Pemburu Bulan | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Pemburu Bulan Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 09:30 Rating: 4,5

Pemburu Bulan

SUDAH hampir setengah tahun belakangan ini, setiap habis Magrib Pak Maruto selalu bergegas pergi. Keluarganya, --istri dan kedua anak remajanya penasaran. Sebab lelaki paruh baya itu seringkali pulang tengah malam. Bahkan tak jarang sampai menjelang pagi. Tak ada malam yang terlewatkan untuk tidak pergi.

Keluarganya kian bingung karena tak pernah tahu ke mana Pak Maruto pergi. Padahal sebelumnya tidak pernah ke mana-mana, tidak pernah jagong-jagong meski hanya dengan tetangga dekatnya. Demikian pula tetangga-tetangganya, tak pernah mendatangi rumahnya untuk men-jagonginya. Orangnya bersikap tertutup. Cenderung gemar menyendiri.

Kalau ditanya istrinya perihal kegemarannya belakangan ini, Pak Maruto hanya menjawab : ”Hanya ke luar sebentar”. Maka ketika suatu saat ada orang yang mencari Pak Maruto di malam hari, Pak Maruto tidak akan pernah ada di rumah. Pernah Suranto, anak pertamanya mencoba mencari, tidak juga menemukan. Hal itu dilakukan berulang-ulang oleh Suranto. Hanya karena dorongan rasa penasarannya.

Setiap ke luar malam, Pak Maruto selalu berjalan kaki. Sebab seumur-umur dia memang tidak pernah bisa bersepeda. Dan tidak pernah ada yang tahu sebenarnya bahwa Pak Maruto setiap malam selalu ke tanah lapang. Berganti-ganti, dari tanah lapang yang satu ke tanah lapang yang lainnya.

Ada orang yang secara kebetulan mengetahui keberadaan Pak Maruto. Tetapi Pak Maruto merasa tidak mengenalnya. Ketika itu Pak Jamin, orang yang mengenal Pak Maruto itu mengetahui, bahwa Pak Maruto sedang berada di tengah tanah lapang. Lalu Pak Jamin menghentikan sepeda motornya. 
”Pak Maruto kok berada di sini? Ayo pulang bareng,” Pak Maruto tidak menjawab, hanya menggelengkan kepala. Dan ketika Pak Jamin mengulangi tawarannya, Pak Maruto baru mau menjawab ”Anu... Mas, aku hanya ingin numpang tanya saja, kata orang-orang, malam ini malam tanggal 15. Betul Mas? Kalau betul berarti bulan sedang purnama. Tetapi aku kok tidak melihatnya. Padahal tidak ada mendung. Apa pandanganku yang sudah kurang normal. Apa Mas melihat?” Orang yang ditanya hanya tampak bingung saja. ”Apa perlunya orang ini, malam-malam begini di tengah lapang sendiri, jauh dari rumahnya. Apa perlunya pula bulan baginya. Bukankah bulan tampak jelas di langit. Apakah Pak Maruto memang sudah linglung?”

”Itu. Itu bulannya tampak bulat betul. Itu, jelas sekali”

Pak Maruto lalu menggosok-gosokkan pelupuk matanya dengan punggung tangannya. ”Mana? Tolong tunjukkan”

”Itu Pak”

”Kok aku tidak melihatnya”

”Sudahlah pak, pulang saja bersama aku. Tidak baik angin malam begini bagi bapak”

”Ah, tidak Mas. Aku tetap ingin mencari rembulan”
Pak Jamin lalu teringat cerita ibunya, ketika Pak Jamin masih kecil. Memang ada orang yang memiliki kebiasaan-kebiasaan aneh semacam itu. Konon ada ngelmu tentang awet muda, dengan syarat harus selalu menyaksikan rembulan ketika sedang purnama. Tentu saja sebelumnya juga ada syarat-syarat ritualnya yang berat-berat, misalnya apa yang dinamakan puasa ngebleng. Yaitu puasa tanpa berbuka selama sehari semalam. Lalu hari setelahnya tidak boleh tidur selama dua hari dua malam berturut-turut. Atau ada pula yang menempuh dengan cara mutih, yaitu hanya makan nasi tanpa lauk, tanpa sayur dan tanpa garam.

Menghadapi hal yang semacam itu, Pak Jamin pun disergap keraguannya sendiri. ”Jangan-jangan Pak Maruto memang sudah kurang normal?”

*** 
Pak Maruto tetap melanjutkan keinginannya. Memburu bulan. Ke mana pun ada tanah lapang, selalu didatanginya. Dan dia mulai tengadahkan wajahnya setiap berada di tanah lapang.
Lama-kelamaan tetangga-tetangganya mulai tahu tentang Pak Maruto. Maka tidak salah kalau banyak orang yang menyimpulkan bahwa Pak Maruto seka- rang memang agak stress berat.

Tetapi bagi Pak Maruto, apa pun omongan orang lain, dia tidak peduli. Pokoknya dia harus selalu mencari dan memburu bulan. Sebab menurut pengetahuannya sudah hampir setengah tahun belakangan ini dia tidak pernah sekali pun menyaksikan bulan. 
Pak Maruto kadang-kadang menyatakan keheranannya tentang hal itu. Meski pun tidak ada mendung di langit. Ada pula bintang. Kadang bintang-bintang dilangit sedemikian banyak. Dan itu tandanya langit sedang benar-benar tidak ada mendung. Lalu ketika di langit bintang-bintang sedang tidak seberapa, itu artinya sedang ada rembulan. Tetapi sekarang, menurut pengertian Pak Maruto, seberapa pun bintang selalu tak ada bulan. ”Ke mana sesungguhnya bulan?” batin Pak Maruto mendesah.

Suatu ketika, Suntono, anak keduanya berhasil membujuk Pak Maruto ke dokter psikiater. Tentu saja ketika siang hari. Sebab tidak mungkin Pak Maruto mau diajak oleh siapa pun ketika malam hari. Dia punya kepentingan sendiri. Tetapi ketika paham, bahwa dirinya sedang dibawa anaknya ke tempat praktek dokter psikiater, betapa marahnya Pak Maruto kepada Suntono.

”Kamu juga sudah mulai berani menghina bapakmu sendiri ya? Kau kira aku ini sedang sakit jiwa? Ayo pulang. Kamu malah sudah mulai berani kurang ajar dengan orangtuamu”

Suntono hanya diam saja, daripada ramai-ramai malah bikin malu saja. Suntono tidak berani membantah sedikit pun. Sebab Suntono paham betul perangai bapaknya. Sebenarnya Suntono hanya sekadar menuruti saudara-saudara dan ibunya, yang menyuruh bapaknya supaya dibawa ke dokter psikiater.

Kini hampir semua orang beranggapan, bahwa Pak Maruto mulai aneh. Dan, lucunya Pak Maruto sendiri paham tentang anggapan banyak orang itu. Maka suatu ketika Pak Maruto mengambil kesimpulan ”Orang-orang itu agaknya lebih senang dibohongi daripada disodori kejujuran. Memang telah tiba saatnya, apa-apa yang semestinya sulit diterima. Apa-apa yang sesungguhnya susah disuka”. Terlintas di benak Pak Maruto, ketika dia beli susu segar dari peternak, yang kala itu susu segar itu baru saja diperah dari ternaknya. Istrinya seketika menolak. Sebab yang asli justru tidak enak rasanya, memuakkan. Demikian pula ketika Pak Maruto membelikan kerupuk tengiri yang asli untuk istrinya. Istrinya benar-benar tidak suka. Karena katanya, rasanya lebih amis. Ketika Pak Maruto masih muda, di saat Pak Maruto pulang dari kerja agak malam, istrinya akan menghargai sepenuhnya ketika dia mengatakan sedang lembur, karena pekerjaan sedang menumpuk.

Pak Maruto jadi pusing memikirkan dirinya sendiri. Di puncak kepusingannya dia teringat, dulu ketika dia masih kecil dan berkeinginan melihat gerhana bulan, maka disarankan oleh ibunya supaya memakai media air. Maka setiap ada yang berair selalu dia amati. Siapa tahu bulan akan tampak dari air.

Sekarang fokus pencarian bulan pada segala yang berair. Sungai, danau atau payau. Tetapi tidak ketemu-ketemu juga. Dan ketika Pak Maruto sedang berjongkok di bibir sungai, dari gemuruh suara air sungai seakan ada yang sedang bertanya kepadanya ”Apa yang kau cari Maruto?”

”Setengah sadar dia jawab, bulan!”

”Mengapa?”

”Cahaya”

”Cahaya apa?”

”Cahaya ya cahaya. Tolol”
Seakan tanpa sadar dia mengatakan kata tolol. Tiba-tiba suara Pak Maruto menggema amat keras. Pada mulanya dia berpikir, bahwa suara itu disebabkan karena terpantul oleh tebing atau air. Tetapi betapa kerasnya gema suara itu. Sampai ke berbagai penjuru.

Karena nyaris tidak percaya dengan gema suara itu, dia mencoba bersuara lagi ”Yang kucari rembulan. Bulan.... Bulan.... Cahaya....”

Suara itu terasa lebih kuat lagi gemanya. Terdengar ke mana-mana. Dan orangorang bereaksi. Tidak tahan dengan suara itu. Maka banyak orang dilihat dari kejauhan yang menutup telinganya dengan telapak tangan. ❑ -
Jepara, 2016 


*) Sunardi KS, lahir di Jepara 1955. Menulis berbahasa Indonesia dan Jawa di berbagai media cetak berrupa cerpen, sajak dan esai.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Sunardi KS
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" edisi Minggu, 25 September 2016

0 Response to "Pemburu Bulan"