Zikir Hujan - Sembilan Ribu Hari | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Zikir Hujan - Sembilan Ribu Hari Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:06 Rating: 4,5

Zikir Hujan - Sembilan Ribu Hari

Zikir Hujan

ke kasih, 
segala yang pernah terjatuh ke tanah juga menapak
adalah tiap tetesan hujan yang setia memutihkan
segala cuaca.
sungai-sungai mengalirkan,
dedaunan, darah, dan air mata;
muaralah tempat berlabuh dan mengadu
sepanjang perjalanan
dekaplah segala pengakuanku
sebab, tak ada yang lebih mencintaimu
selain hujan dan tanah.

2016

Sembilan Ribu Hari

Lan, aku tak pernah paham
Tentang kota yang melahirkanmu
Setahuku,
Kau telah mengisi seluruhnya dengan puisi

Alu tak pernah membayangkan,
Apalagi memikirkan jatuh pada mata

Lan, dikelahiran yang kesembilan ribu hari
Aku ingin menanggalkan kegelisahan
Pada dada dan punggungmu

Sebab, doa-doa telah sampai
Juga seluruh cerita telah habis
Untuk usia kita

Aku mencintaimu,
Jadilah pengakrab musim ke musim
Seperti tempat dan kelahiranmu,
Agar cerita terus aku tuliskan

Cianjur, 2013






Arbi Sanit, lahir di Cianjur, Jawa Barat 28 Agustus 1990. Mahasiswa Universitas Suryakancana Cianjur. Menulis puisi dan bergiat di Warung Apresiasi Sastra (WARAS) UNSUR.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Arbi Sanit
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Pikiran Rakyat" Minggu 14 Agustus 2016



0 Response to "Zikir Hujan - Sembilan Ribu Hari"