Badut! | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Badut! Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 19:39 Rating: 4,5

Badut!

PERASAANKU mendadak risih begitu mendapat tugas penyusunan makalah dari Pak Danang, dosen mata kuliah Sosiologi Perkotaan. Aku kebagian menyusun makalah tentang profesi badut sebagai salah satu mata pencaharian masyarakat kota lapisan bawah. Ya, dari berbagai macam profesi yang ada, aku kebagian badut. Mengapa harus aku yang kebagian badut?

Mengapa bukan Danisha ataupun Fika? Mereka berdua kan penyuka badut. Sedangkan aku? Aku takut badut. Seingatku, sudah dua kali badut membuat hidupku tak nyaman. Pertama, saat aku dipeluk badut ketika aku masih berumur lima tahun, tangan dan badanku gatal-gatal semalaman hingga sulit tidur.

Kedua, setahun setelahnya, aku pernah digendong badut sampai terjatuh dan jari kelingking tangan kiriku keseleo hingga harus dibawa ke tukang urut. Dan, semenjak itu, aku takut badut. Aku benci sama badut. Setiap melihat badut kostum apa pun, aku pasti merinding, bahkan teriak sekencang-kencangnya. Lantas sekarang, aku harus mewancarai salah seorang badut sebagai nara sumber? Oh my... God!

Danisha dan fika menghampiriku yang duduk termenung di koridor  kampus.

"Deuuuh, yang kebagian badut langsung terkulai lemah begini," sapa Fika cekikikan.

"Nggak lucu," sahutku kesal.

"Ya udah, kita tukeran aja, gimana?Kamu yang bahas ojek, mau?" Danisha menawarkan.

"Nggak akan bisa. kamu kayak nggak kenal Pak Danang aja.  Pak Danang palingan  juga bakal bilang, "TUgas itu tidak boleh ditolak ataupun dikeluhkan,' Ya, kan?"

"Iya juga, sih ..."

Tidak juga mendapatkan solusi, kami berpisah. Danisha dan Fika mengambil kelas mengulang mata kuliah semester satu. Aku melangkah menuju kantin. Membeli segelas es jeruk kupikir akan meredakan sedikit kegelisahan.

"Kamu kenapa, Res?" tanya Brama, lalu duduk di sebelahku.

"Nggak apa-apa. Oya, kamu kebagian tugas apa?" jawabku, sembari balik bertanya.

"Tukang becak. Kamu?"

"Badut."

"Kamu kenapa?"

"Aku takut badut."

"Hahaha!"

Aku bangkit, pergi meninggalkan Brama.

"Resti, tunggu!" Brama menyusulku.

Aku tetap berjalan. Risihku berganti jadi amarah.

"Maaf dong, Res, aku cuma nggak nyangka kamu fobia sama badut," Brama berlagak memohon.

Aku masih tetap mengacuhkannya.

"Oke, gini aja, aku yang ambil bagian wawancara narasummber kamu. Kita tukeran, gimana?"

Aku menghentikan langkah.

"Pak Danang?"

"Pak Danang nggak perlu tahu. lagian kita kan hanya tukeran wawancaranya aja. Selebihnya, mengenai literatur dan hal-hal lain, kita tetap pada tugas masing-masing. Kamu setuju?"

"Oke, setuju!"

"Besok pagi kita tukeran daftar pertanyaan untuk wawancaranya. Oke?"

"Oke!"

***
"Huh! Menyebalkan!" Aku menyandarkan diri di koridor kampus.

Pak Danang meminta semua pemakalah agar melengkapi dokumentasi penunjang. Fotoku bersama badut harus diampirkan. Begitu juga Brama, fotonya bersama tukang becak yang kuuwawancarai pun harus turut disertakan. Brama tidak masalah, ia tinggal datang menemui tukang becak yang mangkal di dekat kompleks rumahku. Nah, aku? Aku harus melacak rumah si badut yang menggunakan kostum Angry Bird yang seminggu kemarin diwawancarai Brama. Dan sialnya lagi, ia adalah badut keliling.

"Nanti sore aku akan lacak alamatnya Pak Mus, mudah-mudahan besok kita bisa langsung ke tempatnya," Brama coba menenangkan.

"Tapi, tetap aja Bram, aku harus fotoan sama dia pas dia lagi pakai kostum badutnya," keluhku.

"Kamu merem aja, Res," usul Brama.

"Tetap aja aku takut," tukasku.

"Ya, mau gimana lagi, Res."

***
AKU dan Brama menyususri lorong-lorong kumuh di kawasan pinggiran ibu kota. Demi foto bersama badut.

"Itu rumahnya," Brama menunjuk sebuah rumah reyot yang terbuat dari bahan-bahan bekas.

Brama mempercepat langkah, aku mengikutinya dari belakang.

"Assalamualaikum."

"Waalaikum salam, silakan masuk, Mas, Mbak..."

Aku terenyuh melihat tubuh ringkih Pak Mus. Kurus sekali, batinku.

"Mas Bram ini ... yang kemarin katanya kepingin fotoan bareng badut, ya?" tanya Pak Mus membuka obrolan lantas terkekeh.

"Sebenarnya kawan saya yang ingin fotoan sama , maaf, badutnya Pak Mus," Brama menjelaskan.

Pak Mus membalikkan badan hendak ke belakang mengambil kostum badutnya.

"Pak Mus, maaf, Pak, boleh saya mengobrol sebentar dengan Bapak?" tanyaku mengentika langkahnya.

Pak Mus tersenyum lalu mempersilakan kami duduk di atas tikar. Brama memasang mimik heran menatapku. Tadinya kamu berencana sekadar berfoto lalu langsung pulang.




luh lima tahun yang lalu, saya pernah bekerja sebagai pegawai honorer di kecamatan dan akhirnya saya dipecat," kenangnya lirih.

"Kenapa, Pak?" Bram ikut penasaran.

"Uang suap dari salah seorang warga yang sesungguhnya orang itu adalah pengusaha minuman keras," jawab Pak Mus dengan suara bergetar menahan marah.

Aku dan Brama terus tertarik mencari tahu tentang perjalanan hidup Pak Mus di masa lalu, sampai akhirnya menjadi badut keliling di ibukota. Ya, penuturan kisah yang begitu tangguh menurutku. Bagaimana seorang Pak Mus mampu menolak mentah-mentah godaan uang yang ditawarkan kepadanya dan memilih dipecat serta hidup serba kekurangan di kemudian harinya. Bahkan, anak istrinya pun meninggal dunia karena tidak mendapatkan pengobatan yang layak sehingga memaksa Pak Mus hidup seorang diri pada masa tuanya.

Waktu pulalah yang menyudahi perbincangan antara aku, Brama, dan Pak Mus. Dengan tidak melupakan tujuan semula, aku memberanikan diri untuk berfoto dengan badut yang sejatinya beliau adalah soerang patriot Ibu Pertiwi. Meminjam mutiara kata yang pernah dilontarkan oleh Gie, "Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan." Itulah kata-kata yang pantas kusematkan dalam ingatanku tentang Pak Mus. Perasaan takut terhadap badut perlahan-lahan mampu dikalahkan oleh perasaan kagumku terhadap sosok yang berada di balik kostum badut itu sendiri. Dua jepretan pun menuntaskan pertemuanku dengan Pak Mus.

"Lain waktu saya boleh mampir ke sini kan, Pak?"

"Gubuk saya selalu terbuka untuk Mbak Resti."

"Terima kasih, Pak."

***
DI ruang tamu aku duduk sendirian sambil menikmati sebungkus kerupuk udang yang juga ditemani secangkir teh hangat. TV unyalakan. Diberitakan bahwa salah seorang ketua komisi di DPRD telah terjaring operasi tangkap tangan KPK. Dari operasi tangkap tangan tersebut, KPK menyita barang bukti sebesar 1,14. Si oknum pejabat terlihat santai dan masih menyempatkan diri tersenyum ke arah kamera. Sontak darahku mendidih.

"Badut!" Kulemparkan kerupuk yang ada di tanganku ke layar TV. ***

Abdullah Salim Dalimunthe, lahir di Medan, 05 November 1982. Alumnus Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran. Gemar menulis cerpen.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Abdullah Salim Dalimunthe
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Republika" edisi Minggu 9 Oktober 2016


0 Response to "Badut!"