Di Bawah Gerhana Matahari - Pedih yang Sama - Ke Menara Suar Cimiring | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Di Bawah Gerhana Matahari - Pedih yang Sama - Ke Menara Suar Cimiring Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 04:00 Rating: 4,5

Di Bawah Gerhana Matahari - Pedih yang Sama - Ke Menara Suar Cimiring

Di Bawah Gerhana Matahari

Kota Padang dengan pagi yang terasa lebih panjang
udara selalu terasa panas
sisa kantuk menggantung di beranda rumah
langit setengah mendung
dan sunyi membelukar!

di bawah gerhana matahari, di tunggul hitam
pusara ibu dan nenekku

kubaca puisi paling indah—

ya Allah berilah kenyamanan dan kebahagiaan abadi
untuk ibuku, untuk nenekku
ya ibuku, ya nenekku, aku hanya punya puisi
hanya punya puisi!

Padang, 9 Maret 2016

Pedih yang Sama 

Aku tak ‘kan berbagi pedih ini!
“karena kita memiliki pedih yang sama
hanya saja
pedihku telah membekukan darah jiwa
hingga tak ingat lagi apa-apa,” desismu
(aku melihatmu jatuh cinta pada bunga sepatu
di pinggir jalan, sorot matamu berlinang-linang)
tubuhmu menjelma lilin
aku terpukau pada lelehnya
aku ingin meleburkan diri dan jiwa
agar seluruh puisiku menyatu dalam nyalamu.

Cilacap, 29 Januari 2016

Ke Menara Suar Cimiring

Chin, esok pagi aku hendak ke menara suar cimiring 
kau bisa ikut apa tidak? 
aku hendak survei dengan seorang sutradara 
untuk pembuatan film pendek durasi dua puluh menit 
film tentang keselamatan pelayaran 
bisa jadi kisah tentang penjaga menara mercusuar 
atau kehidupan keluarga penjaga menara suar 
andai kau bisa ikut mungkin nantinya bisa jadi 
pemeran wanitanya 
aku pemeran prianya 
kita hidup di pulau terpencil jauh dari keramaian 
orang 
jauh dari hiruk pikuk pasar dan panas kota 
sesekali, kita bercinta di bawah rembulan 
persis di bawah menara mercusuar!

aku lambungkan anganmu, tentang seliuk hidup 
yang liat 
kubelah Selat Nusakambangan, perahu meluncur; 
angin laut menerpa 
di karang tengah kutemui kuda beban, rimba 
belantara kuteruka 
berpuluh-puluh kali berhenti 
mengatur napas dan kaki yang kejang 
di pintu gerbang menara mercusuar cimiring 
matahari pecah 
: hidup sesekali harus berpeluh-peluh!

di bawah matahari nusakambangan suara ayam 
hutan berkuok 
kalajengking melintang di jalan setapak 
keringat menderas di pendakian terakhir 
di kejauhan sayup gemuruh ombak 
selintas rasa takut melayang ke senyap rimba 
batu rindu kian mengeras dan basah! 

Cilacap, 19 Januari 2016

Eddy Pranata PNP, lahir pada 31 Agustus 1963 di Padang Panjang, Sumatra Barat. Buku antologi puisi tunggalnya ialah Improvisasi Sunyi (1997), Sajak-sajak Perih Berhamburan di Udara (2012), Bila Jasadku Kaumasukkan ke Liang Kubur (2015), dan Ombak Menjilat Rucing Karang (2016).


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Eddy Pranata PNP
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" Minggu, 25 September 201

0 Response to "Di Bawah Gerhana Matahari - Pedih yang Sama - Ke Menara Suar Cimiring"