Ayah | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Ayah Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 14:06 Rating: 4,5

Ayah

"AKU ingin pergi mengembara. Mencari ayahku."

"Heh? Mau kau cari di mana?"

"Di mana saja. Sampai ketemu."

"Kalau tidak ketemu?"

"Setidaknya aku sudah mencari."

Ketika sedang berada di kedai tuak Nyai Sekar, Gunadi mengutarakan keinginannya mencari sang ayah yang telah sekian tahun menghilang kepada Saptono, karibnya. Gunadi tidak tega melihat ibunya terlunta-lunta dalam ketidak pastian. Ia harus menemukan ayahnya, bagaimanapun caranya.

Menurut cerita yang beredar, konon ayah Gunadi adalah seorang pemanah. Semula ia hanya pemanah biasa yang berlatih di padepokan milik Joko Landep, mantan pasukan kerajaan paling moncer di zamannya. Berkat latihan keras dan bakat yang dimilikinya, ayah Gunadi direkrut menjadi pasukan kerajaan. Nasib baik membawa ayah Gunadi pada posisi puncak: terpilih sebagai salah satu pasukan khusus pengawal raja, pasuukan pemanah jitu. Mereka harus selalu awas. Sigap melesatkan anak panah setiap kali menangkap gerakan mencurigakan yang dapat membahayakan raja.

Ayah Gunadi lantas menjadi pemanah jitu kesayangan raja karena telah banyak berjasa. Alkisah, ketika raja meninjau daerah perbatasan, rombongan raja tiba-tiba disergap gerombolan perompak. Panah-panah meelesat menyasar iring-iringan raja. Asalnya dari balik gerumbul perdu di bukit-bukit batu. Ayah Gunadi tak sigap menghindar. Sebilah anak panah menancap di lengannya. Dituntun naluri  melindungi, ia segera turun dari kuda dan berlari ke arah kereta raja. Ia raih busur dan beberapa anak panah tak jauh dari tempatnya berlindung. Dan satu persatu anak panah melesat mencari mangsanya. Gerombolan perompak limbung. Mereka kabur. raja selamat.

Lain waktu, raja datang ke alun-alun hendak mengunjungi pasar malam tahunan. Tiba-tiba, seorang dengan pedang menyeruak dari kerummunan hendak menyerang raja. Ayah Gunadi yang bersembunyi di sebuah pohon segera bertindak. Anak panah yang dilesatkan ayah Gunadi telak menembus dada di penyerang. Robohlah ia. Seketika suasana berubah kacau. raja segera diamankan dengan kereta kuda.

Begitulah, perjalanan ayah Gunadi selalu dinaungi dewi keberuntungan. Namun, ketika namanya membumbung tinggi dan pundi-pundi uang mulai menggunung, ayah Gunadi pergi tanpa pesan. Meninggalkan istrinya yang sedang hamil tua. Tanpa uang sepeserpun.

***
SUDAH tiga bulan lima belas hari Gunadi meninggalkan rumah mencari ayahnya. Ia mengembara dari kadipaten ke kadipaten. Saat kehabisan bekal ia memilih bekerja di warung makan demi bisa melanjutkan perjalanan. Kadang ia juga bekerja serabutan, seadanya, apa saja. pernah pula ia harus berpuasa beberapa hari lantaran tak ada pekerjaan.

Gunadi diberi tahu ibunya bahwa sang ayah adalah lelaki berbadan tegap, berbibir sumbing, berambut ikal dan punya bekas luka di pipi kirinya. Berbekal ciri-ciri itu Gunadi bertanya kepada orang-orang yang dirasa dapat memberi informasi. Gunadi nyaris putus asa karena tak kunjung menemukan ayahnya. Ia hampir saja kembali ke kampung halaman sampai seorang lelaki datang kepadanya.

"Aku tahu di mana ayahmu."

"Benarkah?"

"Ayo ikut aku."

Gunadi dan lelaki itu sampai di sebuah gubuk di pinggir hutan. Semula Gunadi merasa canggung dan mencium sesuatu yang tidak beres. Namun ia berusaha tenang, demi dapat bertemu ayahnya.

"Aku bisa membantumu menemukan ayahmu asal kau juga mau membantuku."

"Apa yang harus kulakukan?"

"Bergabung bersama kelompokku merampok rumah lurah desa Progo."

"Gila!"

"Jika tidak mau, pergilah."

Maka, di sanalah Gunadi malam itu, mengenakan cadar hitam, mengendap-endap memasuki halaman rumah lurah Progo. Gunadi merasa malam itu adalah malam paling brutal dalam hidupnya. tak seorang pun di rumah lurah itu yang dibiarkan hidup oleh kelompoknya. Sebelum fajar datang, mereka segera meninggalkan desa bersama hasil rampokan yang tak sedikit.

Malang tak dapat ditolak, ketika kelompok itu mulai merasa aman karena sudah jauh dari Progo, tiba-tiba mereka dihujani puluhan anak panah. Satu persatu dari mereka bertumbangan. Untunglah Gunadi masih sempat bersembunyi di balik pohon. Ia selamat. Lebih tepatnya satu-satunya yang selamat dari penyergapan mematikan itu.

Gunadi gentar juga melihat kawan-kawannya bertumbangan. Jantungnyaa berdegup kencang. Ia lihat lelaki yang mengajaknya merampok tewas dengan anak panah menancap di perut. Gunadi kian putus harapan. Orang yang mungkin bisa memberi tahu di mana ayahnya kini tak bernyawa.

Keringat dingin Gunadi mulai mengucur manakala para penyerang keluar dari persembunnyian untuk memeriksa apakah di antara para perampok masih ada yang hidup. Gunadi hanya bisa berdoa sambil memejam mata. Ia merasakan sesuatu yang dingin menyentuh pelipisnya. Saat matanya terbuka, ia melihat ujung anak panah menempel di pelipisnya. Jika anak panah itu dilepakan maka lepas pula nyawanya.

Namun, alangkah terkejut Gunadi manakala melihat orang yang memegang busur panah di hadapannya. Rambut ikal, bibir sumbing, dan bekas luka di pipi kiri itu membuat Gunadi sesaat terperangah.

"Ayah?!"

Lelaki itu sedikit terkejut namun mencoba tampak tenang.

"Apa maksudmu?"

"Kau pasti pemanah jitu kesayangan raja yanng meninggalkan seorang istri dalam keadaan hamil tua. Apakah aku benar?"

"Dari mana kamu tahu?"

"Aku anakmu!"

"Haha. Bukan, kau bukan anakku!"

"Kau memang bejat! Saat namamu melambung kau justru meninggalkan ibu begitu saja!"

"Ibumu yang bejat! Begitu tahu aku mandul, ia malah mencari laki-laki lain. Aku pergi semata-mata agar tidak melihat seorang anak lahir dari rahim istriku padahal ia bukan anakku! Ibumu tak pernah cerita soal ini, hah?"

Gunadi ternganga. Cerita itu bagai petir di siang bolong. Ia tak tahu harus percaya pada siapa.

"Semua orang menganggap aku biadab. Karena telah menelantarkan istri yang sedang hamil tua. Mereka keliru. Mereka tak pernah tahu sakitnya dikhianati. Pergi sejauh mungkin adalah langkah yang paling mungkin kuambil."

Udara seperti memadat. Dada Gunadi sesak. Sesak sekali. Ia ingin menangis tapi tak bisa.

Rujukan:
[1] Dislain dari karya A Zakky
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" Minggu 18 September 2016


0 Response to "Ayah"