Berbincang Menunggu Giliran | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Berbincang Menunggu Giliran Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 18:09 Rating: 4,5

Berbincang Menunggu Giliran

MENGANTISIPASI sekiranya mesti antre menunggu giliran, ketimbang sebatas bergeming sembari melihat lalu-lalang kendaraan, maka kubawa sebuah buku yang bisa kubaca untuk mengisi waktu. Bisa saja sebenarnya kumanfaatkan telepon seluler untuk berselancar ke mana-mana, selayaknya yang dilakukan kebanyakan orang belakangan ini, namun sengaja kubatasi diri untuk tidak terlalu tergantung pada piranti teknologi. Lagi pula aku masih bisa menikmati sensasi membaca dengan membuka-buka lembaran kertas buku, koran, ataupun majalah. Kebiasaan membaca tulisan yang berkualitas lambat laun tentu bisa memperbaiki caraku berpikir dan menyikapi segala sesuatu. Rupanya terdapat sejumlah buku di kamarku, yang pernah kubeli dengan harga murah dalam sebuah pameran sekian tahun silam, yang belum tuntas kubaca. Salah satunya kuambil dan kumasukkan ke dalam tasku. Begitu sampai di tempat tujuan, ternyata ada yang sedang dicukur rambutnya, maka duduklah aku di amben dari bambu. Aku pun mengeluarkan buku dari tasku. Baru saja kubaca satu paragraf, seorang lelaki datang. Ia duduk di sampingku dan membuka percakapan denganku.

“Maaf, buku apa yang sedang Anda baca?”

“Oh, ini karya Kahlil Gibran.”

“Ah, rupanya Anda penggemar sastra? Memangnya kuliah di mana?”

“Dulu, di sebuah universitas negeri.”

“Masih kuliah atau sudah lulus?”

“Tidak selesai.”

“Lalu apa yang Anda kerjakan selama ini?”

“Saya bekerja serabutan saja.”

Sesuatu yang sejatinya tidak kusukai adalah jika ada orang yang menanyakan hal-hal yang sangat pribadi tentang diriku, apalagi orang itu baru pertama kali kutemui. Namun aku berusaha sabar menjawab sedapat mungkin apa pun pertanyaannya untukku. Tentu demi sopan santun jua, mengingat ia jelas jauh lebih tua ketimbang aku. Mungkin seumuran paman atau kakak tertuaku.

“Kenapa kok dulu sampai tidak selesai kuliah?” tanya orang itu, yang sepertinya penasaran ingin lebih mengenal siapa aku.

“Alasan pribadi yang tidak bisa saya sampaikan,” sahutku seraya berharap ia tak bertanya-tanya lagi. Asaku menjadi nyata ketika sang tukang cukur memanggilku karena pelanggan sebelum aku telah tampil dengan potongan rambut terbarunya. Aku pun beranjak masuk dengan perasaan lega karena tak perlu menanggapi perkataan yang sudah mulai membuat hatiku tak nyaman. 

***
Sebenarnya diajak berbincang ketika menunggu giliran di tempat itu pernah kualami pula sekitar sembilan bulan silam. Namun suasananya berbeda karena lelaki yang mengajakku bicara bukanlah orang asing bagiku. Beliau pernah beberapa kali memberi ceramah di masjid kampungku. Lelaki tua itu salah satu guru favoritku lantaran pembawaannya yang humoris. Pengurus masjid kami suka mengundangnya karena beliau tidak bersedia dibayar dengan amplop berisi uang. Pulang dengan membawa kotak berisi makanan kecil sudah cukup membuatnya bersukacita. Sekiranya beliau tidak mengenalku, tentu bukanlah problema berarti bagiku. Tapi ketika kukatakan bahwa aku kerap menyimak nasihatnya di masjid kampungku, rona wajahnya tampak berseri-seri.

Biarpun suaranya terdengar lirih di antara kebisingan suara kendaraan bermotor yang mondar-mandir tepat di hadapan kami, kucoba mencatat sepercik nasihatnya. Kendati apa yang disampaikannya sudah kupahami, tapi tiada salahnya kuingat lagi.

“Menjalani hidup itu santai sajalah, Nak. Yang penting berpasrah diri pada Allah serta tak pernah alpa selalu berterima kasih pada-Nya.”

Tersenyum belaka aku menanggapinya. Tentu aku sepakat dengan hal itu.

“Memiliki istri itu tak perlu terlalu ayu, tapi mungkin lebih baik jika dia bekerja dan memiliki penghasilan sendiri.”

Aku memang berharap demikian, ucapku dalam hati. Entah dia bekerja sebagai pegawai, karyawati, guru, seniwati, atau malah memiliki usaha mandiri. Perbincangan kami terhenti karena giliran rambutku dicukur sudah tiba. Beliau sebenarnya mempersilakan aku berkunjung ke rumahnya –yang tak jauh dari situ- untuk membahas apa saja. Barangkali ada baiknya tawaran tersebut kuterima, siapa tahu bakal lebih nyaman hatiku dan tertata pikiranku setelah memperoleh sejumlah pelajaran berharga dari sang lelaki tua yang sarat pengalaman dalam menempuh lelikuan kehidupan. Kuharap bisa terjadi dialog yang berkesan nanti, tapi hingga hari ini aku belum pernah menjumpainya lagi.  -g

Yogyakarta, 17 Oktober 2016

Luhur Satya Pambudi lahir di Jakarta dan tinggal di Yogyakarta. Cerpennya pernah dimuat di sejumlah media massa, seperti Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, Minggu Pagi, Suara Karya, Tribun Jabar, Lampung Post, dan Horison.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Luhur Satya Pambudi
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" Minggu 23 Oktober 2016


0 Response to "Berbincang Menunggu Giliran"