Cangkir Keramik Bergambar Ulat | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Cangkir Keramik Bergambar Ulat Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 09:09 Rating: 4,5

Cangkir Keramik Bergambar Ulat

HELIN membetulkan posisi kacamatanya, sedikit mendanguk, bertopang dagu dan memaku pandangannya di kaki langit yang dipenuhi burung camar. Alisnya berkerut. Wajahnya yang putih semakin cemerlang dirambah bias matahari sore. Sudah satu jam ia duduk di loteng rumah. Meski laptopnya menyala tapi tangannya tak berhasil mengetik satu kata pun. Tangannya dingin dan beku. Selang beberapa saat ia hanya bergerak minum kopi, menempelkan cangkir keramin di sepasang bibirnya agak lama. Lalu meneguk rasa manis di tengah keadaan dadanya yang getir. Tiba-tiba air matanya menetes. Ia meletakkan cangkir itu kembali di atas lepek. Helin merasa dirinya telah menjadi penulis cengeng.

Apakah penulis tidak boleh menangis? Menangis itu manusiawi. Helin sendiri pernah menulis cerpen tujuh tahun silam tentang seorang manusia yang selama hidupnya tak pernah menangis. Dalam cerpen itu Helin menyebut manusia tak menangis manusia gila.

”Ya. manusia kalau tidak pernah menangis itu namanya gila,” ucapnya suatu sore sembari memerlihatkan cerpen itu kepada suaminya ketika mereka sedang santai di loteng.

Meski letih sepulang kerja, suami Helin tetap membaca cerpen itu sampai tuntas. Ia geleng-geleng kepala, tersenyum takjub. Ia berjanji akan memberi hadiah kepada Helin jika cerpen itu dimuat di media. Nazar dikata, takdir pun datang. Dua minggu setelah itu cerpen Helin dimuat di salah satu media, Ilham, suami Helin tak basa-basi dengan janjinya. Ia memberi sepasang cangkir keramik cantik lengkap dengan tutup dan lepeknya. Berkilau dengan warna putih dan polesan gambar ulat warna kuning kemerahan, meliuk ke arah vertikal seperti bergerak hendak menggapai bibir cangkir itu, dan menjilat bibir si pengguna cangkir.

Helin sangat bahagia mendapat hadiah sepasang cangkir dari suaminya. Selain memang butuh cangkir untuk ngopi saat menulis, juga merasa dirinya sangat dihargai. Betapa tidak, sepasang cangkir bergambar ulat itu dipesan khusus suamianya di luar negeri. Pabrik cangkir di Indonesia banyak, tapi yang bergambar bagus hanya ada di luar negeri, apalagi yang bergambar ulat. Kebanyakan pabrik cangkir dalam negeri tidak mau memproduksi cangkir bergambar ulat karena dianggap jorok. Helin pada mulanya merasakan hal itu. Ia jijik melihat gambar ulat yang seperti benar-benar ulat nyata menempel di cangkrinya. Tapi Helin lebih berpikir pada cangkirnya dan terutama yang memberinya. Ia tidak berpikir gambar ulatnya. Hanya saja Helin merasa perlu bertanya kepada suaminya perihal gambar ulat itu.

”Ya. Aku paham kau bertanya begitu dan seharusnya kau memang wajib bertanya. Aku sengaja memesan cangkir bergambar ulat itu hingga jauh ke luar negeri. Maksudku begini, kau seorang penulis, setiap waktu selalu bertamasya dengan kata-kata. Nah, aku ingin imajimu seperti ulat dan tabah berproses hingga suatu saat menjadi kupu-kupu. Kira-kira begitu maksudku,“ jelas Ilham.

Matahari pagi hari Minggu menyapu wajah Helin dengan bias kekuningan. Menempa enyal pipinya yang putih, harum kosmetik, sekitar tujuh helai rambut menjuntai melewati sisi keningnya. Helin pun tersenyum. Sangat manis, ingin menjelaskan kepada suaminya bahwa wanita penulis itu sangat manis.

”Terima kasih, Mas. Doakan saya semoga tabah berproses, melewati masa-masa ulat dengan tekun memakan daun hingga akhirnya kesuksesan mengubah saya menjadi kupu-kupu, aku ingin menjadi penulis yang sukses,“ ucap Helin sambil bersandar ke bahu suaminya. Suaminya balik mengelus rambut Helin dengan sedikit menyentuhkan sisi kanan kepalanya ke kepala Helin. 

”Aku juga akan berdoa semoga kamu terus suka minum kopi agar cangkir itu terus berada di dekatmu. Menemanimu menulis.“

”Amin, Mas. Dan yang terpenting dan ini intinya; semoga saya tak bosan menulis dan terus menemukan gagasan baru yang segar untuk ditulis.“

”Untuk menemukan gagasan baru maka itu tadi, kau harus menjadi ulat, berkeliaran, tekun memakan daun, tahan keadaan.“

”Dan suatu saat nanti saya akan menulis cerpen tentang Mas Ilham dan seekor ulat di bibir cangkir,“ guyon Helin sambil tertawa.

Setengah serius, setengah bercanda. Keduanya sama-sama tertawa. Terakhir Helin menyeruput kopi dari cangkir keramik setengah merasa gambar ulat itu menggesek-gesek bibirnya. 

***
TULISANNYA kian meroket dan nama Helin telah kesohor di telinga para sastrawan sebagai cerpenis berbakat yang selalu melahirkan cerita unik dan inovatif. Di laptop yang menyala, segudang cerita ia lipat ke bentuk cerpen hanya dalam durasi 20 menit. Helin dikenal sebagai perempuan penulis sekali duduk, karena kemahirannya menyelesaikan satu cerpen dengan sempurna hanya dengan sekali duduk.

Jika sehari lima kali duduk di depan laptop, lima cerpen akan ia hasilkan. Meski selesai hanya dengan sekali duduk, sangat bermutu dan tidak asal-asalan. Beberapa media nasional sangat mudah memuatnya. Dalam seminggu rata-rata sekitar delapan cerpen yang dimuat. Kejeniusannya mengarang ia sadari salah satunya karena selalu ditemani kopi saat menulis. Tepatnya ia akan termotivasi ketika melihat gambar ulat di cangkir putih itu.

Gambar ulat pada sisi badan cangkir itu seolah hati suaminya, yang ditingga di rumah ketika ia bekerja untuk memotivasi Helin saat menulis. Detak jarum jam yang bertaut sepi ketika suaminya sedang ngantor membuat Helin semangat menulis. Kepalanya seperti dipenuhi ulat-ulat inspirasi begitu ia meneguk secicip kopi dari cangkir itu. Ide-ide bagus bermunculan dari otaknya. Membentuk pilihan prosa unik dan inovatif dengan gaya baru memukau. Gagasan yang terkandung rata-rata tentang lokalitas yang dikemas dengan cara penuturan menawan. Helin merasa seteguk kopi bisa melahirkan ratusan kata yang secara ajaib berususun membentuk kalimat-kalimat yang kaya citra dan rasa. Jika secangkir kopi dihabiskan maka ia bisa menulis satu setengah atau dua cerpen dalam sekali duduk.

”Kau yang selalu berkeliar dalam kepalaku mendorong ide-ide bagus terus bermunculan,“ tukas Helin suatu ketika seraya mengelus gambar ulat 

Kesibukan itu ia tak pernah lupa minum kopi dari cangkir bergambar ulat. Membersihkannya. Dan Ilham akan semakin kental di hatiya. 

”Sebentar lagi, insya Allah istrimu akan menjadi kupu-kupu, Mas,“ gumam Helin tersenyum sendiri memandang kemilau warna putih cangkir yang ia pegang. Sepasang matanya terpaku memandang gambar ulat. 

***
SEPANDAI seorang cerpenis, ia tidak akan bisa mendustai keadaan dirinya saat menulis. Helin pun tak bisa menulis cerpen romansa ketika sedang dalam keadaan luka. Kematian Ilham, suaminya, sangat membuat ia terluka, bahkan luka sampai ke cerpen-cerpennya.

Helin hanya memandangi kursor yang berkedip-kedil di layar laptop, di belakang separagraf kalimat yangtelah berhari-hari ia abaikan jadi piatu di bawah sebuah judul. Sejenak ia membetulkan posisi kacamatanya di antara sepasang mata yang redup. Peristiwa awal Juli 2016 membuat Helin tak seproduktif hari-hari sebelumnya. Ia hanya bisa menulis satu cerpen dalam satu bulan. Itu pun dalam keadaan kacau hingga redaktur langganannya kadang tak percaya cerpen itu karya Helin. Kematian suaminya awal Juli dalam sebuah kecelakaan, selalu menghantui pikirannya. Empat bulan terakhir ia hanya duduk termangu di loteng rumahnya sambil melepas pandangan kosong ke kaki langit. Wajahnya muram, dijuntai beberapa helai rambut. Laptopnya sering menyala sia-sia. Di sisinya, cangkir keramik bergambar ulat yang berisi kopi sudah tak mampu lagi memompa semangat Helin.

Helin mengamati gambar ulat di cangkir itu. Diam dan singin, seperti jasad suaminya yang ditinggal roh. Ia ingat kata-kata suaminya bahwa suatu saat Helin akan berproses dari ulat hingga menjadi kupu-kupu. Tapi ia merasa dirinya hanya menjadi ulat. Ulat yang diam terkutuk seperti gambar cangkir keramik yang ada di depannya. • 

Gapura, 12.08.16

A Warits Rovi: lahir di Sumenep Madura, 20 Juli 1988. Berdomisili di Jalan Raya Batang-Batang PP Al-Huda Gapura TImur Gapura Sumenep Madura 69472. 


Rujukan:
[1] Disalin dari karya A Warits Rovi
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" edisi Minggu 2 Oktober 2016

0 Response to "Cangkir Keramik Bergambar Ulat"