Burung Nazar | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Burung Nazar Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 01:33 Rating: 4,5

Burung Nazar

Siang yang garang itu telah memecahkan tandus. Membelah kening bumi. Mengusir air sembunyikan diri, takut direnggut keperawanannya. Seekor burung Nazar mendaratkan nasib, jatuh di pelukan hasrat terik nan gersang. Bulu-bulunya berguguran satu demi satu, kini tinggal beberapa helai membungkus raganya.

Suara-suara malang berlari-lari bersama angin. Berteriak, menangis, menjerit juga melirik daun-daun beri tumpangan. 

Mata lelah, raut marut cemberut dahaga membentur pahala. Akan jiwa yang berkhusyuk dan akan larik sabda menjelma. Di manakah Tuhanku?

Ke timur ku berlabuh dengan sebelah layar

Ke barat ku terbang dengan sehelai sayap

Ke utara ku daki dengan sebilah harap, 

Hingga ke Timur ku turun serupa lembah, menampung misteri kelam yang tak seorang pun tau. Aku adalah Burung Nazar yang melarat dan nyasar di halaman sendiri.

Aku tak mengenal rumahku lagi, karena sebelumnya aku berumah cinta, namun sekarang rumahku adalah sarang penyamun. Rumah yang pernah menulis sejarah kemenangan ayahku dalam medan tempur, rumah tempat kami bermain tebak-tebak angka, kini adalah tempat para tikus menghitung angka. Mereka menggali lobang pada setiap sudut untuk menyembunyikan makanan yang dicuri dari sawah-sawah para petani.

Nafas yang mengalir tersendat ini, menambah luka di pundakku seakan tak sanggup lagi untuk terbang. Langkah mulai tertatih-tatih. Paruh yang sebelumnya runcing, kini sudah tumpul. Waktu ini semakin buas. Memanah maut dan nyaris tertancap di jiwaku. Aku hanya meratap bersama pohon-pohon yang kian rebah. Daun-daunnya sudah lama bercerai. Tinggalkan ranting-ranting menjandakan diri. Kulit wajahnya terkelupas. Rambutnya memutih dan mulai rontok perlahan. 

Dulunya adalah lingkungan yang romantis bersama hijau tetumbuhan menghiasi panorama, bermahkota bunga-bunga ketulusan, kejujuran dan kesetiaannya, membuat lingkungan sekitar tampak cantik dan anggun. Namun, kini tinggal reruntuhan seperti ;"Qumran".

Berhari-hari, hingga bermingu-bulan pun belum ada dewa yang turun menyambung nyawa ini. 

Di suatu jumat, ketika purnama mati dalam cahayanya nan merah,ku saksikan suatu pertemuan antara api dan panas. Mereka merancang sebuah bara untuk membakar kami. Pikiranku mengoceh benak, mungkin juga sebuah mimpi buruk. Ilusi kerdil di tebing mata yang tak sanggup menatap penderitaan ini. Mungkin juga sebuah deklamasi kehidupan yang sudah bosan kualami sebagai Burung Nazar. 

 "Ahh..tak mungkin. Itu mimpi".

Kemelaratan ini semakin jauh. Hampir tiba di ujung duka. Ragaku sudah layu, tinggal selembar kulit tipis membalut tulang ini. Burung-burung senasib, banyak yang sudah jadi bangkai. Yang lainnya berjuang untuk menyambung nyawa dengan menjilat bangkai serta meremuk tulang-tulang sanak untuk di makan, demi mengisi tagihan dan membayar hutang sehari. Dan akhirnya habis juga. Tinggal seekor yang bertahan sebagai yang terakhir dari mereka. 

Dari cela tandus, aku hanya merenung. Mempertemukan iman dan harap dalam sebuah tanya "mengapa aku tercipta sebagai Burung Nazar, yang hanya mengantungkan nasib pada remah-remah sisah jilatan anjing-anjing liar? Mengapa duniaku begitu sempit serupa bulu kudukku? Mengapa aku harus mengasinkan diri di rumahku sendiri?" 

Rinai senduh jatuh menyeka bibir kusam ini. Duka yang tak mampu ku lukiskan lagi, seakan tinggal pasrah menyembah waktu. Kapan tiba giliranku.

Pada suatu senja ketika dunia tampak sunyi. Kebisingan tak ada lagi. Di bawah pohon nisan bertuliskan kematian, ku amati seekor burung yang sisah itu. Ia menikan sekujur tubuh untuk minum dari darahnya. Perjuangan melawan maut itu sungguh mengerikan. Hingga suatu titik ia pun memilih untuk menyerah. Harapan pun setipis desir angin. Ia menatapku dengan syair duka. Sedih tampak jatuh di matanya. Dan hanya setetes saja. Tak lebih. Karena tak ada lagi cairan yang berlinang dalam tubuhnya. 

Tak seperti sebelumnya, kuhanya menatap dari jauh. Merenung di kejauhan.  Iba ini  mendalam memaksaku tuk mendekat. Memberi harapan bagi yang tersisa dan membawanya keluar dari maut.
Apa yang segera kuperbuat?

Terlintas hiruk-pikuk mengacokan pikiran pada jalan yang sudah buntu. Sebab ternyata yang tersisa itu adalah adikku sendiri, yang lama kutinggalkan. Peritiwa tragis yang sudah menghuni lembaran memoriku itu ternyata adalah keluargaku sendiri. 

"Ahh Tuhan..kutukan apa yang telah Enkau jatuhkan untuk menimpaku ini?"

Derita ini semakin gersang.

Saat tangisan ini tak mampu membayar penderitaan itu. Saat air mata ini tak serupa kasih tuk obati kerinduan ini; luka, duka pun sudah di mata. Mungkin karena Aku terlalu jauh terbang hingga melupa akar dan tak lagi mengenal sarang. 

Dalam pelukan yang lara aku pasrah dalam sedih. Aku rela digiring duka ini demi tebusan dosaku. 
Hampir tiba musim hujan, tapi daya ini tinggal sebulir nafas. Entah aku atau adikku atau juga kami. Ajal yang akan kami lawati menyusul keluarga yang lainnya. Akhirnya di ujung cerita aku memilih mati dengan memberi diri bagi hidupnya.



Rujukan:
[1] Disalin dari karya Jefry Seran Tahuk

0 Response to "Burung Nazar"