Pintu Hijau (6) | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Pintu Hijau (6) Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 06:33 Rating: 4,5

Pintu Hijau (6)

AKU merasa dikerjai.

"Tapi hari ini aku tidak mau melakukannya denganmu," lanjutnya.

Akhirnya aku menahan diri dan tidak memaksa. Tentu saja aku menginginkan. Betul kiranya aku telah dibuat ketagihan. Namun melihat wajah Malina yang bagaimanapun juga menyimpang kepolosan seorang gadis, aku merasa tidak penting melakukan kebiasaan sebagaimana orang lakukan di tempat  ini. Meski begitu, tetap saja Malina menghidupkan radio. Dengan itu setidaknya ketegangan pikiran dan nafsuku mulai kendor dan bisa sedikit diajak kerja sama.

Sekitar satu jam aku di situ dan Malina mulai menganggapku sebagai teman bicara. Seperti biasa, aku selalu ingin melihat wajahnya dan memerhatikannya lebih jauh. Dari penglihatanku Malina tampak seperti perempuan yang sangat matang untuk dirinya, yang kutaksir mungkin masih berumur duap uluhan tahun. Dan tidak mungkin ia berumur dua puluh dua tahun. Kelak aku tahu jelas, bahwa saat itu, kunjungan keduaku ke tempat ini, Malina baru satu hari yang lalu berulang tahun kesembilan belas. Jadi taksiranku meleset satu tahun lebih tua.

Aku tahu akhirnya, sehari yang lalu itu saat kami bertemu di pasar. Malina berulang tahun dan aku tahu juga sabun yang kuberikan padanya ia anggap sebagai hadiah ulang tahun. Memang Malina tak memberitahuku tentang itu, dari Imah aku mengetahuinya.

Hari kedua, aku mendapatkan bungkus sabun itu. Di atas meja rias bungkus sabun Bunga Permata itu tergeletak, dan Malina ternyata telah membuat bungkus itu berbentuk segi empat dengan keempat sudutnya telah tumpul. Malina menggunting sudut-sudutnya dan memercantiknya dengan menghias kertas dalam.

Aku mengerutkan dahi ketika menemukan kertas dalam sabun telah Malina gambari bunga-bunga sederhana, dan sepertinya dilakukan sangat hati-hati.

"Aku menggambar itu semalam untuk mengisi waktuku," katanya.

Saat berkata itu, ia membuka jendela di samping kanan pintu. Gordennya yang berwarna hijau masih dalam keadaan menutup. Angin dari luar masuk ke dalam kamar.

Aku tetap diam. Tak tahu apa yang harus kukatakan untuk menanggapi perkataan Malina. Lalu Malina melanjutkan bicaranya.

"Bawalah bungkus sabun itu, Bung. Barangkali kamu berminat menyimpannya. Kalau tidak juga tidak masalah. Buang saja."

Aku masih diam. Hanya menganggukkan kepala. Aku berdiri dan berjalan mengambil bungkus sabun itu dan segera mengantongkannya.

"Aku akan menyimpannya." Akhirnya aku angkat bicara.

"Terima kasih, Bung. Kamu membuatku senang hari ini," kata Malina dan tersenyum padaku.

"Tapi sebaiknya kamu pulang. Kembalilah ke sini malam hari saja," lanjutnya dan aku lagi-lagi mengangguk.

Aku mengikuti apa yang dikatakan Malina. Aku beranjak dari kamar Malina dan buru-buru keluar. Sampai di luar yang saat itu aku taksir sekitar jam satu lewat, ternyata mendadak gerimmis jatuh dan aku tembus saja setengah berlari. Namun Malina mengejarku dan memintaku kembali. Aku kembali.

***
AKU kembali menemui Malina malam esoknya. Saat itu kami menghabiskan separuh malam tanpa emlakukan rutinitas yang biasa dilakukan di tempat itu. Malina banyak berbicara  dan untuk pertama kalinya. Malina mengatakan kepadaku bahwa dirinya mulai tak betah di tempat itu.

"Aku ingin pulang dan berharap bisa hidup di rumah bersama orangtuaku," kata Malina.

"Mengapa kamu tidak pulang saja, Mal?" Aku bertanya.

Sambil berbicara Malina menyingkap ujung gorden hijau dan melihat keluar. Hujan rintik-rintik di luar dan berbunyi gemeretak di genteng. Cukup keras.

"Untunglah hujan."

"Kenapa kalau tidak hujan?"

"Pembicaraan ini tidak boleh didengar siapapun," kata Malina tegas namun terdengar berat.

Dari suaranya aku tahu Malina menyimpan harapan segera pergi dari tempat ini.

"Aku bisa mengantarmu pulang. Kapanpun," kataku.

Aku mengatakan ini sekenanya. Lebih tampak hanya sekadar menghibur Malina.

"Tidka smeudah itu, Bang," tanggap Malina

Ia duduk gelisah di ranjangnya. Kami duduk menghadap sama, ke arah barat. Malina duduk bertimpu dan aku melepaskan kaki menggantung di ranjang yang cukup tinggi itu.

"Tapi sudahlah. Lupakan saja, Bang," tambahnya. "Mari berbicara hal lain."

Malina terdiam dan menunduk. Ada aura kecemasana ku tangkap dari raut wajahnya yang kuning tipis. Matanya yang tajam tidak berkilau. Dari cahaya lentera yang menempel di dinding kamar di pinggir cermin meja rias, dengan sedikit cahayanya, aku bisa menangkap ekspresi aneh dari wajah malina. Seperti memancarkan kekhawatiran dan ketakutan.

"Aku minta maaf telah membawamu ke sini," kata Malina. "Tak seharusnya aku mengajakmu, Bang."

"Tidak masalah, Mal. Justru ini baik untukku bisa kenal denganmu," kataku sekenanya.

Dalam waktu ini sama sekali aku tidak merasakan perasaan menyesal sedikit pun.

"Mudah-mudahan kamu setia dengan yang kamu ucapkan." Begitu Malina menanggapi yang kukatakan.

Lalu ia berdiri dan ekluar menembus rintik gerimis. Aku tak berusaha mencegatnya. Meskipun, tentu, aku ingin mencegatnya. Atau setidaknya aku ingin tahu ia mau ke mana malam-malam dalam gerimis yang dingin.

Aku ditinggal sendirian di kamarnya dan kesempatan ini kupakai untuk melihat-lihat isi kamar Malina. Kamar ini cukup luas untuk ukuran kamar yang cukup banyak berdempetan. Aku mengira-ngira, lebih empat meter panjang dan lebarnya. Dari cahaya lentera minyak di dinding samping cermin rias, yang cahayanya memenuhi seluruh ruangan kamar, aku dapat melihat dengan cukup jelas bagaimana Malina memerlakukan kamarnya.

Ranjangnya yang berkasur empuk membujur panjang arah utara dan di sebelah kiri ujung ranjang meja rias cermin memepet di dinding. Di meja itu, lazimnya perempuan seperti Malina, yang kuketahui dari film layar tancap yang pernah kulihat sebelumnya di kampungku, terdapat banyak alat-alat memercantik diri.

Di sana, di meja itu, terdapat empat sisir dengan ukuran dan bentuk berbeda; ada cermin kecil yang kuduga dipakai Malina untuk mengacai punggung atau lehernya dan juga rambut belakangnya. Bedak pemutih, minyak rambut, pemerah bibir, dan wewangian tubuh entah apa merknya. Dan di dalam gelas yang agak ke pinggir kanan meja berisi sejumlah alat yang antara lain berupa pinset, yang mungkin digunakan Malina mencabut bulu tertentu di tubuhnya. Juga ada tiga bolpoin hitam. Dan di meja itu juga ada satu buku tulis. Tentu itu buku catatan.

Di dinding barat kamar terdapat elmari pakaian. Di sebelah kanan lemari agak tinggi, terdapat tempat menggantung pakaian. Di pintu lemari pakaian yang terbuka, aku terkejut dan sempat mengerutkan dahi karena heran melihat yang ada di pintu lemari, terdapat sajadah dan mukena. Sekilas aku bisa melihat sajadah dan mukena itu baru saja digunakan.  (bersambung)-c


Rachem Siyaeza: lahir di Pajagungan, 2 September 1988, sebuah kampung kecil di ujung timur Pulau Madura, Kuliah di  Jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga tahun 2007 dan lulus 2015. Beberapa tulisannya termaktub dalam bunga rampai kumpulan ceriat pendek Jalan Menikung ke Bukit Timah (2009), Tiga Peluru (Kummpulan Cerpen Pilihan Minggu Pagi Yogyakarta 2010, editor Latief Noor Rochmand) Riwayat Langgar (2011), Love Autumn (2012). Bermukim di Yogyakarta. 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Rachem Siyaeza
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" edisi 18 September 2016

0 Response to "Pintu Hijau (6)"