Tak Sehidup Maka Semati | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Tak Sehidup Maka Semati Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 11:27 Rating: 4,5

Tak Sehidup Maka Semati

POLISI menemukan satu jasad laki-laki dan satu jasad perempuan. Keduanya tergeletak bersimbah darah dengan kondisi mengenaskan. Orang-orang mengenal mereka sebagai pasangan kekasih yang akur, satu sama lain saling peduli, bahkan kata seorang sahabatnya; si lelaki maupun si perempuan amat saling menyayangi. Semua orang yang mengenal mereka dibuat bingung, apa motifnya sehingga dua pasangan itu mengakhiri hidupnya di tengah rel kereta api.

"Kok bisa begitu ya? Padahal merteka sangat cocok," kata lelai paruh baya yang sedang menikmati sebatang rokok di warung.

"Betul, dan menurutku mereka berdua itu muda-mudi yang sopan," timpal wanita tua yang punya warunng.

"Apa mungkin salah satu dari mereka ada yang tertabrak kereta? Terus karena tidak sanggup untuk berpisah, yang satunya lagi sengaja emnabrakkan diri," tebak seorang gadis remaja yanng sedang jajan.

"Kamu kebanyakan nonton sinetron Neng," tanggap lelaki tua di sela-sela hembusan rokoknya, tertawa kecil.

Lelaki paruh baya, wanita tua yang punya warung, maupun gadis remaja itu, tidak ada yang tahu kejadian sebenarnya seperti apa, dan polisi juga kebingungan dalam mengungkap kasus ini. Kedua belah pihak dari keluarga korban, saling menuding dan menyalahkan, padahal penyebabnya hanya satu; lelaki paruh baya egois dari pihak perempuan, karena aku tahu. Maka dari itu aku suka merasa bersalah, bila mendengar orang yang membicarakan mereka.

"Gara-gara pengaruh anak kamu, anak saya jadi meninggal," gertak ayah tiri si perempuan, dalam pertengkaran tempo hari.

"Anda jangan sembarangan bicara! Anak saya adalah pemuda yang baik-baik." Ibu dari si lelaki melakukan pembelaan.

"Sudahlah, ini smeua sudah takdir Yang Maha Kuasa." Ibu kandung si perempuan mencoba menengah.

"Kalian tidak memahami perasaan mereka, makanya itu terjadi, batinku, sambil mengintip dari jendela kamarku. Rummahku, dan rumah pasangan yang telah meninggal itu memang tetanggaan. Setiap kali ada pertengkaran, aku ingin sekali menghampiri dan mengungkapkan yang sebenarnya, tapi aku takut tidak ada yang percaya. Aku beranjak dari bangku warung, karena di sini semuanya membicarakan kematian mereka, sementara hatiku kegetiran.

"Lelakinya ganteng, perempuan cantik, tapi meninggalnya dengan cara seperti itu," ucap seorang ibu, tepat ketika aku lewat.

"Saya juga tidak menyangka, padahal ya Bu, mereka anak yang baik-baik," kata ibu yang satunya lagi.

Tiba-tiba terdengar suara sirine mobil polisi, para warga berbondong-bondong ke arah rumah dua orang yang seminggu lalu tewas tertabrak kereta. Aku yakin, ini pasti ada hubungannya dengan kejadian itu, aku pun segera pulang ke rumah agar bisa mengintip dari jendela kamar. Seorang lelaki berambut gondrong mengaku melihat ketika peristiwa itu terjadi, dan dia memberi kesaksian.

"Sebelumnya terjadi pertengkaran, kemudian lelaki itu mendorongnya ke tengah rel, mungkin karena ketakutan, diapun sengaja bunuh diri."

Bohong, orang itu memberi kesaksian palsu, kejadian yang sebenarnya tidak seperti yang diucapkannya. Dia hanyalah orang bayaran dari ayah tiri si perempuan, dan tentunya tidak begitu saja tuduhan itu terucap dari mulutku. Dua hari yang lalu aku melihat gerak-gerik mencurigakan ketika ayah tirinya menemui lelaki gondrong di gang kecil dekat pos ronda, dan karena penasaran, aku menguping.

"Pokoknya kamu harus akting sebagus mungkin, ini dp lima juta rupiah, dan kalau kamu berhasil, nanti saya tambahin sisanya sepuluh juta," katanya sambil menyerahkan uang dalam sebuah amplop.

"Tenang saja Bos, semuanya pasti beres."

"Oke, ingat jangan sampai gagal!"

Ayah tirinya benar-benar jahat, dan sekarang orang-orang akan membenci lelaki baik itu tanpa tahu kebenarannya. Aku memang salah, karena tidak berani bicara, aku tidak mau terlibat, maka dari itu aku memilih diam saja.

***
"DASAR lelaki brengsek!" umpat seorang gadis remaja kepada teman ngobrolnya di pinggir jalan, ketika menunggu bus untuk berangkat sekolah.

"Iya, tega banget, membunuh pacarnya sendiri," respons gadis berseragam putih abu.

"Aku sih nggak mau punya pacar seperti itu."

"Aku juga."

Bus yang ditunggu akhirnya datang, mereka naik dan aku juga ikut naik untuk pergi ke sekolah yang sama dengan dua gadis remaja tadi. Di mana-mana, semua orang membicarakan pasangan sehidup semati itum bahkan dalam bus sekalipun. Dan aku begitu kaget mendengar ucapan lelaki dari sekolah lain yang duduk di sebelahku.

"Semua orang memvonis lelaki itu, padahal dia tidak pernah menyelakakan pacarnya."

"Memangnya kamu tahu kejadian yang sebenarnya?"

"Aku tahu, aku melihat semuanya."

Aku ralat perkataanku yang sebelumnya; bahwa hanya aku yang melihat. Karena ternyata ada orang lain juga yang melihat, dan ini menjadi kabar baik, semoga kebenaran akan segera terbongkar. Tanpa basa-basi kuceritakan padanya, kalau aku juga tahu dan aku ingin mengajaknya untuk memberi kesaksian yang seasli-aslinya.

"Aku setuju." Dia mengiyakan ajakanku.

"Tapi, kita tidak punya bukti."

"Tenang, aku sempat merekam kejadian itu."

Aku jadi tidak sabar, ingin segera pulang skeolah, agar bisa menjelaskan dan menunjukkan rekaman dramatis realistis kepada polisi. Mataku sudah gatal ingin melihat ayah tiri si perempuan dan orang bayaran itu meringkuk dalam sel tahanan karena telah memberi kesaksian palsu. Hatiku merasa jengkel saat dalam kelas, topik yang diperbincangkan para siswi menggambarkan betapa kejam lelaki yang sudah membunuh pacarnya sendiri. Aku yakin, mereka semua tidak akan bicara begitu, kalau sudah tahu faktanya nanti.

"Kalau saja lelaki itu masih hidup, dia pantas dihukum mati," ucap gadis centil, membuatku naik darah.

"Gregetan aku," tambah seorang teman yang sama centilnya.

Satu menit seperti sejam, satu jam apalagi. Tapi saat-saat menyebalkan itu telah berlalu, kini aku dan saksi mata kedua sedang dalam perjalanan menuju kantor polisi. Hati benar-benar geram, mau segera sampai, supaya semua orang tahu; saat itu hari Minggu, tepat pukul setenga enam pagi, seperti biasa aku membuka blog almarhum dan almarhumah, untuk membaca cerpen terbarunya. Jujur, mereka berdua penulis favoritku, karena itulah aku selalu mengikuti kegiatan mereka. Pagi itu aku melihat keduanya sedang mengobrol di depan rumah dengan emmasang wajah murung, kemudian aku mengikuti kemana mereka pergi, hingga sampailah ke dekat rel kereta di samping jalan yang sudah tidak terpakai.

"Jangan lakukan itu!" Si perempuan memohon.

"Maafkan aku," kata si lelaki tetap dalam pendiriannya.

"Kumohon jangan!"

"Lebih baik aku mati, aku tidak akan sanggup melihat kamu bersanding dan disentuh oleh lelaki lain."

"Kamu tahu kan? Ini bukan keinginanku, Ayah tiriku yang memaksa aku untuk menikah dengan lelaki pilihannya, dan lagipula kita masih bisa memperjuangkan cinta kita."

Belum sempat lima detik dia habis bicara, si lelaki sudah keduuan meloncat dan terseret hingga sepuluh meter, mata indahnya mengeluarkan hujan, menyaksikan yang tercinta bermandi darah, kemudian si perempuan berbisik pada telinga lelaki yang sudah tidak bernyawa itu.

"Seperti janji kita, saat jari kelingking  bersentuhan, kita mengucapkan kesetiaan, sehidup semati, dan sekarang aku akan menepati janji itu, tunggu aku sayang."

Lalu sang perempuan berbaring di tengah rel sambil menggenggam tangan lelakinya yang sudah berpoles darah. Tiba saja dua orang lelaki bertato mendekatinya dengan maksud akan memperkosa, si perempuan pun segera bangun dan berlari hingga tertabrak sebuah sepeda motor yang sedang balapan di jalanan yang sudah tidak dipakai, dengan sisa tenaganya dia berjalan menghampiri  sang kekasih sampai akhirnya meninggal di dekatnya.

Kantor polisi sudah di depan mata, aku bersama lelaku yang kutemui di bus tadi pagi siap mengungkapkan kebenaran. (k)

Tasikmalaya 2 Januari 2016

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Hari N Muhamad
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" edisi 25 September 2016

0 Response to "Tak Sehidup Maka Semati"