Aku Kini - Max Hav | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Aku Kini - Max Hav Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 01:09 Rating: 4,5

Aku Kini - Max Hav

Aku Kini

/1/
aku kini debu, menumpuk di kaca mataku
berusaha mengembalikan waktu ke liku-liku jalan
tempat kita berbincang, tentang tumpukan kendaraan
yang telah merenggut kita dari senja

/2/
aku kini nyanyi sunyi seringkali berhenti.
bukan prnama yang menahanku atau segenggam dingin
namun, jarak antara-kita-yang kian mengangkang
dalam dadaku, dalam kuyu mataku.

/3/
aku kini pelaut yang merindukan rumah
sebab tak mampu menahan rasa lapar
kapal-kapal etrus-menerus etrapung, mengantarkan aku
lebih dekat menuju langit, menyeretku menjauh darimu.

/4/
aku kini botol air,. yang malas menampung air.
kemarau panjang tanah-tanah mengering
tiada lagi yang tumbuh, tiada lagi yang berbunga
hanya kesia-siaan, menanti harapan yang tak mungkin pernah sampai

/5/
aku kini jarum jam, yang memilih diam
sementara malam terus berganti,
siang makin gahar menyibak angin dan dingin
aku tak lagi kuasa lari dari apapun dirimu.

Max Hav

pertengahan malam terjadi pembunuhan besar-besaran
tak ada bercak darah, hanya segumpal pikiran
tentang longsor, gagal panen, upeti,
hingga burung yang berak di kepala remaja wanita
tak ada pisau di tubuh para korban
hanya kata yang tak lagi punya tempat di telnga mereka




Gantari Yasa, lahir di Ciasahan, Bogor, 6 Oktober 1992. Menulis dalam berbagai genre. Tulisannya banyak dipublikasikan di berbagai media cetak dan daring. Selain itu, juga kerap menggagas berbagai kegiatan kebudayaan di masyarakat desa.



Rujukan:
[1] Disalin dari karya Gantari Yasa
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Pikiran Rakyat" edisi Minggu 11 September 2016

0 Response to "Aku Kini - Max Hav"