Botol Minyak | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Botol Minyak Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 16:56 Rating: 4,5

Botol Minyak

MENDENGAR sepeda mini Andi berbunyi ngiiiik ... ngiiiik ... Ayah langsung berseru, “Ndi, minyaki dulu sepedamu itu!” 

Grek. Sepeda mini Andi terhenti seketika. Namun melihat Ayah masuk ke dalam rumah, Andi segera mengayuhnya lagi. Ngik ....

“Ndi!” Baru satu kayuhan Ayah memanggil lagi, “Diminyaki!”

Grek. Sepeda berhenti lagi. Begitu menoleh, Ayah sudah berdiri di mulut pintu. Andi melompat turun. Disandarkannya sepeda pada pohon mangga di dekatnya. Lalu berlari masuk rumah, mengambil botol minyak di atas mesin jahit.

“Sepeda itu seperti mesin jahit. Kalau tidak rajin-rajin diminyaki akan cepat rusak. Lagipula, kalau diminyaki kan mengayuhnya ringan,” ujar Ayah sembari duduk di depan mesin jahit. Ayah memang penjahit.

“Ya, Yah,” ujar Andi sembari pergi. Di belakang mulai didengarnya suara halus mesin jahit Ayah. 
Di luar, Andi meminyaki bagian sekrup-sekrup sepeda. Prot ... prot ....

“Ndi, yuk pergi sekarang!” Zaenal sudah datang menghampiri. Mereka telah berjanji akan nonton sepak bola di lapangan.

“Ayo,” sahut Andi seketika tanpa menoleh. Ditaruhnya botol minyak dan bergegas melompat ke atas sepeda. Dan satu kayuhan ... pletok! Botol minyak terlindas roda sepeda dan pecah. Minyak tumpah. 

Inilah akibatnya jika terburu-buru. Sekilas Andi melihat ‘bangkai’ botol minyak itu. Lalu mengayuh pedal sepeda lebih cepat lagi untuk mengejar Zaenal yang sudah pergi.

Pulang nonton sepak bola, Andi melihat Ayah berdiri di mulut pintu. “Sepedamu tidak berbunyi ngik-ngik lagi. Tapi botol minyaknya kenapa dipecahkan?” tegurnya seketika.

Grek. Andi menyandarkan sepeda di bibir serambi. Ia melompat turun sambil berkata, “Terlindas sepeda. Tapi sungguh, Andi tidak sengaja.”

“Sengaja tidak sengaja kamu harus bertanggung jawab,” kata Ayah sambil berbalik masuk. Andi tegak di tempat sesaat, lalu garuk-garuk kepala. Bingung.

Keesokan harinya Ayah menagih, “Mana botol minyaknya, Ndi?”

“Ayah pelit amat, sih?” komentar Andi.

“Pelit?”

“Beli saja sebotol minyak,” tukas Andi.

“Harganya mahal, Ndi. Apalagi di masa krismon begini. Mendingan bikin saja sendiri, minyak tanah dicampur minyak goreng. Cuma ... mana botolnya, Ndi?” desak Ayah.

Huh, pelit, dumel Andi dalam hati. Lalu duduk di pinggir serambi dengan menyentak. Akibatnya pantatnya sakit. Plop ... tapi kemudian ia malah memukul pantat itu dan bukannya mengelus. Hihihi ... akhirnya ia tersenyum sendiri. Kemudian termangu-mangu seperti mencari ide ....

“PR matematika sudah kamu kerjakan?” mendadak Zaenal datang membawa buku dan bolpoin. Andi menggeleng. “Kita kerjakan bersama ya?” lanjut Zaenal dan duduk di serambi. 

Andi mengangguk. Ia masuk ke dalam rumah, lalu keluar lagi membawa buku dan bolpoin. Begitu mulai menulis, bolpoin Andi macet. Cepat ia buka bolpoin itu. Ternyata isinya habis. Sesaat ia menimang-nimang isi bolpoin. Tiba-tiba, ia menjentik ibu jari tangannya ... thek! Ia tersenyum.

“Ada apa?” tanya Zaenal tak jadi menulis.

“Dapat ide. Aku harus ganti botol minyak Ayah yang pecah,” jelas Andi.

Zaenal angkat bahu, tak mengerti. Tak lama kemudian, mereka selesai membuat PR. Andi segera mewujudkan idenya.

Botol handbody bekas milik Ibu, ia lubangi tutupnya dengan ujung gunting kecil. Ujung gunting itu ia putar hati-hati agar tutup botol tidak pecah. Ujung isi bolpoin yang telah kosong, ia gunting. Lalu dimasukkan ke tutup botol yang telah dilubangi. Hemmm jadi kan? Inilah botol minyak paling cantik dan unik di dunia, gumam Andi dalam hati. Minyak tanah dan minyak goreng ia tuang ke dalam botol cantik itu. Takarannya satu banding satu. Dikocok-kocok sesaat dan ....

“Yah, ini botol minyaknya, lengkap dengan isinya,” Andi menemui Ayah yang sedang menjahit.

Ayah menoleh, “Bagus. Terima kasih.” Ayah menghentikan pekerjaannya. Cepat ia minyaki mesin jahit kesayangannya.

“Enak dipakainya, Ndi. Ini namanya botol minyak berantena panjang,” ujar Ayah tersenyum. Andi turut tersenyum.

Begitu Ayah selesai meminyaki mesin jahitnya, Andi membawa keluar botol minyak itu. Ia meminyaki sepeda mininya. Prot ... prot ... memang enak dipakainya.

Sejak itu Andi tak pernah malas lagi meminyaki sepeda mini dengan botol minyak buatan sendiri. Sehingga sepedanya tak pernah lagi berbunyi ngik ... ngik .... ***

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Wahyu Noor S.
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Majalah Bobo" nomor 50 Tahun XXVII 16 Maret 2000

0 Response to "Botol Minyak"