Sebutir Tasbih yang Hilang | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Sebutir Tasbih yang Hilang Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 10:30 Rating: 4,5

Sebutir Tasbih yang Hilang

SETIAP kali menatap tasbih yang menggantung di dinding, aku selalu ingat Kakek Ukaba. Kini, bulatan berwarna safir itu selalu menggantung di sana dan tak pernah disentuh oleh siapa pun kecuali hanya angin kosong dan kenangan yang sekali dua kali menggoyangkan tubuhnya.

Kakek Ukaba pernah bercerita padaku soal tasbih yang ia beli dari Pasar Kutoarjo:

"Aku membelinya dari sahabat lama. Bukan masalah jumlah uang yang besar atau kecil. Bahkan, jika dibandingkan, uang itu dengan persahabatan kami tidaklah seberapa."

"Apakah Kakek ke Pasar Kutoarjo benar-benar ingin membeli tasbih atau hanya ingin bertemu dengan sahabat lama?" tanyaku waktu itu.

"Dua-duanya. Kami sudah lama tidak bertemu. Dan dengan membeli tasbih dari dagangannya, aku berharap akan menjadi kenangan yang tak pernah kulupakan. Perihal menjaga tasbih miliknya sama artinya dengan menjaga persahabatan kami."

"Memangnya apa yang terjadi dengan sahabat kakek?"

"Berita terakhir yang kudengar: ia tidak mampu membayar sewa lapak tempat berdagang. Setelah itu, aku tidak tahu ke mana perginya. Sudahlah, Kimin, jangan ngobrol terus. Mari kita lanjutkan dengantadarus Alquran."

Kakek Ukaba bukan kiai, bukan ulama, bukan pula syekh yang termasyur di jagat raya. Ia hanya kakekku sekaligus perawat ladang yang punggungnya kala siang disabet panas matahari. tetapi, soal berzikir, jangan ditanya. Walau ia tidak mengumbar rutinitas berzikir setiap hari berapa kali kepada orang lain, aku tahu betul bibirnya selalu basah oleh pujian-pujian kepada Allah Subhanahu Wata'ala.

Aku seringkali menghabiskan waktu malam di rumah kakek Ukaba. Rumah yang sederhana berdinding anyaman bambu. Di sekelilingnya rumpun-rumpun bunga aneka warna menghiasi. Aku harus melalui jalan setapak yang sunyi untuk sampai di rumah Kakek. Di rumah itulah aku mendapatkan kenyamanan yang tak bisa kudapatkan di dalam rumah orangtuaku sendiri.

Kakek Ukaba pernah menegurku. "Jangan terlalu sering ke mari, Kimin. Seorang anak yang tumbuh bersama keluarga lebih baik daripada bersama kakek dan neneknya."

"Maaf, Kakek. Ini tidak sesederhana seperti yang kakek duga. Aku pun ingin sekali menghabiskan waktu malam di rumah bersama ibu dna bapakku. Namun, rumahku selalu kosong. Mereka baru pulang setelah aku tertidur. Bahkan, ketika aku menunggu mereka hingga larut malam, tak juga kutemui kebersamaan yang bisa menghangatkan hubungan kami."

Kakek Ukaba mengangguk. Setelah itu, ia tidak pernah mengungkit diriku yang selalu hadir menemaninya malam-malam. Kadang kala di waktu libur, aku bisa seharian penuh di rumah Kakek Ukaba. Sampai aku hafal benar bagaimana kebiasaan Kakek dan nenek.

Setiap pagi sebelum berangkang ke ladang, Kakek Ukaba selalu menyempatkan diri membaca kitab-kitab yang pernah ia pelajari  di Pondok Pesantren Al Anwar An Nur Maron Loano Purworejo. Menunaikan shalat Dhuha dua rakaat. Kalau hujan mengguyur, Kakek bisa sepagian penuh duduk di teras menatap hujan turun seraya memutar-mutar bola tasbih dan dua belah bibirnya benar-benar basah.

"Mengapa kakek setiap kali berzikir memakai tasbih? Bukankah lebih baik jika menghitung dengan jari-jemari?" tanyaku mengulang pelajaran pendidikan agama Islam di sekolah.

Kakek Ukaba selalu melafalkan kalimat shodaqallahul'adzim tiap kali ingin berbicara atau mengubah dari keadaan bibir berzikir menjadi omongan biasa. Bukan hanya ketika menutup Alquran.

"Tidak ada waktu khusus untuk mengistilahkan kebiasaanku ini, Kimin. Jika kau pernah bersahabat, pasti kau merasa lebih cinta apabila kau menggunakan barang yang dititipkan oleh sahabatmu."

"Tapi, tasbih itu Kakek yang beli. Bukan titipan."

"Transaksi bersama seorang sahabat, tidak peduli betapa besar atau tak berharganya di hadapan orang-orang, akan menjadi bermakna kepedulian dan titipan rasa. Dengan itu, hubungan persahabatan selalu terbangun dari waktu ke waktu. Walau barangkali tidak pernah bertatap wajah dalam wkatu bertahun-tahun hingga di antara keduanya terpisah oleh ajal. Lalu doa-doa yang akan membenarkan apakah hubungan di antara dua manusia itu benar-benar persahabatan atau bukan. Dan Kakek sungguh-sungguh memercayai ikatan persahabatan kami bisa mencapai naungan di Padang Mahsyar kelak. Insya Allah."

***
AKU sungguh takjub dengan pegangan Kakek tentang makna persahabatan.

Pernah saat liburan semester, aku menginap cukup lama di rumah Kakek. Seorang  tamu mengetuk pintu. Dari balik jendela kutaksir umurnya sama dengan Kakek Ukaba, dengan warna rambut kepala dan jenggot yang tampak pudar.

Tatapan matanya memang teduh. Tanganku gemetar ketika bersalaman dengannya. Aku gemetar bukan karena ketakutan, melainkan karena aku selalu begitu setiap kali menatap wajah yang berwibawa atau berkarisma. Meskipun Kakek Ukaba sering bilang kalau sahabatnya itu hanyalah bekerja sebagai pedagang tasbih dan barang-barang untuk keperluan Muslim yang kerap tidak mendapat perhatian dari pembeli karena lapaknya kalah menarik dari toko sebelah.

Aku hanya menangkap obrolan mereka yang diselingi dengan tawa dari ruang dalam.

"Huss. Rupanya ada setan kecil di sini," tegur nenek tertawa kecil mendapatiku menguping pembicaraan Kakek Ukaba dan tamunya. Aku jadi malu.

Nenek mengantarkan nampan berisi sepiring sengkulun hangat dan sepasang kopi kental. Ia ikut bergabung dengan dua lelaki yang bersahabat itu. Kudengar, Nenek bilang pada Kakek Ukaba kalau aku tengah menguping pembicaraan mereka. Lalu aku pun dipanggil.

"Yang tadi itu cucuku," kata Kakek Ukaba pada sahabatnya. "Kimin! Kemarilah, mendekat, tidak apa-apa."

Aku ikut menyimak obrolan mereka seraya menggigit sengkulun hangat dan manis. Dari obrolan itu dapat kutangkap kalau sepasang sahabat itu telah lama menjalin hubungan sejak masih belajar di pondok pesantren. Mereka tidak canggung-canggung bernostalgia tentang masa-masa prihatin ketika menjalaninya selama belasan tahun di sana. Dan kisah percintaan Kakek Ukaba dan Nenek juga berasal dari tempat yang sama.

"Bahagia memang tidak harus kaya," tawa Kakek Ukaba ketika mereka membicarakan kehidupan masing-masing setelah meninggalkan pondok pesantren dan membangun keluarga.

"Termasuk tidak didampingi anak-anak? pertanyaan sahabat Kakek itu agak nyelekit menurutku. Sebab, aku tahu, sudah lama sekali anak semata wayang Kakek Ukaba tidak pernah mengunjungi gubuk reyot ini.

"Kami masih punya Kimin," sela Nenek. Aku tersipu dalam waktu lama.

***
SAMPAI tiba saat ini. Aku pun tersipu membayangkan obrolan mereka yang masing menggema di ruang tamu. Kutelusuri suara yang mengambang, jejak-jejak kaki di lantai tanah yang kini telah tertutupi rumput, juga sekalung tasbih yang menggantung di paku jamur tertancap begitu kuat.

Kakek Ukaba pernah berpesan agar aku senantiasa menjaga tasbih yang ia beli dari sahabatnya bagaimanapun keadannya. Bila peru turut menggunakannya agar persahabatan yang mereka jalin bisa membekas dan bisa diceritakan pada anak-cucuku nanti.

Tentu saja aku mau andai jumlah butiran tasbih itu masih utuh. Setelah Kakek Ukaba dan Nenek meninggal, kebahagiaanku berkurang. Tinggal sekalung tasbih yang tersisa. Menggantung sepi, barangkali juga ikut sedih karena kehilangan bagian tubuhnya yang paling berarti: satu butir miliknya hilang entah ke mana.

Aku pernah ingin mengganti sebutir tasbih yang hilang itu dengan butiran baru. Tetapi, perasaanku tidak enak ketika menatap butiran-butiran lama yang masih melekat  beserta kenangannya.

Aku keluar dari rumah Kakek Ukaba yang telah rapuh ini. Tiang-tiang penyangga telah keropok termakan rayap dari musim ke musim. Anyaman bambu sebagai dinding sudah getas. Sementara atap, beberapa kali genting-gentingnya berjatuhan ketika tidak sengaja disenggol oleh sepasang tikus yang saling berkejar-kejaran.

"Bagaimana, Pak Kimin?" tanya seorang kontraktor yang sebentar lagi akan merobohkan rumah Kakek Ukaba dan menyulapnya menjadi tanah yang rata. Tana itu akan kubangun sebagai taman kecil untuk anak-anak tetangga agar senantiasa terisi dengan suara-suara yang ceria.

"Ya, bisa dimulai pagi ini. Tapi tunggu dulu, ada sesuatu yang harus kuambil," kataku memasuki gubuk reyot itu lagi: untuk yang kesekian kali. ***

Purworejo, 2 September 2016

Seto Permada, lahir tanggal 12 Oktober 1994 di Purworejo. Beberapa cerpennya bergabung dalam antologi Ritual Lapaong Astral (TJBT, 2016), CInta laki-laki Biasa (ANPH, 2016), dan Akuarium Melankolia (Ganding Pustaka, 2016).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Seto Permada
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Republika" Minggu 25 September 2016

0 Response to "Sebutir Tasbih yang Hilang"