Cuaca - Kartograf - Lepas Kerja | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Cuaca - Kartograf - Lepas Kerja Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:16 Rating: 4,5

Cuaca - Kartograf - Lepas Kerja

Cuaca

/1/
di pendopo tak ada sandal berserakan, di pelataran rumput tak tumbuh barang sebatang. debu begitu rapi menyusun undakan dari sentong hingga pringgitan.

/2/
mendung menata diri serupa jari-jari di kelambu, memangkasi ranting-ranting cahaya. udara yang tersisa bertiup dari ciut mulut, memites sinar sumbu terakhir, ekornya lesat berkelebat di matamu. setelah itu hanya gemuruh. langit luruh. bumi lepuh. menghujan, peluh. selebihnya genangan hitam. rambutmu. rambutku. menata mendung yang lain.

/3/
dingin salju ataukah rapuh abu, di tebing pukas kesemekmu, bimbang kupinang, hasratku tumbuh hasutan: hujan dan sayatan.

(2016)

Kartograf

sehampar pulau, susut, sepetak taman, susut, sebongkah monumen, susut, kenangan, susut, noktah yang berdenyut, susut, pondasi tumpukan batu karang, susut, tinggalan laut yang bertahun-tahun lamanya surut.

garam yang mengeras – keringat – bagai jimat penolak belukar akar. bahkan lumut emoh nyelimut, memberi ruang garang bagi matahari juga bulan, lengan kegersangan pengambil-alih langgam perkotaan.

dinding-dinding pengap, asap merayap susupi gegantungan jemuran: kerpus, kutang, kancut, kasut, kau, kau, kau: cacah jiwa di kediaman.

lampu perbanyak kota, tutupi sisi gelapnya. sungai-sungai tidur, memeluk jalan, hidupi mimpi – orang-orang ngamuk, jebol tembok dan jembatan – perkutut liar memanggil sarang yang hilang.

sebagai peziarah, pemanggul rindu dan duka lara, kau pancurkan hujan dari kendi-kendi tubuh: kencing dan ludah nir air mata dan peluh lama 'lah terseka dan kau nyanyikan lagu tolak bala meski akhirnya hanya liang kegelapan: petarangan benih harapan.

(2016)

Lepas Kerja

/1/
jalan-jalan riuh
dalam lumpuh
bayang-bayang memanjang
sebuah kota kelabu tanpa daya
dalam gerutu

/2/
bersenandung dalam kepalaku
perempuan tua dengan ukulelenya
menundukkan deru jalanan di mataku
sore merenangi kulitku
memutar angin dari utara ke selatan
menerobos telingaku
kota menyusut ke dalam kayu
meja di depanku nafasmu
membelokkan uap minuman
ke arah ulu-hatiku
sebuah tumbukan memecah
dua bentuk benda
tanpa mencipta suara
hanya gelombang tipis
menggetarkan bulu-bulu mata
yang ditumbuhi mendung
gelap sejak lama

(2016)



F. Aziz Manna. Lahir di Sidoarjo, Jawa Timur, 8 Desember 1978. Buku kumpulan puisinya antara lain Siti Surabaya (2014) dan Playon (2015).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya F. Aziz Manna
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" edisi Minggu 25 September 2016

0 Response to "Cuaca - Kartograf - Lepas Kerja "