Bukan Untukmu Kujemput Rindu | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Bukan Untukmu Kujemput Rindu Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 09:31 Rating: 4,5

Bukan Untukmu Kujemput Rindu

PUKUL 07.00. Pesawat Garuda Indonesia Banjarmasin-Cengkareng mendarat tepat waktu. Tiga tahun terakhir aku tidak pernah mudik pada saat Lebaran. Idul Fitri yang baru lalu pun aku tidak pulang ke rumah ibuku di Perumahan Telaga Golf Sawangan, Depok, Jawa Barat.

Biasanya setiap Lebaran aku selalu mudik ke rumah Ibuku. Aku sengaja membelikan rumah untuk ibuku di Cluster Malaka sebab di //cluster// itulah lokasi Masjid Al-Iman berada. Ibuku ingin tinggal di rumah yang letaknya dekat masjid.

Namun, tiga tahun lalu, tiba-tiba Marissa membeli rumah di Telaga Golf, tepatnya di Cluster Espanola. Marissa, perempuan yang selama empat tahun kuliah di IPB Bogor selalu mengisi hari-hariku. Kami bertemu sejak tingkat satu dan sejak itu kami kusematkan cintaku di hatinya. Kami bercita-cita menikah setelah wisuda.

Namun, sebulan seusai wisuda, tiba-tiba aku dikejutkan undangan pernikahan Marissa dengan seorang lelaki pilihan orangtuanya. Marissa mengatakan, dia dijodohkan dan dipaksa oleh orangtuanya menikah dengan anak pengusaha kaya tersebut.

Hancur hatiku. Aku langsung pergi jauh ke Kalimantan. Pergi sejauh-jauhnya dari Marissa dan dari kenangan manis bersamanya.

Mula-mula aku bekerja di sebuah perusahaan. Tetapi, kemudian aku lebih suka menekuni bisnis.

Lima belas tahun aku tidak pernah mendengar kabar dan mencari kabar tentang Marissa. Hingga tiga tahun lalu, adikku Dahlia, yang juga memiliki rumah di Cluster Malaka, menginformasikan bahwa Marissa kini tinggal di Telaga Golf. Ia kini seorang janda dengan seorang anak lelaki berusia 14 tahun.

Sejak itu aku memutuskan tidak akan pernah mudik ke Sawangan. Aku tak mau bertemu dengan Marissa. 

Namun, tadi malam Dahlia mengabarkan, ibu kami terserang stroke. Pembuluh darahnya pecah. Aku melupakan sakit hati kepada Marissa. Demi ibuku, aku harus pulang dengan pesawat pertama.

***
SAMPAI di rumah sakit, aku langsung mencium kening ibuku. Beliau masih belum sadar.

"Bu, maafkan Iful," bisikku di telinganya.

Dia tidak menjawab. Namun, aku melihat air mata menetes dari matanya.

Sepekan dirawat di rumah sakit, ibuku tidak pernah sadar. Sehari sebelum Idul Adha, beliau meninggal dunia. 

Aku sengaja tidak shalat Id di Masjid Al-Iman di Perumahan telaga Golf. Aku tidak mau bertemu dengan Marissa di sana.

Sejak Subuh tadi aku berangkat ke Masjid Kubah Emas di Desa Meruyung, Limo, Depok. Jaraknya hanya beberapa kilometer dari Perumahan Telaga Golf Sawangan.

Seusai shalat Id aku langsung ke makam ibuku di Kompleks Pemakaman Sawangan. Beberapa meter menjelang tiba di makam ibuku, kulihat seseorang duduk di bangku kecil di depan makam ibuku.

Dia mengenakan gamis warna putih dan kerudung putih. Aku hanya melihat punggungnya. Ketika aku makin dekat, kudengar suara isak tangis.

"Marissa?!" aku terkejut karena ternyata sosok itu adalah Marissa.

"Saiful..." Ia menyeka air matanya.

"Ibunda Saiful sudah kuanggap ibu kandungku sendiri. Aku hanya sebatang kara di sini. Ibunda Saiful tempatku mengadu. Namun, sekarang beliau pun sudah pergi menghadap Allah."

Aku tak tahu harus berkata apa.

"Saiful, bolehkah aku berterus terang? Sebetulnya aku membeli rumah di Telaga Golf bukan karena hendak kembali menyakiti hati kamu. Demi Allah, aku tidak tahu bahwa ibunda Saiful tinggal di perumahan tersebut.

Aku membeli rumah tersebut untuk menolong teman yang terlilit utang. Jadi, aku meneruskan kreditnya. Terserah Saiful mau percaya atau tidak," ujarnya.

Aku hanya diam.

"Sejak jadi janda lima tahun lalu, aku tidak pernah berani berharap bahwa suatu hari Saiful akan kembali kepadaku. Meskipun hingga saat ini Saiful masih sendiri.

Luka yang aku goreskan di hati Saiful terlalu dalam dan sulit dimaafkan. Aku hanya berharap bahwa aku diizinkan untuk berbakit kepada ibunda Saiful. Semoga hal tersebut sedikit banyak menebus dosaku kepada Saiful."

Marissa mengeluarkan sesuatu dari tas kecilnya. Sebuah amplop kecil.

Ia menyerahkan benda tersebut kepadaku.

"Satu hari sebelum ibunda Saiful mengalami pembuluh darah pecah. Beliau menitipkan surat ini untuk aku kirimkan kepada Saiful. Namun, beliau terlanjur mengalami penyakit tersebut.

Aku belum sempat mengirimkan surat tersebut melalui kantor pos. Sekarang surat ini aku serahkan kepada Saiful. Berarti amanah Ibunda Saiful sudah aku tunaikan," tuturnya.

Aku langsung memasukkan surat itu ke dalam saku. Kemudian mengambil tempat di depan makam ibuku. Marissa seperti mengerti. Ia segera bergeser menjauh.

Aku mengeluarkan mushaf kecil berisi surah Yaasiin dan doa-doa. Kemudian membacakan rangkaian doa untuk almarhumah ibuku.

Mungkin aku menghabiskan waktu lebih setengah jam. Ketika aku hendak beranjak pergi, ternyata Marissa masih ada di tempat itu. Aku langsung melangkah. Taku kupedulikan Marissa yang memanggilku, "Saiful..."

***
SAAT tiba di rumah, aku tak sabar untuk membaca surat ibuku:

Assalamu'alaikum, anakku Saiful.
Adakah doa yang lebih baik dari seorang ibu untuk anaknya, kecuali agar anaknya selalu diberkati oleh Allah di manapun berada?

Anakku Saiful.

Waktu terus berjalan. Umur kita semakin berkurang. Dan kita semua melangkah menuju kematian. Hanya kapan dan di mana tempatnya, itu yang kita tidak pernah tahu. Namun, yang pasti, kita semua sudah dikontrak mati oleh Allah.

Nak, kapan kamu mau berumah tangga? Jangan biarkan kebencian kepada Marissa menyelimuti hatimu. Kalau memang ada sedikit saja rasa cintamu kepadanya, belum cukupkah engkau menghukumnya?

Kalau engkau memang benar-benar sudah tidaka da rasa cinta dan sayang kepada Marissa, lalu apa yang bertahun-tahun menahanmu untuk pulang kepada ibu? Toh Marissa sudah bukan siapa-siapa bagimu.

Pulanglah, Nak, untuk menjemput rindu. Kalaupun tidak untuk Marissa, pulanglah untuk ibumu.

Tiba-tiba saja air mataku menderai.

"Ibu, maafkan aku yang telah menyia-nyiakanmu. Aku yang egois. Aku yang lebih mengutamakan kebencian cinta daripada mengasihimu. Ya Tuhan.... Andaikan Engkau berikan kesempatan kepadaku sekali saja untuk memeluknya dan mencium kakinya," gumamku.

Aku sesenggukan. Terbayang kembali wajah teduh ibuku. Seorang ibu yang selalu tulus berjuang untuk menghidupi dan mendidik aku dan adikku. Beliau menjadi janda sejak aku kelas 3 SD dan Dahlia kelas 1 SD.

Ia pernah berdagang keliling menjajakan lontong dan gorengan setiap pagi. Kemudian dia berjualan nasi uduk, lontong, dan gorengan di depan sekolahku.

"Saiful, kamu tidak malu kan kalau ibumu berjualan di depan sekolahmu?" tanya Ibu pada suatu malam.

Aku terhenyak mendengar pertanyaannya. Aku segera cium tangannya.

"Bu, Iful tidak malu. Iful malah bangga punya orangtua yang gigih seperti Ibu. Iful janji, akan selalu sungguh-sungguh dalam belajar agar jadi juara kelas dan bisa menjadi seorang sarjana. Doakan Iful, Bu, supaya kelak jadi orang kaya. Iful akan belikan rumah yang bagus untuk Ibu."

Ibuku memelukku. "Amin. Ibu selalu mendoakan supaya Iful dan Lia menjadi anak-anak Ibu yang saleh, sukses, bahagia, kaya-raya, dan suka membantu orang lain. Kita hidup ini sementara, bahkan terlalu pendeka waktunya.

Namun, hidup yang pendek ini menjadi jembatan dan modal bagi kita untuk hidup yang panjang di alam barzakh dan hidup selama-lamanya di alam akhirat. Nah, salah satu jalan untuk meraih hidup selamat dan bahagia di alam barzakh dana lam akherat adalah bersedekah atau membantu orang lain dengan kemampuan apa saja yang kita miliki," kata Ibu sambil mengusap kepalaku.

Ah, betapa aku merindukan belaian ibu. Tetapi, sekarang hal itu tak mungkin lagi aku dapatkan.

Sejenak melintas bayang wajah Marissa. Terlalu banyak kenangan indah waktu kuliah dulu. Tetapi, semua kenangan itu mendadak sirna berganti awan hitam manakala aku teringat pernikahannya yang tiba-tiba dengan lelaki pilihan orangtuanya.

TIba-tiba bayangan yang muncul berganti dengan wajah sendu Marissa saat berada di makam ibuku tadi pagi. Ibu berharap Marissa menjadi menantunya, tapi terlalu perih luka yang diigoreskannya di hati ini.

***
HARI Ahad. Besok pagi aku harus kembali ke Banjarmasin dengan pesawat pertama.

Bakda shalat Subuh dan pengajian di Masjid Al-Iman, aku diajak salah seorang pengurus masjid untuk mampir ke rumahnya. 

Namanya Haji Sodikin. Ternyata ia kakak kelasku enam tahun di atasku. Pantas saja kami tidak bertemu di kampus. Sebab, rata-rata kuliah di IPB butuh waktu empat-lima tahun selesai.

"Istri saya pagi ini masak kolak ubi ungu dan wedang uwuh. Asyik banget buat sarapan," kata Haji Sodikin.

Rumahnya di CLuster Espanola. Jaraknya sekitar 600 meter dari Masjid Al-Iman. Kami naik Mercedes Tiger warna putih. Itu rupanya mobil kesayangan Haji Sodikin.

Saat menuju rumah haji Sodikin, kami melintasi rumah Marissa. Aku terkejut ketika membaca tulisan: "DIJUAL CEPAT TANPA PERANTARA." Lalu di bawahnya dituliskan nomor ponsel. Setelah aku cek, itu nomornya Marissa.

***
PUKUL 04.30 aku tiba di Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng, tangerang. Pesawat garuda akan terbang ke Banjarmasin pada pukul 05.45. Perjalanan Cengkareng-Banjarmasin butuh waktu dua jam 45 menit.

Aku mampir di mushalla untuk melakukan shalat Subuh. Kemudian chek-in di counter Garuda.

Masih ada waktu 45 menit sebelum boarding. Aku masuk salah satu executive lounge. Sarapan pagi, kemudian duduk di kursi pijat refleksi. Tiba-tiba ada pesan masuk ke dalam HP-ku.

"Selamat jalan, Saiful. Semoga Allah SWT selalu menjagamu di manampun berada. Kita mungkin tidak akan berjumpa lagi. Aku akan pergi jauh dari hidupmu. Semoga suatu hari nanti sebuah pintu maaf akhirnya terbuka untukku."

Membaca SMS Marissa, yang terbayang di benakku justru wajah teduh ibuku. Lalu suratnya seperti dibentangkan di depan mataku:

Kalau memang ada sedikit saja rasa cintamu kepadanya, belum cukupkah engkau menghukumnya?

Kalau engkau memang benar-benar sudah tidak ada rasa cinta dan sayang kepada Marissa, lalu apa yang bertahun-tahun menahanmu untuk pulang kepada ibu? Toh Marissa sudah bukan siapa-siapa bagimu.

Aku memejamkan mata.

"Halo, apakah benar Anda akan menjual rumah di Cluster Espanola Telaga Golf?" tanyaku.

"I... iyyya. Maksudmu apa, Saiful?"

"Aku mau menjalankan amanah almarhumah ibuku. Aku mau membeli rumah itu beserta pemiliknya. Apakah kita bisa //deal// saat ini juga?"

"Mak... maksudmu..?"

"Deal atau tidak? Kalau tidak, aku akan langsung terbang ke Banjarmasin pagi ini."

"Ya, Tuhan. Apakah ini berarti pintu maaf untukku sudah terbuka dan kita akan merajut mimpi bersama?"

"Kamu belum menjawab pertanyaanku: deal atau tidak?"

"Iyyyaaa, kita deal," suaranya terdengar bergetar. "Tapi... tapi... aku seorang janda, Saiful," suaranya terdengar ragu.

"Sayangnya, almarhumah ibuku tidak mensyaratkan calon istriku harus seorang perawan. Beliau hanya menyebut satu nama: Marissa."

Terdengar pengumuman: "Para penumpang pesawat Garuda tujuan Banjarmasin, dipersilakan masuk pesawat melalui pintu F2."

Aku bangkit dari kursi. Kuambil tiketku, kusobek dan kubuang ke tempat sampah. Kemudian aku berjalan, bukan ke arah pintu keberangkatan, tapi arah keluar bandara.

Kembali terdengar pengumuman: "Panggilan terakhir para penumpang Garuda Indonesia tujuan Banjarmasin dipersilakan naik pesawat melalui pintu F2."

"Mas, antarkan saya ke Sawangan, Depok," kataku kepada sopir taksi bandara Soekarno-Hatta.


Depok-Jakarta, 2016

Irwan Kelana, wartawan Republika, cerpenis, dan novelis.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Irwan Kelana
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Republika" edisi Minggu 23 Oktober 2016

0 Response to "Bukan Untukmu Kujemput Rindu"