Lelaki Pengantar Rindu | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Lelaki Pengantar Rindu Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 14:46 Rating: 4,5

Lelaki Pengantar Rindu

GELAP masih menyekap sewaktu Mad Dulah terlonjak bangun dan emnyadari kasurnya terasa lapang. Guling tanpa sarung tergeletak di lantai semen itu, dengan kapuk mencuat di sana-dini lewat bagiannya yang berlubang, akibat reaksi Mad Dulah yang berlebihan. Istrinya memang terbiasa bangun terlalu pagi, setengah jam sebelum azan dikumandnagkan Dulkarim dari langgar yang tak jauh dari rumahnya.

Seperti kebanyakan perempuan di desa itu, istrinya akan menyibukkan diri di dapur; nulukang saang ke tungku tanah yang mengepulkan api, mempersiapkan bekal Mad Dulah ke ladang, lantas menenteng ember berisi pakaian kotor ke sungai.

Hanya saja, bukan itu yang membuat Mad Dulah nyaris jatuh dari sisi dipannya yang reyot. Pemandnagan di sekitarnya membuat matanya membeliak hendak keluar.

Pintu lemari dengan cerminnya yang buram penuh tempelan plester di seberang ruangan itu menganga lebar, menampilkan kekosongan yang membuat jantungnya berdegup kencang. Pakaian istrinya raib. Tak ada jejak atau selembar surat pun tertinggal di sana.

Semalam, Mad Dulah dan istrinya memang bertengkar hebat. Seperti kemarin dan kemarinnya lagi, setiap kali ia mendapat upah panjat kelapa. Sesiangan kemarin Mad Dulah sibuk di ladang, memanjati pohon kelapa Wayan Landra yang sudah siap dipanen, Malamnya, ia pulang membawa upah yang lumayan, mengingat harga kelapa sedang naik.

Lantas istrinya merajuk, tak puas dengan yang lumayan untuk ukuran tukang panjat itu, dan berpikir Mad Dulah lebih mementingkan kepulan asap dari mulutnya daripada dapur mereka.

Dandang dan periuk yang hitam akibat arang api tungku bergelimpangan, sementara dua anak perempuannya yang belum juga dibelikan anting-anting itu menangis ketakutan menarik daster lusuh ibunya.

Istrinya tetap tidur di sampingnya malam itu, untuk kemudian hilang keesokan paginya membawa dua anak mereka. Pernikahannya yang belum genap satu dasawarsa memang sering bergoncang. Istrinya akan marah-marah jika Mad Dulah pulang hanya membawa sedikit uang, belum lagi kalau beberapa rupiahnya terpaksa dibelikan rokok.

Kendati demikian, Mad Dulah hampir gila karena peristiwa itu. Tubuhnya yang kurus tinggal belulang. Orang-orang mulai meragukan kemampuannya memanjat kelapa, karena mengira Mad Dulh benar-benar ganguan jiwa usai ditinggal istrinya.

Sampai suatu pagi, Mad Dulah memarkir sepeda tuanya di depan kantor pos kecamatan. Langkahnya yang besar-besar dan ringan mengantarnya masuk, membuat Made Sweca, si kepala kantor pos yang gemuk pendek itu hampir terjengkang dari kursinya.

"Bekerja di sini, Mad?" demikian kata Made Sweca, terkaget-kaget mendengar ucapan Mad Dulah.

Mad Dulah mendeham, mengulang pernyataannya dengan tegas, "Saya mau bekerja di sini!"

Made Sweca tak berkutik. Kabar Mad Dulah yang ditinggal istrinya membuatnya prihatin. Lelaki itu kini mengemis pekerjaan kepadanya setelah pensiun sebagai tukang panjat.

Made Sweca akhirnya mengiyakan, mengingat tukang bersih-bersih di kantornya mangkat seminggu yang lalu dan belum seorang pun datang kecuali Mad Dulah. Genap tiga pekan dari kepergian istrinya itulah Mad Dulah resmi bekerja sebagai tukang suruh dan bersih-bersih di kantor pos kecamatan.

***
ADA yang mengatakan Mad Dulah hampir gila, dan itu tidak benar, setidaknya begitulah yang diyakini Made Sweca setelah melihat bagaimana Mad Dulah bekerja.

Setahun menjadi tukang suruh dan bersih-bersih, Mad Dulah pun dilibatkan untuk mengantar surat dan paket-paket yang masuk. Pria botak itu berharap dengan banyaknya pekerjaan yang diberikan kepada Mad Dulah, laki-laki itu tak sempat memikirkan istri dan anak-anaknya yang hilang entah ke mana.

Sepanjang hidup Mad Dulah setelahnya dihabiskan di jalanan. Perjalanannya mengantar surat dan paket-paket menempuh terjal dan bebukitan.

Seringkali ia harus menginap di bahu-bahu jalan, atau langgar-langgar yang tak sengaja dilewatinya untuk kemudian melanjutkan perjalanan keesokan harinya.

Sekali dua kali dalam sepekan, lelaki yang menapak paruh baya itu mengigau memanggil istri dan anak-anaknya, menimbulkan rasa prihatin orang-orang yang melihatnya. Mad Dulah akan mendapati matanya basah begitu terjaga tanpa tahu mengapa ia harus menangis.

Pernah suatu ketika Made Sweca hendak meminta Mad Dulah mengantar surat ke kantor kelurahan. Namun, ia justru mendapati lelaki berambut putih itu tersedu dalam tidur siang di hari ketika paginya ia baru saja tiba dari desa seeblah. Tangannya menggapai-gapai hendak memeluk. Kakinya menendang-nendang ke udara, hingga akhirnya gerakan yang berlebihan itu membuatnya terpelanting ke lantai. 

Mad Dulah meringis. Made Sweca terkesiap. Ketiban malu ketahuan ada di situ. Mad Dulah buru-buru menghapus air matanya, dan dengan riang berkata, "Kantor pos kita seharusnya punya layanan paket rindu!"

Apa katanya?

"Kantor pos kita seharusnya punya layanan paket rindu!" Mad Dulah mengulang kalimatnya.

Sekali lagi Made Sweca berpikir, mungkin rumor Mad Dulah gangguan jiwa itu ada benarnya. Belum sempat ia berkata apa-apa, lelaki itu sudah melenggang menuju konter, tempat tumpukan surat dan paket siap diantar hari itu. Made Sweca hendak mencegah Mad Dulah pergi, takut laki-laki itu melakukan hal-hal aneh yang merugikan layanan kantor posnya, setelah apa yang dilihatnya barusan.

Meski demikian, belumm satu pun sejak Mad Dulahdipekerjakan mereka mendapat kritikan. Orang-orang justru memuji kecepatan layanan antaran surat dan paket yang mereka tangani. Itulah yang membuat Made Sweca bergolak ratusan kali dan urung memecat Mad Dulah yang memang kelihatannya memendang depresi akut.

Melihat senyum Mad Dulah yang lebar, dan langkahnya yang ringan menuju sepeda membuat Made Sweca terpaku. Mad Dulah naik ke atas sadel lantas melambai ke arah Made Sewca sembari berujar, "Layanan paket rindu akan kuumumkan pada orang-orang hari ini."

Made Sweca menegang, tubuhnya hampir saja roboh, kalau tidak cepat-cepat meraih gagang pintu di sebelahnya.

***
SEMENTARA Made Sweca sibuk memijit kepalanya yang mendadak migrain di ruangannya, Mad Dulah dengan ringan mempromosikan layanan baru kantor posnya pada setiap orang yang ditemuinya. Laki-laki itu memastikan mereka tak akan dikecewakan. Orang-orang yang mendengar kabar miring tentang Mad Dulah lantas saja menganggapnya hanya membual. Namun, ternyata tak sedikit jua yang percaya.

Dari situ, orang-orang mulai memercayakan rindunya kepada Mad Dulah. Dibayar murah, Mad Dulah akan pergi seluas kecamatan-kecamatan yang ada di wilayah itu untuk mengantarkan rindu. Made Sweca akhirnya bisa tersenyum senang, kantor posnya kini ramai didatangi orang-orang yanng hendak mengirim rindu. Antreannya mengular panjang.

Rindu yang dikirimkan berupa pesan-pesan rahasia, dengan Mad Dulah duduk mencatat di belakang konter, sementara Made Sweca dengan semangat membantu petugas yang lain mengatur antrean. Hari itu menjadi hari satu-satunya dalam kurun sepekan untuk orang-orang bisa mengirimkan rindunya, sementara enam hari keesokannya Mad Dulah entah sudah di mana untuk mengantarkan rindu-rindu itu.

Siapa pun tahu, Mad Dulah cukup selektif menerima paket rindu yang harus diantarkan. Hanya yang memiliki ikatan darah atau hubungan tak halal di luar pernikahan yang boleh menggunakan jasa antar rindunya. Bagi Mad Dulah mengantarkan rindu adalah pekerjaan yang menyenangkan.

Meski tak berbentuk, rindu memiliki energi yang besar untuk menggerakkan anak rantau pulang menjumpai ibunya yang telah kepayahan di kampung halaman, atau membuat orang-orang akhirnya terseok menyeret kaki menuju langgar ketika azan tiba.

Untuk yang terakhir itu, Mad Dulah melakukannya lima kali sehari. Baginya, suara azan adalah pesan Tuhan yang rindu akan sujud tubuhnya. Entah bagaimana akhirnya Mad Dulah bisa menapat kesadaran  semacam itu, di tengah memar luka kepergian istrinya dan perjalanan menemukan yang tak jua membuahkan hasil. Ia menyesali betul kekotoran dirinya dahulu.

Sebilang belasan purnama menjadi pengantar rindu, Mad Dulah merasa lelah juga raganya dibawa mengempabar dari ujung Buleleng Barat hingga Sukasada. Dari seorang janda Kertakawat untuk anaknya ia naik turun melewati bebukitan  menuju desa tegallinggah yang kaya cengkeh itu. Belum lagi titipan Pak Kadus kepada mertuanya di Desa Tinga-tinga jauh ke selatan di pinggir hutan.

Dan kalau tidak ingat usianya yang makin ringkih dan kondisi tubuhnya yang sering sakit akhir-akhir ini, Mad Dulah dengan senang hati tidak mengambil libur. Namun, Made Sweca mengumumkan ke setiap orang yang datang ke kantor pos hari itu bahwa Mad Dulah minta cuti. Segera ketika Mad Dulah kembali dari mengantar rindu terakhirnya, ia menyuruh laki-laki yang lima tahun terpaut di atas usianya itu untuk pulang.

Mad Dulah pulang ke rumahnya, menanak nasi dan menggoreng  be layur yang dibelinya dari penjaja ikan di jalanan untuk kemudian dilahapnya seorang diri. Malam itu tubuhnya mencium kasur lebih awal, dengan seprai yang sama di malam terakhir istrinya tidur di situ. Ia bisa menciumnya, aroma perempuan itu entah bagaimana, seperti tertinggal di situ.

Mad Dulah berbaring memeluk guling, membayangkan rupa istrinya selagi matanya belum terpejam. Ditariknya selembar foto hitam putih pernikahannya dari sela kasur dan dipan, menampakkan wajah Mad Dulah dan Maisaroh yang semringah di depan Kodak.

Melihat itu, Mad Dulah akhirnya bisa tidur nyenyak, tanpa igau atau tangisan, setah siang dan malamnya yang menyakitkan. Rindu-rindunya nyaris lunas etrbayar, membuat kuku tubuh Saminah-tentangganya yang hendak mengantar sesisir pisang, dan Made Sweca, yang kali ini benar-benar terjengkang dari kursinya karena ulah lelaki itu.

Mad Dulah sempurna menuntaskan kerinduannya kepada Tuhan, diantar tubuh  pengantar rindu di kantor pos kemarin itu.

Evnaya Sofia, pegiat sastra tinggal di Yogyakarta. Karyanya banyak bertebaran di media lokal dan nasional.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Evnaya Sofia
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Republika" Minggu 18 September 2016


0 Response to "Lelaki Pengantar Rindu"