variasi cerita candi tikus - yi gumbrek tidak mencuci piring - suatu kali di jolotundo - lewat di trowulan - jayengrono | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
variasi cerita candi tikus - yi gumbrek tidak mencuci piring - suatu kali di jolotundo - lewat di trowulan - jayengrono Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:13 Rating: 4,5

variasi cerita candi tikus - yi gumbrek tidak mencuci piring - suatu kali di jolotundo - lewat di trowulan - jayengrono

variasi cerita candi tikus

sudah lama sejak seorang putri melepas kemben
menangkup dan menakar payudara sendiri
sebelum berendam dalam kotak bata kiri
dan seorang lelaki dengan bakat mengintai dan menerkam
diam seperti bayi tikus di seliang lubang pancur

lelaki itu tahu cara bersabar
putri itu tahu cara sembrono
dan seorang raja di wilwatikta tahu cara terbuai

sekian tahun kemudian, jauh setelah paregreg,
ketika orang-orang dengan surban melintas dan memintas
samudra dan marabahaya
serta membawa sesembahan baru
seekor bayi tikus telah tumbuh menjadi tontong
dengan taring setajam dan sekokoh keris tempaan logam meteor
lalu menjadikan sang raja sekadar priyayi tanpa kekayaan
serta mengambil tempat mandi si putri
serta menyakiti harga diri arwah para leluhur
yang telah kekal sebagai batara dalam candi-candi

harga diri yang menaikkan lumpur brantas
dan menjatuhkan lahar welirang
dan mengubur wilwatikta – petirtaan itu juga, terang saja –
tanpa pernah menduga bagaimana seekor tikus
adalah penyintas paling tangguh
dan ratusan tahun kemudian
seorang petani dengan padi gagal panen
mengeluh, ”ya allah ya allah, azab macam apa
kautimpakan pada lelaki tua yang tak pernah lepas
dari wudhu ini”

entah doa entah cangkul dan linggis
yang kemudian menguak timbunan tanah
dan menyebabkan si petani sempurna kehilangan
apa yang menopang kehidupannya
dengan jalaran sejumlah orang dari museum
”ini situs,” kata mereka, ”ini situs
dan ini tanah negara”

yi gumbrek tidak mencuci piring

ia datang dari jauh, dari satu kampung
yang tak tertampung kitab
sebagai empu dari para pencuci piring

”dewa memberkahimu dengan bakat langka
dan seharusnya kepada dewa pula kau mengabdikan bakat langkamu,”
seseorang berkata, mungkin istrinya, mungkin dewi
yang menyaru diri istrinya

tapi dewa, yi gumbrek yakin namanya wisnu, yang berdiam
di wilwatikta, tak pernah menjatuhkan pandang
pada perkara mencuci piring, tapi keimanannya
membuatnya tahu bahwa dewa tak perlu
menggunakan mata untuk menyaksikan sesuatu

hingga tiba suatu hari
jauh setelah paseban digenangi tawa yang mengekalkan
dendam mada dan kembar,
wuruk mengetahui bahwa kebesaran kerajaan dipertaruhkan
dalam persoalan piring dan gelas kotor
dan demikianlah segaran segera dibangun

”raja-raja akan datang dari gurun, seram, tanjung pura,
haru, pahang, dompo, bali, sunda, palembang,
tumasik, dan segalanya
dan mereka akan makan minum dari piring dan gelas emas,”
demikian yang mulia wisnu bersabda – yi gumbrek jatuh dalam haru
abadi begitu tahu betapa sang batara, untuk pertama
dan terakhir, mengangkat derajat kaum pencuci piring
tapi imbuhan sabda sang paduka lekas menyadarkannya
betapa sementara keabadian –
“dan sebab kita kaya, kita tak perlu mencucinya”

di segaran, dalam pesta perayaan
piring dan gelas emas dibuang ke dalam kolam
kemegahan ditegakkan
dan yi gumbrek yang keliru
terpuruk dalam kedukaan dan perasaan
tak berguna

ia pergi
meninggalkan para dewa, meninggalkan keikhlasan pengabdian
dan tersuruk dalam selembah-lembahnya paria

ia meluputkan betapa ketika para raja pergi
sebentang jaring di dasar kolam diangkat
dan para pencuci piring, dengan keluhuran keterampilan
menggosok pelan dan cermat piring serta gelas angkatan
seperti kini orang-orang menggosok pelan dan cermat
situs dan mitos yang ia punggungi, telanjur ia kecewai

suatu kali di jolotundo

”di tempat ini,” katamu, ”air bekerja
dengan cara yang tak ada di tempat lain”

aku menjuntaikan kaki ke dalam air
menciptakan lingkaran riak yang melebar lalu hilang
ikan-ikan – sejumlah orang yakin itu adalah ikan
yang sama semenjak mula meski tak ada yang pernah
menyebut (atau tahu?) jumlah –
mengusapkan lendir pada tungkakku

”sebagian orang abadi dalam wujud ikan
meski namanya akan dilupakan”

”dan yang lain?” aku melempar tiga kuntum melati
dan kaum perenang itu merubungnya, memindahkannya
ke dalam lambung bersisiknya

”mereka surut ke masa lalu setiap kali merendam diri
semakin lama semakin muda, mengecil seperti kanak
lalu belajar merangkak bagai bayi
sebelum lenyap serupa orang yang tak pernah dilahirkan

tapi tidak sepersis itu
sebab bagaimana pun mereka pernah ada

mereka bernama, dan kita mengingatnya”

sore itu, kita sama menimbang
keabadian perlu harga
dan hingga malam jatuh dan kita mesti berkemas
kita tetap belum menentukan apakah kita ingin meneruskan hidup sebagai ikan
atau membiarkan nama kita belaka dalam ingatan kaum
pembaca serta pembakar dupa

lewat di trowulan

udara tidak bergerak kecuali menghembuskan
suara dari zaman lalu
tentang rencana wiraraja, taktik penyerahan
diri pada kediri, tarik, seorang serdadu madura
dengan kerongkong dan lambung kering, batara bernama
wijaya, kalagemek dan sekian pembangkang celaka,
tribhuwana dan amukti palapa, ayam cerdas dan mada,
dan semua yang berbau kebesaran dari apa yang dibayangkan
tentang nusantara, kampung-kampung perkasa

dan tak ada bubat
(sebagai gantinya, mereka menjahit
ikatan kuat antara kidung sundayana dan kolonial
belanda serta siasat terkutuk bernama adu domba)

di sini, selain udara, batu-batu dan apa yang dikira orang mati
akan dipaksa hidup
dan bercerita perihal apa yang mungkin saja tak pernah ada

jayengrono

sekian tahun kemudian
seseorang akan menulis namanya dengan
sedikit catatan kaki: ia tak lebih desas-desus belaka,
tak lebih

ia tak menginginkan itu
seperti tak ia ingini sebuah hari
di mana tujuh serdadu, hanya tujuh,
dengan tiga bayonet,
datang ke ketemenggungan di surabaya
menyita beselit pusaka

dan ia bahkan tak mampu berkata hancuk
dan orang-orang, satu per satu,
menyusun dan mempertanyakan ulang ulah
keberaniannya

beliau pernah marah,” ucap seorang dari wiyung
”lalu dicelupkannya kaki ke sungai dan air surut,
dijejakkannya ke gunung dan lereng-lereng longsor,
dikepalkannya tangan ke udara dan petir membelah langit”

namun hari itu, ketemenggungan menjadi singup dan singun
meski terdengar kemericik air dari kolam, dan tak ada tanah longsor,
dan langit sebiru langit pada musim kemarau tahun lalu

betapa nasib tak lebih kacang yang mengapung
dalam genangan minyak penggorengan

dan seseorang, yang sayangnya tak mengenal hurup-hurup
dan karenanya kalis dari ingatan
berkata, ”jayengrono tak lebih dari jago celipir
ia hanya gagah di hadapan perempuan desa
yang gampang terbujuk
oleh kilau cinde puspita”


Dadang Ari Murtono. Lahir dan tinggal di Mojokerto, Jawa Timur. Bukunya yang sudah terbit adalah kumpulan cerita Wisata Buang Cinta (2013) dan Adakah Bagian dari Cinta yang Belum Pernah Menyakitimu (2015).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Dadang Ari Murtono
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" edisi Sabtu 17 September 2016



0 Response to "variasi cerita candi tikus - yi gumbrek tidak mencuci piring - suatu kali di jolotundo - lewat di trowulan - jayengrono"