Pintu Hijau (7) | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Pintu Hijau (7) Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 06:33 Rating: 4,5

Pintu Hijau (7)

AKU kembali lagi. Malam ketiga.

Sudah lebih setengah jam kakek diam saja. Tak berbicara apapun. Mungkin, beliau masih menyiapkan mental melanjutkan ceritanya. Atau masih menenggelamkan diri dalam kenangannya masa lalu: pada hari-harinya bersama Malina. Aku menunggunya sedikit tidak sabar.

Aku telah melihat bungkus sabun Bunga Permata pada malam sebelumnya sebelum aku pulang, dan kakek memintaku kembali lagi. Malam ini. Memnag benar bisa dilihat keempat ujungnya yang tumpul dan kertasnya sudah sangat lusuh. Masih ada gambar bunga di kertas dalamnya. 

Sengaja aku tak mengajak kakek berbicara. Dengan begitu mungkin kakek akan lebih berkonsentrasi menghangatkan kembali hari-harinya bersama Malina.

"Aku selalu mengenang perempuan itu, Nak, terutama sejak nenekmu meninggal tujuh bulan lalu," kata Kakek tiba-tiba.

Kakek menyalakan sebatang rokok. Bibirnya kering. Gigi-gigi kakek sebagian masih utuh dan sebagian lagi telah berganti gigi palsu. Kepalanya sudah tanpa rambut. Tapi aku yakin kakek memiliki ingatan segar terhadap Malina.

Pada hembusan asap rokok ketiga, dengan menarik nafas cukup dalam lalu asap rokok mengepul di udara, kakek melanjutkan ceritanya.

Hari-hariku bersama Malina adalah hari-hari menyenangkan dalam hidupku, Nak. Tak ada kebahagiaan sebesar yang kurasakan saat itu. Sekaligus kesedihan dalam hidupku datang pada saat itu juga.

Yang peru kamu tahu, Malina pada akhirnya melekat dalam ingatanku sebagai bagian dari penghuni tempat itu. Sebuah tempat yang pintu-pintu setiap kamarnya berwarna hijau penuh. Dalam waktu singkat dan tanpa perlu mencari informasi pada siapapun aku mengetahui bahwa tempat itu terkenal dengan sebutan Pintu Hijau. Tak ada nama yang melekat yang menandakan nama tempat itu. Hanya karena pintu-pintu semua kamarnya hijau, orang-orang menyebutnya Pintu Hijau. Termausk penghuni-penghuninya menyebut Pintu Hijau.

Setiap kali aku datang mengunjungi Malina selalu saja perasaan alamiah yang namanya kecemburuan muncul tanpa bisa kucegah. Namun seperti kuberi tahu di awal, perasaan itu kutekan sedemikian rupa. Meskipun begiitu tetap saja pada akhirnya Malina menemukan perasaanku itu.

Suatu malam Malina mengungkapkan yang ia tangkap dari gelagatku mengenai kecemburuan itu. Mula-mula percakapan tidak menjurus pada apa yang aku rasakan. Setelah kami berbincang cukup lama akhirnya pembicaraan Malina menjurus ke itu.

Kuberitahu dari awal apa yang kami bicarakan.

"Aku selalu membayangkan bagaimana jadinya para lelaki yang beristri datang ke sini, Bang. Andai aku salah satu istri  dari mereka, dan tahu apa yang mereka perbuat, aku akan sangat membenci suamiku. Aku akan mengutuki mereka dan berharap suamiku mati saja. Bahkan andaikan akhirnya aku diceraikan tetap aku tak bisa menerima. Karena itu tidak setimpal. Kematianlah yang pantas diterima para suami yang berbuat begitu. Di tangan istrinyalah lelaki semacam itu harus menemui ajal," kata Malina.

Ia mengatakan itu sesaat setelah kami mengambil jeda dari pekerjaan rutinitas para perempuan di balik Pintu Hijau dengan para lelaki pengunjung. Sambil beres-beres sesuatu yang kacau ditimbulkan oleh gerakan-gerakan kami, Malina melannjutkan ucapannya.

"Sering, pada malam-malam yang larut aku merenungi yang terjadi padaku dan pada orang-orang yang datang ke sini. Aku selalu memohon ampun pada Yang Maha Kuasa. Meskipun, terutama para istri-istri lelaki yang entah berapa banyak jumlahnya, andai mereka tahu, mereka tak akan memaafkan aku."

Saat itu Malina telah memakai pakaian lengkap. Sementara aku baru saja memakai celana.

"Kamu tidak perlu berpikir begitu," kataku singkat.

"Tapi pikiran itu datang dengan sendirinya. Seolah muncul dari dalam diriku yang paling dalam," katanya.

Malina terdiam. Tampak merenungi ucapannya.

"Bagaimana aku harus mengatakannya padamu, Bang?"

Aku tidak paham maksud perkataan itu.

"Apa yang perlu kamu katakan, katakanlah," pintaku.

Pada kalimat itu, kukatakan dengan tangan memasang kancing baju.

"Aku sangat menginginkan yang kamu inginkan, Bang," katanya.

Sejenak Malina terdiam. Ia lalu berdiri dan beranjak membuka pintu. Ia keluar sebentar dan masuk lagi.

"Aku selalu ketakutan bila berbicara. Aku meminta Imah duduk di teras kamarku. Anak buah Suliman kadang-kadang memaksa tanpa membayar menguping pembicaraan kami dengan pengunjung."

Masih dalam kondisi tidak paham, aku menegaskan padanya bahwa aku tidak menginginkan apa pun.

"Aku tak menginginkan apa pun dari kamu. Sungguh. Selain hanya aku selalu ingin datanng ke sini dan menemui kamu. Itu saja," kataku.

"Iya. Terima kasih telah datang padaku."

Malina menunduk pada bagian itu, dan ia menekan kalimatnya. Aku lihat ia tampak menyesal mengucapkannya.

"Harusnya dari awal kamu datang sebagaimana umumnya para lelaki," lanjutnya.

Dari suaranya aku dengar ia berat mengatakan. Terlebih setelah ia melihat tepat ke mataku.

"Harusnya aku melewatkanmu saja di pasar, Bang," katanya.

"Aku tidak tahu mengapa aku ingin selalu datang padamu, Mal. Sama sekali aku tidak tertarik pada kamar-kamar yang lain," katalu. "Kamu tahu sendiri hanya kamarmulah yang kumasuki, Mal," lanjutku berusaha meyakinkan Malina bahwa apa yang baru saja ia katakan tidaklah tepat.

"Itu yang kumaksud. Aku takut kamu terikat lebih jauh denganku. Sementara kamu tahu sendiri aku tak kan memberikan apa-apa padamu. Terus terang saja, Bang, aku selalu memikirkanmu. Dan andai bisa, aku ingin memberikan diriku kepadamu seutuhnya."  (bersambung)-c


Rachem Siyaeza: lahir di Pajagungan, 2 September 1988, sebuah kampung kecil di ujung timur Pulau Madura, Kuliah di  Jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga tahun 2007 dan lulus 2015. Beberapa tulisannya termaktub dalam bunga rampai kumpulan ceriat pendek Jalan Menikung ke Bukit Timah (2009), Tiga Peluru (Kummpulan Cerpen Pilihan Minggu Pagi Yogyakarta 2010, editor Latief Noor Rochmand) Riwayat Langgar (2011), Love Autumn (2012). Bermukim di Yogyakarta. 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Rachem Siyaeza
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" edisi 25 September 2016

0 Response to "Pintu Hijau (7)"