Pintu Hijau (5) | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Pintu Hijau (5) Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 06:38 Rating: 4,5

Pintu Hijau (5)

MALINA meletakkan sabun yang kuberikan di meja cermin rias dan melemparkan tubuhnya di ranjang sisi meja sambil membuang napas. Aku berdiri saja, tak bicara apa-apa dan beberapa saat Malina membiarkan aku dalam keadaan begitu.

Saat itu dadaku berdebar kencang tak karuan. Kulihat Malina beranjak dari berbaring terlentang ke duduk. Dengan mengambil posisi kaki bergantung di ranjang, Malina membuka penutup kepalanya dan membiarkan rambutnya terurai lepas di bahu. Aku sangat ingat hal ini setiap detiknya dan sejak nenekmu meninggal hampir tiap malam aku mengenangnya.

Dari luar kudengar Imah masih berkata-kata saat itu.

"Awas kamu, Mal! Tak bawa yang lebih ganteng dari dia tahu rasa kamu!" katanya.

Imah tertawa dan lebih keras dari sebelumnya.

"Sana cari ke pasar! Sekalian bawa yang pedagang kambing!" jawab Malina. Akan kubuat lelaki ini ketagihan padaku dan tak akan kubiarkan lelaki ini masuk ke kamar lain pada waktu-waktu berikutnya, termasuk ke kamarmu, Mah!" lanjut Malina.

Dalam waktu itu Malina menarik tanganku. Sekali lagi, aku sama sekali, dalam momen ini, adalah kerbau dicocok hidungnya. Dalam gerakan cepat sebuah alunan musik telah mengalun dari radio.

Selebihnya sama sekali aku tak menduga Malina berkehidupan semacam itu. Aku juga tak menyangka, aku telah tidur dengan seorang perempuan, yang pertama kalinya tidur dengan perempuan, seperti Malina.

Sampai kurang lebih jam tiga, aku masih di kamar Malina saat itu. Aku tak banyak bicara. Bahkan dalam waktu sangat lama, kuingat, lebih dari satu jam aku membisu dan duduk saja di tepi ranjang. Malina yang awalnya dapat mencairkan suasana dengan banyak bicara dan bercanda dengan Imah di luar, karena Imah akhirnya, mungkin, menerima pengunjung, dan kami bergumul, tidak bisa tidak ia terbawa keadaanku.

Aku tak tahu apa yang terjadi padaku dan seolah beberapa jam sebelumnya yang kulakukan hanyalah mimpi, atau lamunanku saja. Tapi entahlah. Aku tak berpikir lebih jauh lagi bahwa, misalnya, kenapa aku harus mau diajak Malina, kenapa pula aku harus menuruti apa yang akhirnya, tanpa bicara, dilakukan Malina padaku. Atau lebih tepatnya, kami lakukan dan nikmati.

Diam-diam dengan melirik aku memerhatikan wajah dan tubuh Malina. Entah kenapa aku menyukainya dan berharap tidak berhenti cukup sampai di situ. Aku menginginkan Malina. Perasaan ini buru-buru kutekan.

Masih dalam kebisuan, aku keluar dari kamar Malina dan kutinggalkan sejumlah uang di ranjang. Uang itu hasil kerjaku menjadi buruh kereta api selama tiga hari. Dan saat itu baru satu minggu aku bekerja.

Aku tak tahu perasaanku saat itu, Nak, selain hanya merasa bahwa Malina sungguh cantik.

Belum lagi aku mengangkat kaki melewati pintu, Malina mencegatku. Mengembalikan uang yang kuberikan dan berbisik di telingaku.

"Kembalilah, Bang," katanya.

Sekilas kupandangi matanya yang bulat telur dan bening tajam. Dan mata itu memang memintaku kembali. Atau hanya perasaanku saja yang begitu? Entahlah.

Hari Sabtu itu hari libur kerja dan diteruskan pada hari Minggu.

Sementara pada hari Minggu, tanpa pikir panjang langsung aku kembali ke tempat Malina. Dan ia sudah di sana. Jelas terlihat di mataku ia baru saja melayani lelaki yang pulang berpapasan denganku. Lelaki kecil, hitam dan dari kendaraan yang ditumpanginya, lelaki ini seperti lelaki kaya. Lelaki ini naik andong dengan jam tangan mengkilat di pergelangan tangan kirinya.

Aku menekan perasaanku agar tidak tampak bodoh di depan Malina yang ketika melihatku datang segera berhamburan setengah berlari, mengajakku segera masuk ke dalam kamarnya. Lagi-lagi aku diam membisu dan mungkin saat itu wajahku merah dan tampak memalukan. Aku ingin mengatakan tentang sebuah kecemburuan yang bersarang di otakku, tapi aku sadar itu kata-kata yang salah untuk dikatakan pada perempuan seperti Malina.

Bagaimanapun juga, aku harus menerima yang terjadi pada Malina. Lagi pula aku tak punya hak. Bila aku memaksakan mungkin saja Malina akan memintaku tidak kembali ke sini. Bahkan bisa jadi ia akan mengucirku secara tidak terhormat. Sementara dalam dadaku bergejolak, si kepalaku sejak kemarin dan sampai waktu ini sudah penuh sesak dengan Malina. Jadi maklumlah sekiranya aku diliputi yang namanya kecemburuan.

"Untunglah kamu cepat kembali, Bang," kata Malina.

Ia sudah menghilangkan sikap berjaraknya denganku.

'Sampeyan'-nya sudah tidak ia gunakan dan aku juga menghilangkannya dari lidahku.

"Memang aku tidak sabar ingin segera bertemu kamu," jawabku dan aku terkejut mendapati aku begitu. Aku gugup dan salah tingkah.

"Eh, nama kamu siapa? Aku belum tahu," lanjutku, membelokkan yang baru saja kukatakan itu.

"Malina. Terima aksih telah kembali Bang Rusydi," katanya.

"Aku sungguh kesepian akhir-akhir ini, meskipun banyak orang berdatangan ke sini."

Aku lihat wajahnya dan Malina terlihat serius dengan kalimat yang diucapkan.

"Kamu tahu dari mana namaku, Mal?"

Aku heran karena waktu itu sama sekali aku belum memberitahu namaku.

Malina tertawa.

"Kemarin aku ngambil dompetmu dan kamu tidak emnyadari. Rencanaku mau aku curi isinya tapi tak jadi kulakukan. Isinya terlalu sedikit," jawab Malina dan ia tertawa.

Aku sedikit malu.

"Kenapa bisa kesepian dan apa penyebabnya?" Aku bertanya sambil menatap lekat ke matanya. Lalu aku menunduk, masih malu.

"ENtahlah, Bang," kata Malina singkat.

"Kamu orang mana?" aku bertanya. Kutatap lagi matanya.

"Sunngairima. Ujung timur kepulauan ini," katanya lirih dan nyaris tak terdengar.

"Kenapa kemarin uangku kamu kembalikan?"

Setelah aku selesai bertanya itu, Imah memanggil dari kamar sebelah setelah seorang lelaki jangkung keluar dari kamarnya.

Aku terkejut ketika tiba-tiba Imah masuk ke kamar Milana yang pintunya tidak ditutup atau belum ditutup. Waktu itu Malina belum menjawab yang kutanyakan. Malina buru-buru meladeni Imah yang ternyata hanya untuk bilang bahwa ia puas dengan lelaki jangkung tadi. Imah kemudian kembali ke kamarnya dan menutup pintu kamar Malina.

"Apa tadi yang kamu tanyakan?"

"Kenapa kamu tidak mau aku membayar?"

"Aku tidak ingin menjual diriku untukmu, Bang," kata Malina. Lagi-lagi Malina tertawa.  (bersambung)-c


Rachem Siyaeza: lahir di Pajagungan, 2 September 1988, sebuah kampung kecil di ujung timur Pulau Madura, Kuliah di  Jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga tahun 2007 dan lulus 2015. Beberapa tulisannya termaktub dalam bunga rampai kumpulan ceriat pendek Jalan Menikung ke Bukit Timah (2009), Tiga Peluru (Kummpulan Cerpen Pilihan Minggu Pagi Yogyakarta 2010, editor Latief Noor Rochmand) Riwayat Langgar (2011), Love Autumn (2012). Bermukim di Yogyakarta. 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Rachem Siyaeza
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" edisi 11 September 2016

0 Response to "Pintu Hijau (5)"