jauh ini, kucatat desak desik kata-kata
Tentang perahu yang justru dapat dikayuh dengan tenang
di permukaan laguna
Tanpa bahasa kiasan berbunga-bunga
Karena hati diliputi perasaan duka lara

Yogyakarta, 2016 


Musim Hujan di Waduk Sermo

Jejak hujan yang panjang
Jauh di sebuah jalan menuju petang
Jatuh dari pucuk-pucuk pinus untuk dikenang

Kabut membuat udara jadi minus sekian derajat celsius
Ini akan menjadi perjalanan yang sia-sia, pikirku
Tiba-tiba aku teringat Mitos Sisifus karya Albert Camus
Tiba-tiba angin berembus dari rahasia menembus waktu

Bukit dan lembah dirambah gelap gulita langit hari
Setiap melangkah, arah seperti mengajakku kembali
Bersama kesunyian yang dingin dan tak kumengerti
Bergerak dari sebuah awal ke ketiadaan arti

Semestinya tujuan pergi adalah sampai kepada pulang
Tetapi, semesta kerinduan yang diciptakan oleh seseorang
Sebagai rumah dan kehilangan dalam kemalangan
Telah jadi masa lalu yang ditenggelamkan di kedalaman kelam
Perjalanan musim ini benar-benar sia-sia, bukan?

Yogyakarta, 2016 

*)Latiet S Nugraha, Bergiat di Studio Pertunjukan Sastra dan Balai bahasa Yogyakarta. Antologi puisi tunggalnya Menoreh Rumah Terpendam sedang dalam proses terbit.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Latief S Nugraha
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" edisi Minggu, 14 Agustus 2016

0 Response to "Wates, Malam Hari - Kopi Lembah - Pantai Glagah - Musim Hujan di Waduk Sermo"