Rangkuti & Kambingnya | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Rangkuti & Kambingnya Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 17:47 Rating: 4,5

Rangkuti & Kambingnya

TIAP kali kambingnya mengembik Rangkuti tersenyum, bahkan sesekali tertawa mengikik. Bukan karena suara embik kambing yang mengundang tawa, tetapi Rangkuti membayangkan lembar-lembar uang yang akan segera didapatkannya. Musim lebaran haji, musim kurban, dan kambing jantan Rangkuti sudah cukup umur. Yang lebih membuat Rangkuti bahagia ialah ukuran kambingnya yang tak biasa: besar, gemuk, penuh lemak, dan ndemenakno --sudah bahagia saat menyaksikannya.

Pak Totok, sekdes yang saleh dan pemurah itu, sudah menawar kambing Rangkuti beberapa hari lalu. Bahkan sudah memberinya uang tiga ratus ribu sebagai panjar dan uang lelah Rangkuti untuk  merawat sampai masa potong kambing itu datang.

Pak Totok yang tahun ini akan berkurban empat kambing untuk diri dan keluarganya memang lebih memilih kambing-kambing yang dirawat dan dibesarkan di Soronini. Salah satunya adalah kambing milik Rangkuti itu.

Kata Pak Totok, orang Soromini tidak berhobi menipu pembeli kambing memompa perut kambing atau menyulapnya sedemikian rupa sehingga tampak lebih besar daripada ukuran aslinya. Rangkuti hanya mangguut-mangugt dan diam-diam dalam hati membenarkan, tidak mungkin Rangkuti mendustainya.

Pak Totok sendiri tahu tiap pagi dan sore Rangkuti membawa dedaunan dari pinggir hutan, atau ssesekali rumput dan sendetan untuk pakan kambing. Dan tidak ada setitik rahasia di desa sekecil Soronini. Baik dan buruk mudah menyebar bersama gesekan angin.

Kambing jantan terbesar Rangkuti dihargai tiga juta Rupiah. Lebih mahal dibandingkan harga yang pernah tengkulak tawarkan.

"Memang kamu membawa rejeki nomplok," Rangkuti sering mengajak kambing itu berbicara saking gembiranya. Dielus-elus dan diberi makan lebih dibanding kambing-kambing betina dan cempe lainnya. "Rejeki memang datang dari jalan yang tak disangka-sangka," Rangkuti hendak bangun. Tapi kemudian menambahi hipotesanya sendiri, "Kadang! Semua sangkan paran."

Rangkuti meraih caping anyaman bambu cukup lebar, sabit kecil, dan tali kenur. Rangkuti ingin melepas kambing-kambing itu ke tanah lapang persilan, perbatasan desa dan hutan. Kambing-kambing itu akan mencari rumput paling disukainya, sementara Rangkuti akan mencari daun dan rumput untuk pakan malam nanti. Kambing memang punya perut kecil tapi mereka selalu makan lebih sering.

Kambing-kambing Rangkuti yang jumlahnya ada lima ekor diikat menjadi satu dengan tali tampar yang cukup panjang. Sehingga mereka tidak akan lari ke sana ke mari saat dalam perjalanan dari rumah ke persilan. Juga untuk memudahkan Rangkuti menggiring mereka. Rangkuti mulai  melepas satu demi satu kambingnya. Saat ikatan terakhir, Maerah, istrinya, memunculkan kepala di pintu kandang. 

"Botol minummu jangan lupa."

"Ah, hampir saja aku klongor di persilan."

Maerah kembali ke dalam dan beberapa saat kemudian membawa botol bekas air mineral ukuran satu setengah liter dengan air bening. Maerah membungkusnya dalam kresek putih dan kemudian diserahkan kepada Rangkuti.

"Kalau sempat. Mampir ke tegalan Pakde Ludiro, dia sedang ada ulur jagung. Kalau sudah selesai nyari rumput, bantu-bantu sana."

Rangkuti hanya berdehem. Dan dehemannya selalu misterius, apakah bermakna iya atau tidak. Maerah akan tahu bila petang sudah datang.

Rangkuti menggiring kambing-kambingnya dan Maerah menyaksikannya menghilang di tingkungan pematang. Matanya berkedip-kedip memancarkan sinar. Maerah juga bahagia dan rejeki yanng dibawa kambing itu.

***
Sementara kambing-kambing itu ditali, Rangkuti mencari daun-daun lamtoro dan daun nangka muda. Setelah lebih dari cukup, Rangkuti mengikat dedaunan itu dengan kenur. Kemudian membawanya ke dekat gubuk kecil tempat dia biasa mengaso saat menggembalakan kambing.

Rangkuti kembali tersenyum saat kambing paling jantan itu  mengembik dan beringas menggayang rumput.

"Makan yang baik biar gemuk." gumamnya.

Sinar kemarau membuat rangkuti sedikit silau. Celah-celah atap meloloskan sinar mengharuskannya sesekali menutup mata, menghalau sinar yang kadang melukai pandangannya. Rangkuti mendnegar suara para pekerja yang riuh melempar guyonan di tegalan.

Rangkuti diam-diam membatalkan keinginannya untuk membantu Pakde Ludiro. Dia sudah terlalu sering membantu pekerjaan sawah maupun ladang Pakde Ludiro. Siang ini mendadak rasa ogah-ogahan menguasai hasrat rangkuti. Sesekali orang butuh juga masa istirahat, membuat tubuh raja atas tubuhnya, demikian alasan rangkuti. Tak baik selalu memberi bantuan tenaga gratis, nanti tuman.

"Rangkuti, kambingmu besar-besar ya!" teriak Mulatin.

Rangkuti celingak-celinguk mencari sumber suara. Ternyata Mulatin sedang duduk di galengan yang berbatasan dengan tanah lapang tempat Rangkuti menggembalakan kambing.

"Iya! Rejeki!" sambar Rangkuti.

"Mau dibelikan apa tuh?" Mulatin menyusul dengan pertanyaan baru.

"Sebagian mau dibelikan parabola," Rangkuti menjawab tanpa ragu-ragu. Karena memang benda itu yang diidam-diamkan Maerah dan kedua anaknya. Sedikit mewah untuk ukuran desa, tapi sesekali menghibur diri saat menerima rejeki, menurut Rangkuti tak ada salahnya.

"Bakalan betah di rumah nih," kalimat Mulatin itu jelas sebuah sindiran halus untuk Rangkuti. Karena Mulatin tahu apa yang tampak dan disembunyikan rangkuti selama ini.

"Ya, orang rumah sudah tahu berapa Pak Yoyol membeli kambing ini. Mau apa  lagi?"

"Masa suami tidka pandai menyelipkan uang," kemudian Mulatin tertawa keras sekali.

Rangkuti mengangguk sekali lagi. benar bahwa dia selalu dapat menyelipkan dua lembar ratusan dan kemudian dibawanya ke kedai kopi sambil mengisi kertas togel. Rangkuti memang tak bisa mengurangi hobi yang satu itu. Hobi main togel yang sudah sejak muda digemari. Meski Maerah marah, Rangkuti selalu bisa membuat semua aman terkendali.

"Coba, kalau menurutmu, aku harus bagaimana?" tanya Rangkuti. Kakinya kini disilakan. Rangkuti mencari posisi duduk paling nyaman baginya.

"Maerah tentu belum tahu harga parabola berapa. Kamu bisa bilang sekian dan ternyata jauh lebih murah. Selisihnya bisa kamu simpan." Mulatin menyeringai. Dia telah berhasil memantik api di tengah ranggas daun jati. Sebentar lagi Rangkuti akan terbakar dan diam-diam merencanakan suatu tindakan.

Rangkuti manggut-manggut tanda mengerti maksud Mulatin.

"Ya sudah, rangkuti, aku mau lannjut kerja," Mulatin memotong percakapan.

"Kamu ngerjain apa?"

"Panen singkong. Mumpung belum kemarau panjang. Mumpung masih bisa ditarik pakai tangan. Nanti pulang bawalah beberapa. Maerah kan pandai bikin klenyem."

"Nanti kubantu sebentar," Rangkuti menawari basa-basi.

"Tidak usah, urus saja kambing tiga jutamu itu."

Rangkuti kini tertawa keras sekali.

Kambing jantan berada paling depan. Terus saja memamah rumput yang diraih. Rangkuti sekali lagi membayangkan tubuh kambing itu menjadi berlembar-lembar rupiah. Merasa kambing-kambing itu aman dan nyaman di persilan, Rangkuti meluruskan punggung di gubuk kecil kebanggaannya. Mendesah dan meraih saping anyaman bambu untuk menutupi wajah menghalau terik sinar matahari yang lolos.

"Benar kata Mulatin. Semua bisa diatur kalau aku sendiri yang ke pasar dan membeli parabola. Maerah tak pernah tahu harga pasaran parabola berapa. Yang penting uang tiga juta tidak habis dan parabola kualitas baik terpasang di rumah, hingga Maerah dan anak-anak bisa menonton televisi tanpa gangguan semut di layar kaca," Rangkti berbicara pada dirinya sendiri.

"Seratus dua ratus cukuplah," senyum Rangkuti tersembunyi di balik caping anyaman bambu. "Pak Totok! Pak Totok, terimakasih. Memang rejeki datang dari jalan yang tidak disangka-sangka."

Rangkuti benar-benar bahagia atas simpulan rencananya. Selain uang tiga juta yang membuat Maerah terus mengulum senyum, Rangkuti juga akan kembali menemukan jalan melampiaskan hobi bermain togel.

Semilir angin kemarau mengayun-ayunkan kantuk di ujung pelupuk mata Rangkuti. Embik kambing yang sesekali emmekik bersahutan dengan sayup-sayup percakapan para peladang membuat Rangkuti semakin terbuai. Seolah alam mendukung segala keinginan Rangkuti, termasuk bagaimana dia akan bisa berjumpa dengan kertas togel dan termasuk tidur siang di gubuk persilan kali ini.

***
MIMPI manis Rangkuti terbangun serentak oleh suara horaaaaak, suara pesawat yang lewat di atas persilan. Kemudian disambut dengan teriakan-teriakan Mulatin. Termasuk riuh embik kambing.

"Rangkuti, bangun! Rangkuti, bangun!" suara Mulatin mulai serak meneriaki.

Rangkuti menggosok-gosok mata.

"Kambingmu!"

Rangkuti seketika terbangun. Gubuk kecil itu terguncang tidak siap menerima pergerakan Rangkuti yang sedemikian cepat.

"Kambingmu makan kulit singkong di ladangku!" Mulatin terbata-bata.

Rangkuti mencermati lima ekor kambingnya. Dan semakin tersentak, kambing jantan yang paling besar yang tadi masih bisa dihargai tiga juta tergeletak dan kakinya menyentak-nyentak. Kulit singkong di musim kemarau adalah racun bagi kambing.

"Duh Gusti!" Rangkuti teriak sambil menepok dahi.

Semua mimpi manis yang tadi dibayangkan diam-diam mulai kabur. Terbayang wajah sesal Pak Totok, wajah kesal Maerah, dan kertas-kertas togel yang melayang.

"Rejeki juga bisa lenyap dari jalan yang tak disangka-sangka," Rangkuti berkata lirih sambil mengusap air di pipinya, entah itu keringat akibat sengat kemarau atau air yang meleleh dari kuncup mata tuanya. 

Keterangan:
Cempe                    : anak kambing
Sangkan paran       : sebab musabab
Persilan                  : hutan yang jadi garapan sementara petani
Klongor                 : kehausan
Ulur                       : tanam jagung
Tuman                   : menjadi kebiasaan
Celingak-celinguk : tengak-tengok
Klenyem                : kue basah dari singkong parut  
  

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Teguh Affandi
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Republika" edisi Minggu 11 September 2016

0 Response to "Rangkuti & Kambingnya"