Istanggo | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Istanggo Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 23:52 Rating: 4,5

Istanggo

SEORANG wanita duduk sendirian di sebuah kafe cukup ternama. Seperti mayoritas masyarakat sekarang, tangannya tak lepas dari smartphone. Sesekali ia melihat ke sekitarnya, ke sela-sela orang yang keluar masuk pintu kafe, Ia terlihat menunggu seseorang.

"Lama, ya," ketik wanita itu di smartphone-nya.

Tak lama datang belasand ari seseorang.

"Lama apanya? Aku udah di dalam."

Wanita itu merengut. Tidak lama orang yang ia tunggu terlihat memasuki kafe. Entah kenapa malam itu Ista baru menyadari waktu sudah berlalu begitu saja.

Entah sejak kapan Anggo jadi terlihat begitu dewasa. Ia terlihat begitu gagah dalam balutan celana kain dan kemeja. Dulu ketika ia memakai celana kain dan kemeja, selalu terlihat cupu. Tapi malam ini, mata Ista menangkap perubahan yang harusnya ia sadari sejak dulu.

"Aku kira masih di jalan. Aku nunggu di luar tadi," kata Anggo.

"Ngapain nunggu di luar? Masuk aja."

"Biar masuknya bareng."

Ista memasang muka. Seorang pelayan datang dan seperti biasa Anggo selalu memesan sama dengan apapun yang Ista pesan. Apapun tinggal kalikan dua saja.

"Gimana operasi pertama?" tanya Ista.

"Ya, biasalah, Ta. Simpel."

"Emang kamu enggak ngeri?"

"Biasa saja. Ya, masa dokter ngeri lihat pasiennya."

Kalau Ista mendengar cerita-cerita Anggo waktu mereka masih kelas dua SMP, pasti sudah memaki-maki dalam hati. Bicara Anggo selalu menyelipkan kata-kata membanggakan dirinya, sok banget. Tapi karena Ista mendengar hal itu sekarang, ia sudah mengerti, Anggo pasti mengalami waktu yang sulit. Dulu Ista menganggap Anggo orang yang sok, tapi lambat-laun setelah hampir 17 tahun pertemanan mereka, Ista tahu Anggo berusaha merasa tidak kecil hati setiap nyaris gagal, atau malah sama sekali gagal dalam suatu hal dengan memuji dirinya sendiri di depan orang lain. Dan dalam kasus 17 tahun belakangan seringnya ia memuji diri sendiri di depan Ista.

Anggo melanjutkan ceritanya panjang lebar mengenai operasi pertamanya. Ista seperti biasa mendengarkan dengan baik, dan menceletukkan pertanyaan yang membuat cerita Anggo jadi bertambah panjang. Tapi malam itu, Ista tidak 100 persen mendengarkan cerita Anggo. Ada yang tiba-tiba baru ia sadari. Betapa waktu sudah berlalu lama sekali sejak pertama kali ia kenal cowok aneh di hadapannya itu. Semua teman Anggo teman Ista, dan semua teman Ista juga teman Anggo. Mereka semua selalu membuat lelucon tentang  Anggo dan Ista, yang oleh keduanya hanya ditanggapi seadanya. Dipasang-pasangkan tapi hanya untuk bahan candaan.

Tapi selama 17 tahun itu, Ista jarang sekali mengajak bicara Anggo ketika mereka sedang bersama teman-teman mereka. Anggo juga hanya menyapa Ista jika ada yang melihat mereka. Dan sampai sekarang tidak ada yang tahu mereka berdua sebegutu dekatnya. Inilah yang selalu aneh. Keanehannya beberapa tingkat di atas friendzone atau kakak adik zone. Mereka tidak cukup dekat sampai dibilang bersahabat. Ista geli sendiri kalau dibilang bersahabat dengan Anggo. Dan Anggo selalu bergidik ketika Ista disebut sebagai cewek yang sedang dekat dengannya. Itulah 17 tahun masa mereka saling kenal.

Malam itu ada angin yang berbeda berhembus di antara keduanya. Anggo memandang Ista lewat kacamata berbeda. Selama 17 tahun belakangan ia selalu mengeluh tidak pernah dekat satu cewek pun. Ia tidak pernah sampai pada tahap pacaran dengan cewek manapun. Tapi malam itu ia memandang Ista yang duduk berhadapan dengannya. Memandanginya. Ia duduk di satu meja dengan seorang gadis, sebegitu dekatnya, dan dalam 17 tahun belakangan hal inilah yang ada. Ista tidak pernah terlihat sebegitu feminim. Bahkan ketika ia memakai dress, Ista tidak pernah terlihat sebegitu menarik seperti malam ini. Emtah kenapa imej Ista yang tidak pernah pantas menyandang status sebagai seorang cewek dan cantik, hilang kecantikannya ketika mengenalnya, tiba-tiba luntur menjadi Ista yang cantik apa adanya. Dalam balutan mini dress dan rambut diikat rendah ia terlihat begitu tak tersentuh.

Apa Ista yang ada ketika Anggo pertama kali jatuh cinta? Kenapa ia tidak pernah jatuh cinta pada Ista? Tunggu. Siapa yang memberi label Ista sebagai cewek yang tidak pernah pantas menyandang status sebagai seorang cewek dan cewek yang cantik tapi hilang kecantikannya ketika kamu mengenalnya?

"O, iya. Minggu depan ada reuni SMP, datang, nggak?" tanya Ista.

"Lihat, entar deh."

"Iya, tahu, deh, Yang sibuk sekarang," canda Ista sambil menyantap hidangan yang mereka pesan.

"Kalau kamu datang, dih, aku datang, Ta."

"Benar, ya, temenin. Awas sampai ninggalin."

"Kapan, sih. Aku pernah ninggalin kamu?"

Ista berhenti menyuapkan hidangan ke mulut Anggo. Entah apa yang salah malam ini. Anggo sering mengatakan hal itu, tapi malam ini Anggo aneh dan tidak bisa diandalkan mengatakan sesuatu yang membuat Ista merasa nyaman. Apa jas dokter membuat wibawanya naik atau ada yang salah dengan celana kain itu? Kenapa terlihat begitu gagah membalut Anggo malam itu?

Selama 17 tahun belakangan, Anggo cowok aneh. Tapi kenapa Ista tetap bertahan? Apa 'aneh' di mata teman-teman Ista adalah 'aneh' yang sama di mata Ista?

Malam semakin larut ketika sebuah lagi mengalun dari live music di restoran itu. Anggo dan Ista terdiam.

"O, ya. Aku lusa berangkat ke Aussie. Doain semoga betah sama kerjaan di sana, ya," kata Ista. Entah kenapa seperti ada yang tercekat di tenggorokannya.

"Kamu tahu, kan. Hidungmu nggak semancung bule di sana. Jadi, jangan sok jadi bule, ya."

"Sialan!"

Keduanya terdiam menikmati lagu. Apa yang sama-sama mereka lewati 17 tahun ini, semua terputar kembali dalam memori keduanya. Apa yang menahan mereka selama itu. Dan kenapa tidak ada setitik pun perasaan, barang sebentar saja, perasaan yang lebih. Kenapa malam itu Ista baru mempertanyakan, seaneh apakah diri Anggo. Kenapa ia tetap betah selama 17 tahun ini. Inilah makhluk yang selama 17 tahun ini jadi kartu as. Ista melawan dunia ketika semua orang meragukannya. Bahkan ketika ia ragu pada dirinya sendiri.

"Sudah malam, kamu perlu istirahat habis operasi pertamamu."

"Benar juga," kata Anggo lalu keduanya berdiri.

"Aku yang bayar, ya."

"Iih, apaan, sih. Mahal ni."

"Alaah, berapas, sih, katanya. Masih selalu sama. Datar.

Ista diam menatap lampu kafe yang redup dan membiarkan Anggo memaksa membayar semua makanan yang mereka pesan di kafe itu.

❑ Yogyakarta, 2016

Yusri Ilza Sani. Lahir di Yogyakarta, 30 Desember 1996. Mahasiswi Teknik Informatika UPN Yogyakarta.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Yusri Ilza Sani
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" edisi 11 September 2016


0 Response to "Istanggo"