Berjalan di Hutan - Di Forest 18 Restaurant - Di Meja Makan Jaden - Potret Hari Pagi untuk Calem - Para Pemetik Teh | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Berjalan di Hutan - Di Forest 18 Restaurant - Di Meja Makan Jaden - Potret Hari Pagi untuk Calem - Para Pemetik Teh Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:10 Rating: 4,5

Berjalan di Hutan - Di Forest 18 Restaurant - Di Meja Makan Jaden - Potret Hari Pagi untuk Calem - Para Pemetik Teh

Berjalan di Hutan

IKUTI saja anjing ladang itu, ikuti
lembut lumut, hangat tanah, dan
genangan hujan lalu.

Jalani saja jalan berbatas kayu
bertabur batu itu, tandai turus pinus,
semak paku, dan rimbun bambu.

Lewati saja fatamorgana itu,
jembatan tangga naik, terus naik,
menyeberang ke mana kehendak.

(2016)

Di Forest 18 Restaurant

SEPERTI permainan menyusun
kalimat dengan beberapa kata yang
perangai wanginya berbeda-beda.

”Aku adalah kata yang diucapkan
rumpun serai dalam igauannya,”
berkata kata yang pertama.

”Aku adalah kata yang kau dengar
dari bisikan, hijau daun tanaman
benua selatan,” kata kedua
menjelaskan siapa dirinya.

”Aku adalah kata seru yang tajam dari
daun-daun mint itu,” ujar kata ketiga
yang nyaring aroma wanginya.

”Dan aku kata yang berbahaya,
gunakan aku dua tetes saja!”
Eucalyptus berkata. Kami pernah
dulu bertemu. Tapi pasti dia sudah
lupa.

Aku menyusun mereka dengan
sejumlah kata sambung dan
beberapa tanda baca. Menjadi
seperti mantra atau doa.

Aku sebenarnya boleh saja
mengucapkan aku di dalam kalimat
yang kususun dari kata-kata ini tapi
itu akan menjadi bukan permainan
lagi.

(2016)

Di Meja Makan Jaden

KAU mengambil pena besar, artinya
memilih bajak dan tanah, jauh dari
sekolah.

Dari kebunmu, kau petik pucuk teh,
dan sulur waluh putih.

Aku telusuri bebatuan, jalan sinar,
keluar dari kamar berkaca lebar, saat
terang subuh.

Samar.

Dari ladangmu, aku petik tanaman
liar.

Kita makan bersama di meja
melingkar. Piring-piring lauk
berputar.

Dari tawamu, aku ngerti cerita, yang
tak terterjemahkan bahasa.

(2016)

Potret Hari Pagi untuk Calem

KITA dan matahari, melintasi padang
rumput yang sama, menyekitar jalan
melingkar.

Padang rumput dan kita, disentuh
matahari yang sama, sesinar terang
memancar.

Matahari dan padang rumput,
memandang kita yang sama, seperti
sapa, ”Hai, apa kabar?”

(2016)

Para Pemetik Teh

TAJAM tanganmu, tangan
perempuan Alishan.

Memetik embun yang
disembunyikan.

Semalam banyak hujan, hujan
di tanah Alishan.

Memadat harum yang
dirahasiakan.

(2016)

Hasan Aspahani. Lahir pada 197.  1 di Sei Raden, Samboja, Kutai Kartanegara. Bukunya yang terbaru adalah kumpulan puisi Pena Sudah Diangkat, Kertas Sudah Mengering (2016), dan Chairil: Sebuah Biografi (2016).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Hasan Aspahani
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" edisi Minggu 25 September 2016

0 Response to "Berjalan di Hutan - Di Forest 18 Restaurant - Di Meja Makan Jaden - Potret Hari Pagi untuk Calem - Para Pemetik Teh"