Sekar Keraton Kasepuhan | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Sekar Keraton Kasepuhan Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 21:01 Rating: 4,5

Sekar Keraton Kasepuhan

SEJAK ayahnya meninggal dunia, Durahman hidup berdua dengan emaknya, Surti Ngantiwani, sebagai seorang buruh tani. Hanafi ayah Durahman meninggal ketika sedang meluku di sawah. Empat tahun lamanya mereka berkabung. Ya, memang Hanafi adalah lelaki tangguh dan bertanggungjawab, ia adalah tulang punggung keluarga, sejak memberanikan diri melamar Surti Ngantiwani sebagai turunan ningrat Kasultanan Cirebon, ia bertekad selama hidupnya akan membahagiakan Surti Ngantiwani. 

ANAKNYA Syarief Durahman ia sekolahkan sampai lulus sekolah rakyat selebihnya Durahman habiskan waktu di Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon asuhan Kiai Sanusi Murid dari pendiri Pesantren Babakan, Ki Jatira. Asar menjelang Surti Ngantiwani pulang ke rumah dengan membawa segedeng padi hasil gegemet di sawah Haji Dulgani. Nampak jelas lelah diwajahnya yang semakin menua. Sifat kesederhanaannya mencerminkan ciri khas darah biru Kasultanan Cirebon. Ya, memang Surti Ngantiwani masih memiliki darah biru, sejak menikah dengan Hanafi seorang petani yang hidup sebagai rakyat biasa darah ningrat Surti Ngantiwani luntur, mungkin inilah pilihan seorang wanita sejati yang rela hidup sebagai wong cilik. Sudah menjadi pepakem apabila seorang keluarga keraton wanita menikah dengan pemuda biasa maka darah ningratnya terhapus dengan sendirinya.

“Mak kenapa sih hidup kita sengsara, katanya Emak masih keturunan ningrat,” Celetuk Durahman membuka pembicaraan.

Surti Ngantiwani tertegun mendengar pertanyaan anaknya, lamunannya menerawang jauh, terbayang  kembali masa-masa kecil di Kraton Kesultanan, dahulu ia masih dipanggil Nyi Mas Ratu Kusuma Ayu Surti Ngantiwani Diningrat.

“Cung, hidup iku aja ngoyo, kudu bersyukur Gusti Allah iku maha weruh lan ngandita” Jawab Surti Ngantiwani menasehati anaknya.

Tak ada yang tahu semenjak Durahman pulang dari acara Panjang Jimat malam Muludan Kraton Kasepuhan ia mendadak menjadi pendiam. Nanar matanya, tidak bisa membohongi ada kegundahan hati yang disembunyikan. Benar saja, semenjak ia melihat wajah cantik Putri Sekar Kedaton Sultan Sepuh Cirebon. Durahman selalu mengurung diri dikamar, terkadang Durahman tertawa-tawa sendiri, selang waktu yang lain bercakap-cakap dengan bantal guling, persis seperti orang gila.

Durahman akhirnya memberanikan diri untuk bercerita yang sesungguhnya kepada Emaknya, bahwa ia sedang mencintai anak dari Sultan Sepuh Cirebon, Putri Sekar Kedaton yang cantik jelita. Sejak pertemuan dalam acara panjang jimat muludan di Kraton Kesultanan Cirebon, wajah sang putri selalu mengihasi segala hidupnya, ketika sedang makan terbayang wajah sang putri, ketika sedang tidur terbayang wajah sang putri. Durahman selalu ingat rambut panjang sang putri bak mayang terurai, bibirnya kepundung merekah, pokoknya semua tentang Putri Kedaton Cirebon adalah surga bagi Durahman.

“Cung, kamu lagi jatuh cinta? Tiap hari dandan terus, kaya dalang sandiwara Cablek, rambut leles, clana glombrang persis mirip raja dangdut.  Bicara saja anak mana? Anaknya Mang Sarman tah, Cucunya Bi Wasniti tah penjual surabi, atau anaknya Mang Kardipan yang punya gilingan padi?”

”Perkataan Emak menyadarkan lamunan Durahman.

“Bukan Mak, anaknya Mang Sarman kakinya pengkor, cucue Bi Wasniti gagu, anaknya Mang Kardipan bibirnya sumbing”

“Lah terus sapa cung,  biar nanti Emak akan lamarkan, tenang saja kan kita habis panen padi.”

“Anu Mak, mmmm Putri Sekar Kedaton Cirebon.”

Surti Ngantiwani tertegun ia teringat kakeknya, Elang Cerbon yang pernah berucap, “Ndo...Surti Ngantiwani, walaupun anakmu nanti terlahir di tengah desa yang jauh dari keraton, anakmu akan tetap menjadi satria pinandita sebab masih ketetesan darah Sinuhun Kanjeng Sunan Gunung Jati.” Sesaat ucapan Elang Cerbon lenyap, yang nampak dihadapannya hanyalah  wajah Syarief Durahman.

“Durahman kalau kamu masih tetap ingin melamar Putri Kedaton Kasepuhan Cirebon, lebih baik kau pergi dari rumah ini, Emak tidak sudi menjadi ibumu.” Suara Surti Ngantiwani laksana petir di siang bolong memecah kesunyian. Durahman pun pergi meninggalkan rumah ngarayana entah kemana tak tahu rimbanya.

Sementara di Kraton Cirebon, Sultan Sepuh sedang diseba para pinangeran Kraton. Wajahnya murung memikirkan Putri kesayanganya yang sakit parah, banyak tabib di datangkan dari berbagai daerah seperti Rajagaluh, Luragung, Banten, Kawali, Sumedang Larang, Trowulan, Demak, Sunda Kelapa dan daerah lainnya tetapi tidak ada yang mampu mengobatinya. Sultan panik karena satu minggu lagi sang putri akan dinikahkan dengan putra mahkota Kerajaan Paseh.

Sultan akhirnya mengambil keputusan untuk membuat sayembara siapa yang bisa menyembuhkan putrinya, apabila ia perempuan akan dijadikan anak, dan apabila laki-laki akan dinikahkan dengan Putri Sekar Kedaton. Berita pun tersebar luas.

Di dalam Keraton hilir mudik tamu dari belbagai kerajaan berdatangan, diyakini mereka adalah orang-orang yang gagal mengikuti sayembara. Di depan gerbang kraton tampak hulubalang  yang beringas. Matanya memandangi kedatangan Durahman yang berperawakan ceking memakai iket wulung, celana kombor, baju batik mega mendung dan kain sarung di pinggangnya.

“Pengemis dilarang masuk” bentak salah satu hulubalang yang tinggi besar.

Ribut adu mulut di gerbang kraton terdengar sampai ke telinga Sultan. Beliau menanyakan duduk perkara yang terjadi. Jelas kiranya maksud pemuda yang disangka pengemis oleh hulubalang berniat untuk ikut sayembara. Setalah dipersilahkan masuk, sang pemuda meminta segelas air putih, untuk dicampurkan dengan ramuan yang telah ia racik. sang pemuda meminumkan dua tiga tegukan ke mulut sang putri.

Lima menit kemudian, keringat dingin keluar dari tubuh sang putri. Ia bangkit dari tidurnya, sesaat sang putri meminta untuk diantar ke belakang puri keraton. Sekonyong-konyong sang putri ingin buang air besar.

Sultan menjadi semakin panik, “Hai pemuda apabila terjadi yang tidak-tidak dengan putriku kau akan dihukum pancung di alun-alun.” Sultan berkerut kening.

Karena Sang Putri tidak keluar-keluar dari puri Istana. Sultan semakin gelisah ia menggap sang pemuda meracun sang putri, karena buang air besar terus menerus. “Pengawal tangkap pemuda itu.”
“Tunggu, tunggu sebentar...Pemuda itu telah menyelamatkan nyawa hamba dia tidak bersalah” Sela sang putri yang baru keluar dari puri keraton.

“Lepaskan dia prajurit!” Hardik Sultan.

“Kau pemenang sayembara, anak muda!”

Seminggu setelah itu datanglah rombongan dari Paseh membawa lamaran yang dahulu sudah disepakati Sultan Cirebon dengan Kerajaan Paseh. Sudah jatuh tertimpa tangga pula, kebingungan Sultan semakin menjadi.

“Nak Mas Durahman saya memohon maaf, karena sebenarnya Putri Sekar Kedaton sudah saya jodohkan dengan Pangeran Paseh. Sebagai penggantinya silahkan mintalah apapun keinginanmu, karena nak mas telah menyembuhkan putri saya.”

Dengan wajah penuh hormat Durahman berucap “Saya hanya orang biasa Kanjeng Sultan, saya merasa bangga sudah memberikan yang terbaik untuk Kesultanan Cirebon, hamba tidak meminta apa-apa, saya hanya berdoa semoga Putri Sekar Kedaton hidup bahagia.”Ucap Durahman sembari memohon pamit.
Ramadhan, 20 Juni 2016.

Keterangan:
Elang: gelar kebangsawan Keraton Cirebon. 
Meluku: Membajak sawah memakai kerbau. 
Gegemet:Mengais padi yang tercecer. Ngarayana: Mengembara.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Wahyu Iryan
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Pikiran Rakyat" Minggu 18 September 2016



0 Response to "Sekar Keraton Kasepuhan"