Cuka | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Cuka Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 15:42 Rating: 4,5

Cuka

AYAH terbahak saat mendengar pertanyaanku; apa rahasia membuat mi goreng instan yang enak? 
“Masa menu sesederhana seperti itu harus memiliki resep rahasia?”

Aku sedang tidak bercanda. Musim dingin begini tiba-tiba aku ingin mi goreng orak-arik telur. Seperti yang ayah biasa buat saat aku kecil. Kata Ayah tidak ada rahasia. Coba saja buat sendiri dulu. 
Saat pulang kantor, dengan ujung hidung merah karena kedinginan, aku memaksa diri mampir ke toko Asia. Asal saja aku memasukkan beberapa bungkus mi ke dalam keranjang belanja. Saat tengah malam, aku masih harus menyelesaikan banyak editan foto, perutku lapar. Mi instan pertama dari kantung belanja adalah mi kuah seafood. Aduh, salah ambil. 

Bagaimana menjadikan mi kuah menjadi goreng? Aku mencoba mengurangi jumlah air dan bumbu bubuknya supaya tak terlalu asin. Kemudian tambah sendiri kecap dan bubuk cabe. Masukkan microwave. Tiga menit mesin berdenting, mi goreng siap. 

Aku santap perlahan. Entah karena sedang sendirian atau karena ini mi kuah yang dipaksa menjadi mi goreng, atau dimasak menggunakan microwave, rasa mi sama sekali tidak enak. 

Esok hari Ayah bertanya penasaran. ”Bagaimana?”

“Mi kuah Korea, Yah. Aku masak dengan menambahkan kecap. Rasanya malah menjadi aneh. Apa karena tidak menggunakan telur orak-arik?” Aku tidak menyebutkan varian rasa seafood-nya. 

Ayah tertawa lagi. ”Kalau ingin mi goreng persis seperti buatan Ayah gunakan mi goreng. Bukan mi kuah Korea. Mungkin kamu kesulitan mendapatkan mi goreng buatan Indonesia—tapi jangan mi kuah.“

Keesokan hari aku membongkar tumpukan belanja dan beruntung mendapatkan satu bungkus mi goreng. Tetap saja, mendekati rasa buatan Ayah saja tidak. 

”Jangan gunakan microwave. Alat moderen itu menggerus cita rasa eksotis masakan olahan tangan. Bahkan untuk yang instan sekalipun,“ pesan Ayah.

”Benar.“ Ibu urun berkomentar. ”Memasak mi goreng menggunakan microwave agak terlalu berlebihan.“

Ayah dan Ibu tidak tahu betapa penuh perjuangan bila harus berdiri lama untuk memasak di dapur di musim dingin seperti ini. Lusa, aku memaksa diri keluar dari gelungan selimut hangat di sofa. Membongkar peralatan memasak. Setelah sekian lama tersimpan akhirnya wajan dan sudip itu keluar. Aku mencolek mentega beku dan memanaskannya langsung pada wajan. Pertama, aku membuat telur orak-arik. Baru aku masukkan mi yang sebelumnya telah direbus selama tiga menit. Tambah sedikit air, baru kemudian kecap dan saus sambal. Aduk-aduk hingga air menyusut. 

Mi goreng telur orak-arik mengepulkan uap panas. Aku kembali menelusup masuk dalam selimut. Aku cicip sedikit. Enak. Tapi... ada yang kurang. Kurang sedap. Aku mengerang saat harus berdiri lagi untuk mengambil lauk pendamping. Namun, tetap saja. Meski sudah kutambahkan acar dan bawang merah goreng rasanya masih kurang sedap. 

***
”Masih belum juga?“ tanya Ayah. ”Coba pakai jelantah.“

Ibu tertawa di belakang sana. ”Tidak ada jelantah di Eropa!“

”Coba periksa kembali satu persatu.“ Ayah kembali serius. ”Apa yang sudah, apa yang belum.”

Satu. Jenis mi goreng. Kesalahan pertama: aku menggunakan mi kuah seafood. Tapi, sudah aku ralat dengan menggunakan mi goreng kemudian.

Dua. Microwave. Masakan terakhir kemarin aku telah menggunakan kompor dan wajan sama seperti yang dilakukan Ayah. 

”Bumbu,“ seru Ayah. ”Setelah telur, tumis bawang putih sampai harum. Baru masukkan sawi hijau dan mi.“

Benar juga. Kemarin aku tidak menggunakan tumisan bawang putih. 

Minggu berikutnya seorang teman yang kebetulan baru balik dari Indonesia menyerahkan titipan mi instan goreng yang khusus aku pesan. Saat di dapur, demi mengusir sepi dan dingin (aku sudah menyalakan penghangat ruangan, mengenakan sweater dan kaus kaki tebal dan bersandal), aku memasak sambil berbicara sendiri seperti chef  perempuan di televisi Indonesia yang berdada besar (aku menunduk; aduh, dadaku kecil) dan berbicara dengan logat asing dan mencampur aduk bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris.

”Cincang onion. Tuang sedikit margarin dalam wajan. Tunggu hingga panas a little. Masukkan cincangan onion. Tumis hingga harum. Masukkan telur yang sudah dikocok—ah!”

Aku menggigit bibir. Seharusnya kocokan telur dimasukkan pertama, diorak-arik hingga agak cokelat baru kemudian bawang putih. Kalau terbalik, aroma dan sedapnya bawang putih tertutup telur. Ya sudah, lah, tidak apa-apa. Aku terus saja memasak. Kini tanpa mengoceh tidak perlu. 

Mi sudah siap. Aku membawa ke sofa dan bergelung di dalam selimut. Laptopku berdenting. Bos menanyakan pekerjaan. Aku bilang besok pagi akan aku serahkan dalam bentuk cetak ukuran besar. Lalu, banyak pertanyaan yang lain lagi. Selesai urusan pekerjaan, mi gorengku sudah dingin. Dengan cemberut aku menggulung mi menggunakan ujung garpu. Entah karena sudah dingin atau aroma bawang putih yang tertutup telur, rasa mi belum memuaskan juga. 

”Belum juga!?“ Ayah berseru benar-benar heran. 

”Bawang putih, tomat, bawang merah goreng, sawi hijau, dan lada? Sudah semuanya?“ tanya Ibu. 

”Tidak selengkap itu.“ Ayah berbicara menanggapi Ibu. ”Kenapa harus ada tomat dan lada?“

”Tidak tahu. Mungkin saja. Melihat kenyataan anak perempuanmu tidak juga bisa memasak mi goreng seeenak buatan Ayahnya.“ Ibu diam sebentar lalu berseru. ”Ah, iya! Cuka!“

”Cuka?“ ulangku tidak mengerti. ”Memangnya Ayah memasak mi goreng menggunakan cuka?”

“Bukan cuka yang itu! Keringat! Ayahmu kalau memasak mi atau nasi goreng biasanya sampai berkeringat. Nah, ’cuka‘!“

***
Aduh, sulit ini. Bagaimana bisa aku memperoleh keringat saat musim dingin begini. Namun, aku tetap mencoba. Di dalam rumah, aku berjumpalitan olahraga dengan tetap mengenakan jaket tebal. Setelah kira-kira cukup keringat, masih sedikit sepertinya tapi napasku sudah ngos-ngosan, aku buru-buru ke dapur. 

Kali ini urutan memasak tidak boleh keliru. Lelehkan margarin dalam wajan, orak-arik telur kocok. Panas masakan memancing sedikit memancing keringatku keluar. Apa aku harus menambahkan satu atau dua tetes keringat sebagai ’cuka‘ seperti yang disarankan Ibu?

Aku menambah sedikit air, memasukkan bumbu, kemudian mi yang sebelumnya telah direbus selama tiga menit dalam air mendidih. Tambahkan kecap dan saus sambal. Campur merata. 

Aromanya menggoda. Sepertinya kali ini berhasil. Aku menyajikan mi goreng dalam piring. Dengan asap mengepul panas aku membawanya ke sofa. Aku duduk bersandar dan bersila memangku piring mi goreng.

Aku memutar-mutar garpu menggulung mi. Putar-putar. Tarikan mi putus saat aku menyuapkan garpu ke dalam mulut. Aku mengunyahnya perlahan. Tiba-tiba tenggorokanku terasa seperti tersumpal – oleh rasa haru. Rasa mi goreng telur ini tetap kurang sedap. Tapi, kenangan mengenai mi goreng buatan Ayah datang.

Air mataku menetes satu tua. Resep ’cuka‘ benar-benar bekerja.

***
Waktu aku kecil dulu, Ayah bekerja sebagai PNS yang ditempatkan di Saradan. Salah satu kecamatan yang jaraknya cukup jauh dari kota Madiun. Ayah naik Honda tua yang knalpotnya mengeluarkan bunyi kerodok-kerodok-kerodok. Ibu bilang suara knalpot Ayah bisa membangunkan orang satu RT. Jarak jauh, sengat matahari, daerah Saradan yang gersang, keringat membuat seragam kantor menjadi kecut dan penguk. Ayah biasa pulang malam saat lembur. Terkantuk-kantuk Ibu membukakan pintu. Ayah yang lapar tengah malam memutuskan memasak. Tanpa perlu mandi sebelumnya ia membuat mi goreng. 

Pertama, Ayah merebus keping kering mi hingga matang. Tumis bawang putih geprek dalam jelantah, kocokan telur (kadang pakai kadang tidak, tergantung stok telur di rumah), orak-arik hingga agak kecoklatan. Kemudian sedikit air dan mi. Dicampur hingga bumbu merata dan matang. Tersaruk aku terbangun karena bau mi yang menggoda. 

”Ayah bau kecut,“ kataku saat memeluk Ayah. 

Aku duduk di pangkuan Ibu. Ayah membawa sepiring mi goreng panas. Tidak perlu ambil piring yang lain. Hanya dengan menggunakan dua sendok; satu untuk Ayah, satu dipegang Ibu untuk menyuapiku. 

”Enak!” seruku dengan mulut penuh. 

”Ayah tambahkan cuka tadi.” Ayah tertawa. ”Keringat bau kecutnya Ayah yang bikin enak.”
 Mi goreng yang enak. Sedap. 

***
Saat siang, aku libur hari ini, teleponku berbunyi. Mataku berat—pasti bengkak karena menangis semalam. Mi goreng itu tandas meski tenggorokanku mampat seperti terganjal sandal. 
”Bagaimana?“ Ayah langsung bertanya. 

Aku menutup gagang telepon, menyedot ingus, mengucek mata, berdeham mengusir serak, tersenyum, dan kembali membuka gagang telepon. ”Lumayan.”

Kemudian Ayah dan Ibu menganalisa kenapa mi goreng buatanku belum juga mirip—masih dalam taraf lumayan. Sebenarnya aku sudah tahu kenapa. ’Cuka’: tangan Ayah, keras keras Ayah, keringat lelah bekerja, rasa sayang Ayah, suapan Ibu tengah malam, dan juga saat berkumpul bersama itu yang membuat mi goreng buatanku tidak bisa menyamai buatan Ayah. Tapi, aku diam saja. Ikut menimbrung pura-pura tidak tahu dengan penuh minat. []

Leikha Ha, menulis novel Rahasia Batik Berdarah (Gramedia, 2016)

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Leikha Ha
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Lombok Pos" edisi Minggu 16 Oktober 2016


0 Response to "Cuka"