Rajah - Di Lorong Stasiun - Isolasi - Di Stasiun Tua | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Rajah - Di Lorong Stasiun - Isolasi - Di Stasiun Tua Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 04:00 Rating: 4,5

Rajah - Di Lorong Stasiun - Isolasi - Di Stasiun Tua

Rajah 

]Tak ada yang istimewa di sini,
selain retas matamu,
terlampar,
hilang sasar

magrib semakin gaib,
namun belum juga kuselesaikan
 abjad rajah tentang namamu
sebab mendadak
aku kehilangan jejak
akan ampas kopimu,
yang pernah kau tuang
di sebuah sajak

Jogja, 2016

Di Lorong Stasiun 

Terjebak jadwal,
tubuhku pun rebah di hamparan agenda,
di huma kata-kata,
lalu ingatanku terpenggal
: ringkik ringkih kereta besi, berkisah
perihal ia yang terlambat,
terhambat, lalu terhambat.

namun tetap saja,
ia akan pergi ke sebuah tempat,
sebelum bangku ini dingin berkarat,
meski nyaris seabad,
ia belum juga lewat

“ada apa,” pikirku sambil mengunyah nama-nama
gedung tua
dan asap angkutan kota yang bersauh di ujung senja,
bukan namamu. serupa sajak tanpa baris,
mungkin namamu terlampau liris, terlalu miris,
sebab hidup ini toh juga tetap akan lesap

 -kereta belum juga hinggap

Jogja, 2016

Di Stasiun Tua 

Stasiun tua sambut langkah kami,
langkah seekor keledai yang siap tuk disangsai
kematian kami, adalah kematian gerbong-gerbong
yang disingsal waktu, lewat sulur, lewat cerobong
sore yang sendiri,

adalah kesangsian yang menunggu di pucuk
cakrawala
lembaran luka kami, adalah kesangsian bangku-
bangku tua
melembab oleh detik, dan nyala lilin yang berpeletik
tapi kematian kami masih sunyi,

(meski lenguh kereta, sudah meninggalkan buku cerita)


Jogja 2016



Isolasi 

Di tubir kota,
tak ada lagi yang bisa dibaca,
selain deretan gedung tua,
rambu larangan, dan pijar neon iklan,
cuma denyut senyummu,
serupa gerimis yang membatasi cerita
: tentang senja, tentang nafas jalanan kelabu tua

di sini,
nyaris tak ada aroma dangau,
kecuali kami
yang tengah sibuk berkabung sendiri,
membaca sejarah yang katanya telah mati

hanya ruap memori asing, kadang datang
telanjang,
bersama usia yang sungguh tak pernah dewasa,
lalu bersembunyi di rimbun gedung
tanpa daun,
tanpa angka tahun

Jogja, 2016


A Junianto, lahir di Surabaya pada 4 Juni 1984. Ia aktif di komunitas Studi Seni dan Sastra CDR (Cak Die Rezim) Surabaya. Beberapa antologi bersama ialah Monolog Kelahiran (Sasindo Unair, 2003), Senjakala (Lima, 2005), dan Ruang Hitam (Lima, 2006), Mozaik Ingatan (CdR, 2010), Menggapai Asmara (Ma- faza, 2014), dan Di Balik Hitam Putih Kata (Poetry Praire Publishing, 2014).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya A. Junianto
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" edisi Minggu, 25 September 2016

0 Response to "Rajah - Di Lorong Stasiun - Isolasi - Di Stasiun Tua"