Di Way Kiri - Di Hadapan Kedai Nasi - Belakang Pintu - Di Mandi Angin | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Di Way Kiri - Di Hadapan Kedai Nasi - Belakang Pintu - Di Mandi Angin Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:31 Rating: 4,5

Di Way Kiri - Di Hadapan Kedai Nasi - Belakang Pintu - Di Mandi Angin

Di Way Kiri

Di Way Kiri, seekor bawal terapung
membentur pinggang sampan
membentur sebatang betung terapung

air hitam naik
menampilkan bayangan burung-burung
sementara musim migrasi sudah beralih lain
sementara tahun telah membikin cangkang-cangkang
telur kosong

dan di Way Kiri
deretan batang ketapang mengusir hari tua.

Tapi di sini, kita bersampan
seperti orang dulu terkurung dalam masa lalu
takut air hitam akan terus naik
menggenangi sawah
mencapai pangkal tiang rumah
bikin tulah pada tanah.

Di Way kiri, seekor kuntul terbidik bedil
dan mati tercebur
seorang perempuan muda peranakan utara
terjatuh dari atas sampan
mengumpat berkali-kali tentang kesialan mencelakai burung
sementara air hitam terus naik
sementara ketakutan akan ikut terbidik

dan di Way Kiri
hari-hari adalah tambalan lubang pada sampan.

Rumah-rumah berdiri dengan tiang tinggi
seorang bermuka tua, barangkali tidak umurnya, berkisah
tentang perpindahan demi perpindahan manusia
dusun yang kehilangan pengharapan demi pengharapan
atap rumah yang ketirisan
orang-orang yang terus berangkat
mengangkut berkarung-karung mimpi
dan tidak kembali, tidak akan pernah kembali.

Rumah-rumah yang menanti
masa lalu terbentur kusen dan jendela tua
masa depan terbawa hanyut bersama sisa ketam di air hitam
dibawa arus dan membenam di muara penghabisan.

Tapi di sini, kita terus bersampan
terus bersabar menghadapi kabar yang itu-itu juga
berita yang seperti itu-itu saja.

2016

Di Hadapan Kedai Nasi

Di Hadapan Kedai Nasi
kota sudah demam 36° C
harum dendeng bakar, rendang setengah jadi, daun asam disangai
di atas pagu, dan potongan koran berisi sajak seorang penyair tua
tentang kangen pada masa muda: ketipak kaki kuda, angin pulau seberang
mengirim gumpalan garam, harum rempah dari gudang-gudang tepi muara
suara lintasan kereta bara...

Telah aku tolak dan aku tinggalkan haru begini
tapi jalur-jalur kota ini seakan dibangun dari satu kematian
menuju kematian lainnya.

Kedai-kedai sudah didirikan tinggi
patung orang menggalah awan bergumpal, patung kuda rebah
dan patung segala buah ditegakkan di tiap sudut
dengan neon mengelilingi.

Di hadapan kedai nasi ini
kota sudah demam 36° C
kita ternyata punya kangen yang pekat
pada hari-hari baik
sebelum kota ini pandai berkhianat.

2016

Belakang Pintu

Ke paku belakang pintu
telah aku gantungkan kain ragi sirah belum selesai itu
sebelum udara buruk
membikin kubangan
membikin lubang
atau lubuk dengan air berpusar hitam dalam matamu.

Dan aku biarkan pintu membuka dalam malam
kubiarkan angin sedikit itu
mengirim bergantang-gantang kabut asap ke dalam kamar
menghempas-hempas pintu
membuat kain belum selesai itu mengibarkan mimpi buruk

dan derik patahan ranting terbakar
kuda-kuda berlari dengan tempurung kaki hangus
lenguh napas terakhir sebelum sampai ke muara.

Ke paku belakang pintu
aku gantungkan apa yang patut aku gantungkan
aku kembalikan apa yang seharusnya aku kembalikan

bayangan gajah mini dari rotan
patahan sepeda plastik roda tiga
kibaran baju terjepit daun jendela.

Kita selalu punya malam penuh batuk
dingin malaria
hari-hari disulam dari mala.

2016

Di Mandi Angin

Kita mungkin sedang bergerak ke masa lalu
seperti kota dengan suara diredam ini
jam gadang menggantung dengan lonceng berhenti berdentang
orang-orang berlari mundur
menembus dinding ruko, pintu surau, meja rumah makan
kursi kedai kopi, menembus setiap benda di hadapan mereka
dan menghisap suara
meminggirkan kata-kata.

Sebuah kota dengan jalanan terus susut
rel kereta setengah abad dihimpit rumah-rumah bertingkat
pasar menjual segala obat cara memandirkan diri
lereng dengan tanah runtuh tiap sebentar
dan di sini, di tiap lima menit, kesepian berderit.

Kita mungkin benar sedang bergerak ke masa lalu
seperti kota di ketinggian
di mana dingin seakan dibuat beku
kota di mana kepergian adalah pintu menuju pulang
dan pulang adalah cara lain menuju hilang.

Di sini, masa lalu, seakan hari baru
kita akan terus dimandikan angin dimandikan dingin
serasa terus ingin: ke yang dulu, ke yang seperti itu...

2016



Esha Tegar Putra lahir di Solok, Sumatera Barat, 29 April 1985. Buku puisi terbarunya Dalam Lipatan Kain (2015).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Esha Tegar Putra
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" edisi Sabtu 11 September 2016

0 Response to "Di Way Kiri - Di Hadapan Kedai Nasi - Belakang Pintu - Di Mandi Angin"