Kontes Novel | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kontes Novel Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 12:34 Rating: 4,5

Kontes Novel

MATAKU terus terpaku pada sebuah artikel yang dipajang di mading yang menampilkan foto seorang perempuan berambut lurus ebahu berwarna cokelat, memamerkan penghargaannyaa. Piala, sertifikat, dan uang tunai sebagai hadiahnya nampak berkilauan.

"Lihat, aku menang lagi, kan?" Sebuah suara berhasil membuatku menoleh. Mendapati sosok yang sedang kuperhatikan dalam mading. Perempuan itu muncul dengan wajah angkuhnya seperti biasa.

Perempuan itu tertawa. "Tak usah memandangku seperti itu, pecundang," katanya. Ia tersenyum sinis sebelum pergi meninggalkanku. 

Kata-katanya jelas membuatku merasa kesal. "Pokoknya aku akan mengalahkanmu," bisikku.

***
"NYRA!" Aku mendengar seseorang memanggil namaku.

Sontak aku menoleh. Sesosok wanita berkerudung hitam dan gamis berwarna putih bermotif bunga-bunga melangkah ke arahku.

"Maaf, Anda siapa?" tanyaku. Aku benar-benar tidka mengenali sosok cantik itu.

"Ah, saya Tiara. Saya teman kerja Ibumu, sekaligus adik kelasnya.," jawabnya.

"Ada perlu apa, ya?"

"Saya mau bicara sebentar. Kita duduk dulu yuk, di kafe situ."

Wanita itu menarikku menuju kafe terdekat. Aku memesan jus jeruk dan Kak Tiara memesan kopi. Setelah pesanan datang, kami memilih bangku di luar kafe sambil meneguk pesanan kami.

"Kontes novel yang diadakan bulan ini pemenangnya Yuari Pramesti lagi, ya?" tanya Kak Tiara.

"Iya," jawabku. "Kenapa Anda bisa tahu?" tanyaku heran.

"Yah, itu kontes bergengsi untuk para penggemar novel. Begini-begini saya juga penggemar novel," jawab Kak Tiara sambil tersenyum. " Tapi.... jujur saja, bagi saya penceritaan si Yuari Pramesti ini membosankan," lanjutnya.

Aku terkejut ada yang berkata seperti itu untuk karya Yua.

"Kenapa Anda bisa berpikir begitu?" tanyaku penasaran. "Saya pikir ceritanya itu tidak akan bisa dikalahkan, lho."

Kak Tiara teratwa, "Kamu terlalu berlebihan, Nyra. Bukannya membosankan, sih. Apa ya? Lebih tepatnya idenya."

"Ide?" sahutku seraya meneguk jus jerukku.

"Kak Tiara mengangguk. "Kamu sadar tidak, sih? Idenya itu selalu mengambil konsep tokoh utama yang memiliki latar belakang broken home. Awalnya tokoh utama adalah seorang yang sangat ceria dan hampir tidak terlihat sedih di sekolah. Namun, begitu di rumah, karakternya berubah jadi menyedihkan. Dia selalu seperti itu, kan?"

"Hehehe..... saya tidka tahu. Saya baru membaca novelnya yang menang bulan ini. Karena masih meras akecewa bulan-bulan kemarin, saya tidak sudi membaca karyanya," sahutku.

Aku mulai menceritakan semuanya. Selama bercerita, aku baru sadar bahwa aku mengikuti kontes novel baru tahun ini. Itu pun karena ibuku menyarankan. Beliau sudah tahu kalau aku tertarik dunia tulis-menulis. Di bulan pertama, aku sudah dikalahkan Yuari. Awal dikalahkan, aku tidak sedepresi ini. Aku yakin, kontes bulan depannya aku menang. Namun, hingga bulan kelima, aku tetap semakin kesal dengan kekalahanku. Namun, aku tidak merasa usahaku sia-sia. Aku hanya kesal dikalahkan seseorang yang angkuh karena lima bulan berturut-turut menang kontes. Aku tidak sudi dikalahkan orang seperti itu.

Kak Tiara hanya mengangguk dan sesekali menyeruput kopinya sembari mendengarkan ceritaku.

"Maaf, saya boleh lihat naskahmu?" pinta Kak Tiara.

Aku mengeluarkan flashdisk berisi naskahku. Kak Tiara membuka notebook/

"Terus terang, ceritamu lebih baik daripada Yuari itu," komentarnya.

"Eh?! Benarkah?" tanyaku sedikit tak percaya.

"Benar, kok. Idenya bagus dan tidak mainstreem. Gaya penceritaannya juga bagus. Tapi, sepertinya penggunaan kosakatanya perlu ditingkatkan. Banyak kata-kata dari ceritamu yang diulang, bahkan dalam satu kalimat. Mungkin faktor ini yang menyebabkan kamu kalah. Sisanya sudah bagus, kok. Makin ditingkatkan saja lagi."

Aku meras abahagia diberi komentar seperti itu. Namun aku merasa ada sesuatu yang aneh dari Kak Tiara.

"Kenapa Anda tahu pemenang dari kontes novel ini Yuari?" tanyaku.

"Saya kan juga ikut," jawab Kak Tiara.

"Tapi Anda tidak ada dalam daftar peserta."

"Ah, di kontes dua tahun lalu. Batas umurnya sampai sembilas belas tahun, kan? Saya sudah dua puluhan. Dan bukannya menyombongkan diri, di kontes tahun-tahun kemarin saya yang meraih juara pertama."

Kak Tiara memberi saran.

"Yang harus kamu lakukan hanyalah memperbanyak kosakata dan mengganti ide cerita. Jangan gunakan konsep sama seperti Yuari. Karena itu, kamu boleh memakai ide tentang persahabatan, lingkungan, keluarga, dan sebagainya. Jangan selipkan bab masa lalu suram si tokoh, baik utama maupun sampingan. Perlu kamu ingat, hidup itu tidak selamanya menyedihkan. Begitu pula masa lali. Pasti ad amasa lalu di mana kamu ingin selalu mengingatnya . Entah itu kehangatan, kebersamaan, atau kegembiraan," jelasnya.

Aku merasa termotivasi mendengar penjelasannya. Tidak hanya cantik dan pandai menulis, beliau juga sepertinya pintar memotivasi orang lain. Akan kubayar utang memotivasiku dengan kemenangan kontes novel bulan depan!

***
KONTES novel bulan keenam dimulai. Aku segera mengirimkan karyaku. Kini aku yakin karyaku pasti tembus juara pertama. 

"Nyra! Ada surat untukmu!" seru ibu seraya memberikn surat padaku.

Aku melihat alamat pengirimnya. Ternyata dari panitia kontes novel! Aku berdebar kencang. Tanganku langsung berkeringat dingin. Jantungku berdebar lebih cepat dari biasanya. Segel amplop kulepas dengan hati-hati. Perlahan-lahan aku membuka tutup amplop. Gerakan slow motion tanpa sengaja teraplikasikan saat membuka lipatan kertasnya.

Mataku langsung terbelalak melihat tulisan yang ada. Aku dinyatakan sebagai juara pertama kontes novel! Aku juga diundang untuk hadir di aula tempat kontes diadakan. Aku senang sekali! Buru-buru berlari menghampiri ibu dan memberitahu beliau. Ibu juga senang. Beliau bersedia mengantarku menuju tempat tujuan besok pagi.

Esoknya, saat acara, aku diberi kesempatan memberikan tips menulis. Sedikit kukutip nasihat yang diberikan Kak Tiara. Beliau sangat berarti untukku, membangkitkan semangatku untuk menang. Lalu, mengatakan kata-kata berdasarkan perjuanganku selama ini. Aku merasa bahagia sekali bisa berbagi seperti ini.

Perlakuan Yuari juga berubah. Tidak lagi menyombongkan diri. Ia malah menjauh. Tak mengapa. Karena aku sudah mengalahkan. Kudengar dari Kak Tiara, Yuari tidak sering latihan membuat cerita. Ia tidak pernah mengoreksi kesalahannya, sebab ia selalu berpikir ceritanya sempurna. Aku yakin, siapapun akan berhasil bila bekerja keras. 

Devi Eka. Doplang RT 005 RW 002 Purworejo 54114

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Devi Eka
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" edisi 25 September 2016

0 Response to "Kontes Novel"