Secangkir Kopi - Seribu Pintu - Bocah Sial Penghuni Bangsal | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Secangkir Kopi - Seribu Pintu - Bocah Sial Penghuni Bangsal Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:43 Rating: 4,5

Secangkir Kopi - Seribu Pintu - Bocah Sial Penghuni Bangsal

Secangkir Kopi

Itu kopi bukan sembarang kopi
Itu kopi terbaik di negeri ini

Kopi robusta yang diolah alami
dari perut luwak keluar bersama tahi

Aromanya merangi
hitam legam mewarnai sunyi

Tersuguh di secangkir porselin
di atas meja jati bermarmer dingin

"Hmm nikmatnya pagi ini
ditemani kopi secangkir sepi"

Aku tersentak!
ini kopi buatan ayah setlah seratus hari meninggalnya
ibu

Ayah mengidap darah tinggi
jantung berdetak kencang sekali

paru-paru digerogoti tumor ganas
sesak nafas nyawa tinggal seutas

"Kopi ini akan melolosi kekuatan diri
plan-pelan mnyumbati urat nadi
melemahkan tubuh ayah yang ringkih!"
desisku nahan sedih

"Ini bukan sembarang kopi
ini secangkir kopi suci
yang keseratus kali
diolah dari cinta sejati
dari suami yang ringkih
untuk istri yang merepih
di tanah sunyi bergurat sedih,"
sambar ayah tanpa ekspresi

Hatiku tertampar lirih
bulu kudukpun merinding berdiri

Airmataku bergulir
kesetiaan tergelar mengukir

Di depan mata
yang selama ini membuta

"Ini kopi bukan sembarang kopi
ini kopi lambang kesetiaan sejati"
batinku meringkih
merepih

Seribu Pintu 

Subhanallah
Maha suci Allah

Telah kucari jalan lapang tuk pulang
Telah kusibak bayang-bayang kelam menghadang

Namun yang kutuju berujung pilu
Namun yang kutemu pintu yang kelu

Seandainya waktu dapat kuputar
Kan kutapaki jalan terang bersinar

Astagfirullah
Allah maha besar

Seribu pintu telah kubuka lebar-lebar
Seribu pintu yang samar kukira benar

Ternyata langkahku tersesat
Seribu pintu bergelimang laknat

Maafkan aku yang tinggalkanmu
Ampuni aku yang mendustakanmu

Bocah Sial Penghuni Bangsal

Seorang bocah berjalan pongah
menyusuri malam usai tarawih
bocah itu lengah, lupa merapal doa-doa
tanpa sengaja kakinya menghujam
tubuh seekor ular hitam
hingga kesakitan
taring berbisa pun ia tancapkan
do bawah matakaki
hingga jenggirat meledak
jerit tangisan

Kaki membengkak
dilarikan ke rumah sehat
bisa ular ditolak
tiga hari sekarat

Sang bocah yang meremehkan doa-doa
hanya ditemani kakek renta
sementara sang nenek sekarat sakit menua
ayah bunda merantau ke negeri tetangga

Di hari keempat sang bocah telah bugar perkasa
sayang ia tak boleh pulang
lantaran sang kakek tak punya uang
untuk tebus kesembuhan
sang bocah pun ditahan
dipaksa menghuni bangsal
ditemani kecoak dan ketam
nunggu uang tebusan penuh berkah:
Satu juta delapan ratus ribu rupiah!


Dulrokhim, sastrawan Purworejo, kini Ketua KPU Purworejo.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Dulrokhim
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" edisi Minggu 18 September 2016

0 Response to "Secangkir Kopi - Seribu Pintu - Bocah Sial Penghuni Bangsal"