Tanda Baca | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Tanda Baca Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 01:14 Rating: 4,5

Tanda Baca

:-(

sebuah tiang lampu berdiri
di depan rumah kayu
kepalanya tertunduk lesu
meningkahi suami
yang cemas menunggu
di mulut pintu

lampu akan menyala
tersenyum lugu
seterang gigi dalam iklan pastagigi
yang putihnya palsu

nanti, tentu ketika istrinya
pulang dari balik petang
yang membawakannya
oleh-oleh: sekeranjang bimbang,
sebungkus emosi yang gampang
meledak sekehendak hati,

dan sebuah buku baru
berisi kiat memadamkan cahaya
dan merubuhkan tiang lampu

Rumah Mertua, 2016


:-)

sampaikan kabar bahagia
kepada perjaka
yang punya debar rahasia
dia tak butuh bertanya
apakah sepasang mata
terpejam pada tanda titikdua
: ditahannya luap laut luka
ditampungnya sungai tawa
lalu berjumpa di muar
yang berdiam di balik payudara
lama tuna sebatang rusuk bengkoknya

sampaikan sebuah nama
tak perlu ditanya kelaminnya
dia akan lengkungkan tutupkurung
ke bibirnya yang lama cekung
ke pasang matanya yang murung
: nama itu berasal dari jiwanya sendiri
pemiliknya kepadanya juga mencari
separuhnya napas separuhnya lagi ruh
bila kabar tersampaikan sungguh
maka gulita lumpuh
lalu terbit cahaya subuh.

Rumah Mertua, 2016


:-S

lampu-lampu
menyala
seisi kota lupa
langit gulita
padahal masih carut
negeri kita
siang-malam
sama pekatnya

mengapa tawa
di pesta-pesta
sedang luka
nganga
tak jua alpa

-- kau juga lupa
derita
bir dan bibirmu
sama berbusa

Rumah Mertua, 2016


<3

kerinduanmu menjelma angka-angka
yang dikirimkan sinyal seolah melayang di udara
dan kuterima di mesin-mesin tunai
rindu macam apa yang kau semai

aku tak mampu membalas angka dengan angka
melainkan kusediakan kulah bagi rintik le-
mah hujan senja
kutampung hingga tak terasa mata merah saga
bunga-bunga mengapung ikan-ikan bere-
nang di dalamnya
dan wajahmu tak ubahnya seekor katak
meloncat ke dalam benak

kerinduanmu yang berupa nominal
mengalahkan hatiku yang lautan
tak terhitung berat tak terukur kedalaman
dengan angka-angka
tetapi tak bisa membeli pulsa
sebagai bekal menyapa
pagi, siang, sore, malam
: ’sayang sedang apa?‘

hanya pesan kukirimkan
lewat udara yang sama
sinyal yang sama,
ponsel jadulku menyapa
ponsel pintarmu dengan tanda <3

hatiku memberi jarak
dan hatimu yang mengukur

Rumah Mertua, 2016


:-*

ciumanku, bibir Khidir di kening Musa
sebelum berpisah, kepadamu
ciumanku takzim sebenarnya.
aku berkata:

berangkatlah, kekasih
kau kini mengerti
hati punya sepasang mata
kita bisa saling berpandangan
dari jendela-jendela jiwa.
jarak kita hanya angka
sedangkan cinta
lebih dekat daripada
urat leher kita sendiri
ibarat detakku dan jantungmu
berdiam pada dada yang sama.“

lalu kau berangkat
tatapanku
mata Khidir menatap
langkahmu
sepasang kaki Musa yang mulai berangkat
membawa keyakinan kuat.
aku berkata (dalam hati):

ciumanku sebenarnya tidaklah abadi
tetapi jejak di keningmu
tak pernah fana.“


Rumah Mertua, 2016-09-28


Catatan Admin Klipingsastra:
Judul "Tanda Baca" pada halaman ini sejatinya adalah hanya sebagai pengganti di halaman online, pasalnya judul asli dari pengarang, yaitu tanda :-( :-) :-S <3 dan :-* tak bisa diinput sehubungan kendala teknis. Mohon maklum, dan terima kasih.


Raedu Basha, lahir di Bilapora, Sumenep, Madura, 3 Juni 1988. Pemred Penerbit Ganding Pustaka dan mahasiswa S2 Antropologi UGM Jogjakarta. Karyanya antara lain. Matapangara (sepilihan puisi, 2014)

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Raedu Basha
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Jawa Pos" Minggu 25 September 2016

0 Response to "Tanda Baca "