Cinta di Ladang Anggur | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Cinta di Ladang Anggur Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:00 Rating: 4,5

Cinta di Ladang Anggur

MASIH sangat ngantuk, malas, dan mata yang berat dibuka, Bening memaksakan diri bangun dari tempat tidur. Tujuan pertama ke dapur. Aroma kopi pagi membawa kesegaran dan membangkitkan semngat. Seperti biasanya setelah itu membuka jendela dan melihat keadaan cuaca. 

Matahari bersinar cerah, langit biru tanpa awan, udara masih agak sejuk. Di Prancis sedang musim panas. Sangat indah dan rasanya ingin berjalan-jalan di luar rumah menikmati hangat matahari yang tidak begitu banyak dalam setahun. Apalagi di Besancon, sebuah kota timur Prancis, tidak begitu jauh dari Pegunungan Alpen dan Swiss. Kota ini terletak di atas ketinggian sekitar 235 meter hingga 620 meter dari permukaan laut, berpenduduk sekitar 116 ribu jiwa. 

Kota yang sangat indah dan banyak tempat yang bisa dikunjungi. Ada benteng di ketinggian sekitar pusat kota. Banyak toko, restoran, juga klub malam. Pusat kota ini dikelilingi Sungai Le Doubs.

Di pusat kota ini biasanya Bening janji bertemu teman-temannya, walau hanya untuk minum teh, makan bersama, berbelanja atau sekadar jalan-jalan. Seperti dengan Runny, Suzie, Safia, Cristina, Eva, Fransisca, yang sama-sama berasal dari Indonesia.

Air sungai yang mengalir begitu deras dan juga desir angin yang menerpa rambut, sejuk, menghanyutkan pikiran jauh dan mengenang saat pertama kali meninggalkan tanah air dan akhirnya menetap di kota ini.

Saat itu usia Bening sekitar 23 tahun, setelah menikah dengan pemuda Prancis: Mathieu, dua tahun lebih tua darinya, ia meninggalkan Indonesia dan pindah ke negara suaminya. Desa tempat tinggal suaminya terletak di selatan Prancis. Sebuah desa yang tidak begitu jauh dari laut Mediterania.

Bila musim panas udaranya seperti di tanah air, dan banyak turis datang ke sekitar desa tersebut. Bertahun-tahun Bening dan Mathieu tinggal di desa itu.

Pernikahan kadang ada yang bertahan, kadang ada yang hancur dan berakhir sebuah perceraian. Begitu pula pernikahan mereka, tak bertahan lama. Setelah cerai Bening memutuskan pindah menjauhi kota itu.

Hembusan angin sayup menggugah kenangan masa lalu, saat Bening masih tinggal bersama suaminya. Ia masih ingat, suatu hari Mathieu mengundang temannya: Arthur, makan siang. Waktu itu Bening menyuguhkan sate kambing dan ayam, bumbu kacang dengan nasi putih, lalapan, sambel terasi dan kerupuk udang, oleh-oleh yang dibawakan teman yang datang dari tanah air. Karena cuaca bagus dan masih musim panas, Bening menyiapkan makan siang di teras belakang rumah yang menghadap ladang anggur.

Bening mengenalkan menu makan siang itu ke Arthur dan mulai bercerita sana-sini, yang akhirnya mereka bercerita tentang negara asal Bening. Arthur kelihatan sangat tertarik cerita tentang negara istri temannya itu.

Setelah makan siang, mereka bertiga berjalan-jalan di ladang anggur di belakang rumah.

”Bagus sekali di sini ya, aku baru sekali ini jalan-jalan di ladang anggur.“ Arthur berkata sambil memetik sebuah anggur dan memakannya.

”Awas Arthur, anggurnya masih kecut, karena belum saatnya panen, masih muda!“ Bening mengingatkan Arthur yang mulai menggerimaskan wajahnya karena rasa kecut anggur yang dimakannya. Bening dan Mathieu tertawa melihat tingkah Arthur.

Di sebuah jalan yang agak menurun dan banyak batu-batu, tanpa berhati-hati Bening menapakkan kaki di atas sebuah batu yang agak runcing dan terpeleset, untung Arthur tidak jauh darinya dan dengan kecepatan kilat Arthur menerpa tangan Bening sebelum tubuhnya menyentuh tanah berbatu-batu.

Dengan rasa masih terkejut Bening melihat Arthur.

”Terima kasih Arthur!” ujar Bening.

”Hati-hati,” jawab Arthur.

Saat itu mata merekea berpandangan. 

”Huuummmm, sungguh indah matanya,” batin Bening, teringat pandangan Arthur itu.

Hari demi hari Bening menikmati keindahan negara barunya: Prancis, negara suaminya.

***
TIAP Sabtu pagi Bening ke kolam renang, belajar berenang dan senam aquagym. Pagi itu ia datang agak awal. Sambil menunggu guru renang, Bening ke kafe di depan kolam renang. Tiba-tiba seseorang menyapa dari belakang.

”Selamat pagi Bening.”

”Oh, selamat pagi Arthur,” jawabnya kaget. ”Ngapain kamu di sini pagi-pagi?” tanya Bening.

”Aku mau renang, kadang Sabtu pagi aku berenang di sini, kalau bangunnya nggak kesiangan sih!“ lanjutnya.

”Iyakah? Kok saat ke rumah nggak pernah cerita? Apakah ia ke kolam renang sejak mendengar aku belajar renang setiap Sabtu pagi ya?“ Batin Bening yang mulai merasa GR.

Sejak saat itu persahabatan Bening dan Arthur mulai akrab. Tapi mereka berdua tetap menjaga batas-batas dan saling menghormati, karena Arthur sahabat Mathieu. Bening, Mathieu dan Arthur selalu keluar nonton bioskop bersama, makan-makan di restoran atau pergi berliburan. Mereka bertiga selalu bersama. 

Hingga suatu hari terjadi pertengkaran dan perceraian antara Bening dan suaminya. Bukan karena Arthur. Ada hal lain, juga sebab sudah tidak ada kecocokan lagi di mereka.

Setelah perceraian itu, Bening meninggalkan desa tempat tinggal mereka, pindah dari satu kota ke kota lain di Prancis. Hingga akhirnya menetap di Besancon.

***
SENJA mulai turun. Udara mulai dingin. Hembusan angin menggugah Bening dari lamunan. Bening mempersiapkan diri pulang ke rumah, tiba-tiba.

”Bening?” Seorang laki-laki seumur dengannya duduk di sebelah, di bangku itu, sambil menghadap ke sungai.

”Arthur?” Bening terkejut.

Arthur, teman lama yang juga sahabat suaminya bertahun-tahun tidak bertemu, bahkan tidak ada kabar beritnya sejak ia bercerai dengan Mathieu dan meninggalkan Prancis Selatan.

Bening tak dapat menahan rasa bahagia bertemu kembali di taman kota itu. Teman lama yang tak akan pernah dilupakan.

Sambil memeluk Arthur, Bening bertanya: ”Kamu ngapain di kota ini Arthur?” 

”Aku belum lama di sini, aku ditugaskan ke sini untuk beberapa bulan oleh perusahaan tempat aku bekerja dan kudengar dari teman kita bahwa kamu sekarang tinggal di sini, tadi aku cuma jalan-jalan sambil melihat kota.” Arthur mulai bercerita. ”Kulihat ada taman, sewaktu aku mulai mencari bangku buat duduk beristirahat, tiba-tiba aku melihat kamu, mulanya aku tidak yakin!” Arthur kelihatan senang sekali menceritakan itu.

Bening melihat sinar mata Arthur tidak banyak berubah walau umur mereka semakin bertambah. Arthur tetap tampan dengan senyum menawan.

Malam mulai kelam. Setelah memberikan alamat rumah dan nomor telepon, Bening pamit pulang. Arthur menawarkan menemani, tapi Bening menolak. Ia tidak mau merepotkan Arthur, karena Hotel Mercure tempat Arthur menginap sementara, hanya beberapa meter dari taman itu. Dan Arthur tidak tahu bahwa Bening bekerja di Hotel Mercure itu.

Hari berganti, Bening menanti telpon dan kabar dari Arthur, tapi tetap saja sepi. Tanpa berita dari Arthur. Karena rasa gengsi, Bening tetap saja menunggu dan tidak memulai menghubungi Arthur. 

”Ah, mungkin dia sangat repot dengan pekerjaannya dan juga mungkin dia repot mencari rumah sewa untuk tempat tinggal sementara di kota ini,“ pikir Bening sambil mencari alasan menenangkan pikirannya.

Memang sejak pertemuan kembali di taman beberapa hari lalu, hati Bening agak galau. Arthur tak henti-henti hadir dalam benaknya.

Suatu pagi, saat Bening membuka kotak surat di depan rumah, terkejut karena ada surat dari Arthur untuknya yang dikirim lewat pos.

Bening cepat-cepat kembali ke dalam rumah dan mulai membaca surat itu.

”Hai Bening….

Sejak pertama kali aku melihatmu di rumah kalian di Prancis Selatan, saat itu aku merasakan sesuatu, rasa bahagia setiap kali bertemu dan dekat denganmu, aku tidak tahu perasaan apakah itu, yang aku tahu hanyalah kamu istri sahabatku dan aku tidak mau merusak persahabatan itu. Setiap hari aku mencoba menyembunyikan rasa sukaku kepadamu. Sulit juga.

Suatu hari aku mendengar perceraian kalian. Sejak itu aku tak pernah tahu di mana kamu berada. Delapan tahun telah berlalu, aku tetap mencari dan menanyakan di mana kamu, hingga akhirnya aku bertemu Mathieu dan dia yang memberi tahu bahwa kamu baru saja pindah ke kota ini.

Kebetulan perusahaan tempat aku bekerja ada cabang di kota ini, dan mereka butuh seseorang buat beberapa bulan. Tanpa berpikir panjang, aku langsung menawarkan diri. Rupanya takdir mempertemukan kita kembali di sini, di Besancon. Kali ini aku tahu perasaan apakah itu yang aku rasakan buatmu saat kita masih di Prancis Selatan.

Bening, aku cinta padamu!“

Arthur.

Terharu membaca surat Arthur, Bening tak dapat membendung air mata yang mulai mengalir. Rasa rindu dan bahagia. Tidak bisa membohongi diri sendiri bahwa ia juga mencintai Arthur sejak dulu, di kebun anggur di Prancis Selatan. • (k)

Besancon Prancis, 29 September 2016

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Yenni Djafar Day
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 9 Oktober 2016

0 Response to "Cinta di Ladang Anggur"