Bugiali | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Bugiali Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 13:25 Rating: 4,5

Bugiali

SORE ini, Bugiali menunggu di depan rumahnya. Kepalanya bergerak-gerak setiap kali angin berbaik hati padanya mengirim lagu yang diputar oleh para warga di atas sana. Ketika suara-suara berirama itu hilang, ia akan melanjutkan musik dalam kepalanya dan terus mengangguk-anguk.

Rumah Bugiali ada di lembah. Di sekeliling, tumbuh pohon aren dan bambu berdaun lebat. Di atas tanah yang selalu basah dan dingin. Dindingnya dari anyaman daun kelapa, yang sebagian besar telah membusuk dan hancur, membuat angin lebih leluasa memporak-porandakan bagian-bagian lain yang seharusnya masih bisa selamat.

Karena hujan yang lebih sering turun dan hanya sedikit cahaya matahari yang bisa menembus tempat itu, atap rumah itu juga hancur dan berlubang-lubang. Air hujan yang membasahi tanah yang begitu subur menumbuhkan pakis-pakis yang kemudian mengandung ulat berbagai ukuran.

Bagian yang bisa bertahan dan justru semakin kuat adalah tiang-tiang rumah. Tiang-tiangnya berupa pohon-pohon bantenan yang karena kondisi cuaca telah menumbuhkan cabang-cabang berdaun ranum dari sekujur batangnya. Di dalam rumah inilah, Bugiali menghabiskan waktunya.

Tempat tinggal, siapa pun yang melihatnya berpikir lebih baik mati daripada harus tinggal di tempat seburuk itu, dan beberapa tingkah laku anehnya termasuk ia sering dijumpai berbicara pada benda-benda mati membuat ia disangka gila oleh para warga Lelenggo. Jika tidak ada Maq Kepaq yang selalu menyambanginya setiap malam, membawa makanan terutama lauk-pauk, mungkin ia telah lama hengkang dari dunia.

***
DAUN bambu bergemerisik saat ia sedang menyanyi di dalam hati dan mengangguk-angguk riang. Sontak ia mendongak dan teriak-teriak kesetanan. "Turun kalau berani!" Maq Kepaq yang sedang berjalan turun dengan terpincang-pincang mendengar suaranya, lantas berhenti. "Bo basong," balasnya. Tangan kanannya memegang dua ikan panggang yang dibungkus dengan daun pisang.

'Bo basong' adalah kata-kata kasar. Jika ada warga yang mengatakan 'bo basong' kepada warga lain, bisa dipastikan warga lain itu akan sangat marah. Bisa saja akan terjadi perkelahian. Hanya Bugiali yang dicaci-maki oleh siapa pun dan tidak menunjukkan tanda-tanda kemarahan. Reaksi yang sangat sering ia tunjukkan adalah ia akan mengatakan "saya Bugiali" berulangkali, selebihnya ia akan lebih tertarik untuk menantang dan mencaci  maki benda mati apa pun di dekatnya.

"Saya Bugiali," teriaknya. Kemudian angin membuat batang-batang bambu itu saling gesek satu-sama-lain. "Keluar kalau berani!" teriaknya lagi. Ia begitu terusik dengan bunyi-bunyi seperti itu.

"Ada apa?" Mak Kepaq bertanya smabil terpincang-pincang masuk ke dalam rumah Bugiali.

"Jangan berani-berani lawan saya." Bugiali teriak sambil mendongak dan menunjuk-nunjuk.

Seperti di rumahnya sendiri, Maq Kepaq mengambil kekelok berisi tuak kemudian menuangkannya ke dalam kocor. Buih putih kemerahan menyembul keluar dari paruhnya. Bau menyengat tuak tercium wangi di hidung Maq Kepaq. Ia seegra masuk ke dalam setelah mengambil gelas.

"Saya bawa ikan panggang," katanya memberitahu Bugiali yang masih berdiri melihat rumpun pohon bambu.

"Jangan berani lawan saya. Saya Bugiali," tantangan untuk ke sekian kali.

Maq Kepaq tidak mendengarnya. Cepat ia masuk dan duduk di atas salah satu ririsan. Di dalam rumah itu ada tiga lembar ririsan. Diletakkan begitu saja di sisi kanan rumah, yang bagian atasnya masih tertutup dan hanya sedikit yang bocor. Awalnya di sisi kiri, tetapi angin dan hujan telah menyiksa rumah itu dengan beringas sehingga sekarang sisi itu dipenuhi dengan pakis dan semak-semak lain.

Bugiali masuk setelah Maq Kepaq menenggak gelas ketiganya. Ia masih mengumpat-umpat tidak jelas.

***
MAQ KEPAQ adalah bekas orang terkaya di Lelenggo. Keluarga-keluarga yang mengalami kesusahan akan mendatangi rumahnya. Sebagian besar jenis keluarga yang datang untuk meminjam uang padanya dengan janji kembali dua kali lipat, biasanya, adalah keluarga-keluarga yang mendapat musibah kematian.

Seperti di belahan dunia lain, kematian mendatangi siapa pun baik warga yang punya uang maupun yang tidak ada uang sedikit pun. Namun, tidak seperti di banyak tempat di belahan dunia lain, di Lelenggo siapa pun yang meninggal harus dikuburkan dengan disertai puluhan upacara yang tentu saja memerlukan uang. Dari tempat inilah muncul kata-kata bijak bahwa yang ditinggalkan oleh orang mati hanyalah utang.

Karena kematian mendatangi siapa pun, tentu kematian juga menghampiri keluarga Maq Kepaq. Istrinya, yang dipanggil Naq Kentung karena badannya hampir menyamai drum dan satu-satunya perempuan gemuk di Lelenggo, tiba-tiba menemukan dirinya tidak bisa bangun. Maq Kepaq sudah mendatangi dukun kacangan sampai dukun paling sakti dan merelakan harta bendanya demi memenuhi keinginan dukun-dukun itu, namun Naq Kentung tidak kunjung sembuh.

Tubuh gemuknya, yang kemudian semakin gemuk karena tidak pernah bangun, dan perutnya yang semakin membuncit berwarna biru kemerah-merahan, sering ditandu ke tempat dukun-dukun yang terkenal paling hebat kemudian dikubur setengah badan. Berbagai cara penyembuhan tidak membuahkan hasil sedikit pun malah Naq Kentung menjadi terlihat setengah-hidup-setengah-mati.

Pada saat Maq Kepaq menjual rumah tempat tinggal, harta terakhir yang dimilikinya, Nak Kentung meninggal dunia.  Sedikit pun Maq Kepak tidak mendugakisah hidupnya akan berakhir sama seperti para pengutang yang dulu mendatangi rumahnya.

Istrinya yang sakit selama berbulan-bulan dan tidak mendapatkan kebahagiaan di saat menjelang akhir hidupnya, melahirkan niat baik dalam diri Maq Kepaq untuk memberikan kebahagiaan terakhir yang gagal diraih itu dengan membelikan banyak sekali perlengkapan pada saat nyoyang, walaupun ia harus berutang ke warga paling kaya di kampung lain.

Baju-baju bagus, kain-kain halus, piring, cawan, dan segala macam yang tidak sempat didapatkan oleh istrinya ketika masih hidup, ia berikan pada hari itu. Upacara ngoyang itu begitu mewah sehingga menjadi legenda beberapa tahun ke depan di Lelenggo.

Kata-kata terakhir Maq Kepaq yang diucapkan dalam keadaan mabuk pada saat memakamkan istrinya, ia minum tuak sangat banyak menjelang pemakaman istrinya karena ia tidak tahan melepas istrinya yang sangat ia cintai itu, terus diingat sampai saat ini. Sambil bersendawa dan bergoyang ke sana ke mari, ia berkata dengan lantang: walaupun kita menderita di dunia, kita harus bahagia di surga.

Kata-kata itu sampai saat ini menjadi pendorong orang paling miskin di Lelenggo dan beberapa warga di kampung lain untuk memberikan penghormatan yang layak kepada sanak keluarga mereka. Apalagi yang selama hidupnya tidak dapat merasakan kenikmatan sedikit pun.

***
"PAS saya ke sini, Dermali memanggil saya,dia kasih ini," katanya sambil menunjuk ikan bawaannya. "Pasti dikasih sama orang lagi. Orang itu takut mati."

Dermali adalah orang paling kaya di Lelenggo saat ini. Takut ia akan bernasib sama seperti yang dialami istri Maq Kopaq, ia tidak pernah memakan pemberian siapa pun. Ia merasa setiap orang menginginkan ia mati karena harta berlimpah miliknya.

Ketakutan akan kematian itu membuat para warga Lelenggo mencurigai satu sama lain, terutama warga-warga yang merasa diri pantas untuk membangkitkan rasa iri  orang lain. Hanya dua orang yang tidak merasakan  apa yang warga lain rasakan. Mereka adalah Bugiali dan Maq Kepaq.

Bugiali tidak pernah berpikir sedikit pun akan mati. Seolah kepala gilanya tidak mengenal kematian. Itu membuat ia tidak takut memakan apa pun pemberian orang. Menurut para warga, tidak ada untungnya orang membunuh Bugiali. Ia begitu miskin.

Dan karena itu, banyak para warga ingin hidup seperti Bugiali, tinggal di rumah 'yang penting bisa dijadikan tempat tidur.' Benar saja, para warga yang sangat yakin tidak ada yang akan membunuh mereka jika mereka miskin ini merasakan sangat bahagia dalam kondisi mereka yang semakin melarat. Sedang Maq Kopaq memakan semua pemberian warga, termasuk makanan yang sangat takut disnetuh oleh warga lain karena ia sangat ingin menemui istrinya.

Empat kocor telah habis.

"Sebenarnya di mana surga dan neraka itu?" pertanyaan ini menandakan Maq Kepaq telah mabuk berat.

"Nda ada surga neraka," jawab Bugiali teriak. "Kita dapat minum tuak inilah surga."

Tiba-tiba ada kilat dan sejenak kemudian petir menggelegar.Tanpa mereka duga sedikit pun, hujan tiba-tiba turun dengan deras. Tetes Pertama yang jatuh  tepat mengenai seekor ulat yang sedang menempel di daun pakis. Pelan-pelan ulat itu bergerak turun menyusuri batang pakis.

"Neraka itu kalau kita tidak dapat lanjut minum tuak," lanjut Bugiali.

Maq Kepaq tertawa terbahak-bahak.*

Kosakata:
Kekelok     : wadah dari bambu yang dipakai untuk mengambil nira.
Ririsan       : irisan kayu.
Nyiyang   : hari ke seribu setelah kematian.


Arianto Adipurwanto, lahir di Selebung, Lombok Utara, 1 November 1993. Cerpen-cerpennya pernah disiarkan di media. Belajar di Komunitas Akarpohon, Mataram, Nusa Tenggara Barat.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Arianto Adipurwanto
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Republika" Minggu 16 Oktober 2016

0 Response to "Bugiali"