Balada Sebuah Apel - Multatuli - Lamaran | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Balada Sebuah Apel - Multatuli - Lamaran Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:49 Rating: 4,5

Balada Sebuah Apel - Multatuli - Lamaran

Balada Sebuah Apel

Dari sebuah pohon
kekasihku lahir dan tumbuh
wajahnya mungil dan licin
merah basah-bulat dan padat

di bibirmu kita berpagutan
di mata mereka cemburu menyala-nyala

“mengapa memagutnya di depan seorang anak?
ketika suara belum tiba pada senja yang digariskan.”

Dari sebuah pohon
kekasihku mengenal cinta dan perpisahan
lebah madu dan musim gugur
mekar bunga dan buah ladu

di tanganmu kita bertemu dan berpisah
di dada mereka amarah menyentuh puncaknya

“mengapa kau mengirisnya di depan semua orang?
ketika panggilan belum tiba pada malam yang
terbuka.”

Engkau menahan jawaban, ucapmu berkibar lirih
dan perlahan.

Bandung, 2016

Multatuli

Masih mengingat untuk apa aku datang
tanjakan curam
akar-akar kiara di gigir jalan
mengantarku ke ceruk lembah di sela gunung-
gunung perawan

Multatuli, Multatuli
inikah yang membuatmu berpaling dan menjauh
dari kemasyhuran?

Nyanyi penumbuk padi adalah lagu asali
menelisik dalam batinku
menembang tenang di pucuk rembang

angin merundukan padi ke selatan
semakin condong, semakin tinggi dan berisi

o, inikah kisah yang dibuka dalam buta, dalam luka
antara cangkeuteuk-rangkasbitung
antara ciujung-cikahuripan.

Petang merupakan wangi teki-tekian
ke udara, ke setiap persimpangan dari pintu ke pintu
melubangi percakapan di beranda dan halaman

sementara anak-anak mengeratkan genggaman
tangan
membacamu berulang riang
melambaikan masa lalu
mengajak tualang dan bertahan dalam hening
perbukitan.

Banten, 2015

Lamaran

Akan datang padamu
pertanyaan semerah gincu
sehangat perasaan cinta anak-ibu
di sebuah rumah, ketika Februari berubah menjadi
taburan hujan.

Ia bertanya;
“sejak kapan kau mengidap insomnia? khayal yang
mengerumunimu bertahun-tahun.”

Dan di saat ia diam
kau akan merasa begitu riang
seolah cinta telah merdeka begitu lama.
Lening, meresap hingga ke tulang belakang.

Bandung, 2016


Dian Hardiana, lahir di Bandung, 25 Januari 1983. Beberapa puisinya pernah dihimpun dalam antologi bersama seperti; Herbarium (2007), Wajah Seorang Deportan (2008), Berjalan Ke Utara (2010), Gelombang Puisi Maritim (2016), dan lain-lain. Pernah bergiat di Arena Studi Apresiasi Sastra UPI Bandung. Kini ber- sama beberapa kawan mengelola situs Buruan.co dan Rumah baca Taman Sekar Bandung.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Dian Hardiana
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" Minggu 30 Oktober 2016

0 Response to "Balada Sebuah Apel - Multatuli - Lamaran"