Dalam Istikharah Kutemukan | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Dalam Istikharah Kutemukan Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 21:37 Rating: 4,5

Dalam Istikharah Kutemukan

PAGI itu terlihat semua santri Pondok Pesantren Alqudsiyyah menyetor hafalan Alqurannya di Masjid Akhwat Lt. 2. Mereka semua berbaris menjadi beberapa banjar.

TAMPAK gadis cantik yang sudah selesai menyetor hafalannya. Dia adalah jahro Labibah, boasanya anak santri memanggilnya dengan sebutan Aro.

Dia sekarang duduk di kelas 12 yang sedang menghadapi Ujian Nasional dan Wisuda Quran sebentar lagi menjadi seorang Hafidzah.

Aro merupakan anak yang rajin, aktif,  dan mudah bergaul dengan siapa pun. Bahkan, ia memiliki cita-cita yang tinggi yaitu bisa kuliah ke luar negeri adalah cta-cita yang ia dambakan selama di pesantren.

"Aro, bagaimana untuk persiapan tes ke Turki-nya?" tanya ustadzah.

"Belum ada persiapan apa pun, Mi. Aro sedang mempersiapkan buat Ujian nasional dulu dengan Wisuda Quran saja dulu," jawab Aro.

"Oh, begitu. Iya kalau ada apa-apa bilang ke umi atau ke ustadz ya," pinta Umi.

Umi adalah ustadzah di pesantren. Anak sanri biasa memanggilnya umi. Dia begitu baik pada jahro. Namun, berbeda dengan kedua orangtuanya yang tidak mendukung keinginan Jahro. Itu pula yang membuat Jahro akhir-akhir ini sering menyendiri.

Teeeeeeeeeng...!! Teeeeeeeeeeeeeeeeng..!! 

Bel masuk kelas pun berbunyi. Terlihat Jahro terbirit-birit berlari menuju kelas. jahro pun duduk dan menghela napas "Alhamdulillah, belum ada guru," ucapnya dalam hati.

Gadis berjilbab lebar ini pun duduk di bangku paling depan bersama temannya Aisyah.

"Aro, kamu sering telat akhir-akhir ini. Kenapa dah?" tanya Aish

"Mmm... memang iya, yaa hehe," jawab Aro.

"Iya, Ro. O iya, gimana tes kamu buat ke Turki. Pendaftarannya sudah dibuka tuuh," tanya Aish.

"Mmm... iya aku tau. Tapi, aku bener-bener bingung. Aku gak dapat izin dari orangtua. Tau kan aku anak satu-satunya. Perempuan lagi," jawab Aro.

"Laaah... terus eknapa? bagus dong anak perempuan satu-satunya yang bentar lagi jadi Hafidzah, terus mau kuliah ke luar negeri," tanya Aish.

"Mereka nyuruh aku buat segera menikah," jawab Aro.

"Hah? Nikah?" Teriak Aish. Semua anak kelas memandang ke arah Aisyah dan Jahro.

"Hus! Pelan-pelan," bisik Aro.

**
PUKUL 14.00 WIB. Smeua anak kelas XII IPS 5 pun keluar dari kelas, tampaknya mereka sumringah setelah seharian latihan soal-soal Ujian Nasional bekas tahun kemarin.

Terlihat anak kecil yang dari tadi sedang duduk depan perpustakaan menunggu Jahro.

"Kak Jahro... Kak Jahro," teriak anak itu sambil menghambur ke arah Aro.

"Ush... Ush... ada apa Nisa? Kok kamu lari-lari sih. Nanti kalau jatuh bagaimana toh?" ujar Jahro khawatir.

"Hehe... Nisa disuruh manggil Kak Jahro buat ke rumah ustadzah. Soalnya ada hal penting kak katanya," jawab Nisa.

"Oh, begitu. Iya nanti kakak ke sana yaa. Setelah ganti seragam," ujar Jahro.

**
"ASSALAMUALAIKUM."

"Waalaikumsalam. Eh Aro. Masuk Nak," ucap Umi sambil membuka pintu..

"Kirain Nisa tidak menyampaikan pesan Umi. Ternyata kamu datanng juga," ujar Umi.

"Iya Mi, tadi Nisa nungguin saya di sekolah sampai saya keluar kelas," jawab Aro.

"Beginni Ro, tadi orangtua kamu ke sini. Umi saja kaget apa yang mereka bicarakan kepada Umi. Kamu disuruh pulang ke rumah Ro. Jujur, Umi tidak izinkan. Sebentar lagi kan kamu Ujian Nasional sama Ujian Tahfiz juga. Tapi Umi bilang kembalikan pada keputusan Jahro saja," ucap Umi.

**
KEDATANGAN orangtua Jahro ke pesantren adalah untuk menjemput Jahro pulang. Sebenarnya Jahro sudah tahu apa maksud kedatangan mereka ke pesantren. Inilah yang membuat Jahro tidak fokus belajar.

Jahro sekarang sedang menghadapi Ujian Nasional, namun orangtuanya terus saja memaksa untuk tidak meneruskannya karena mereka menginginkan Jahro agar segera menikah. Namun, Jahro masih ingin melanjutkan pendidikannya.

Jahro pun merasa sedih atas sikap orangtuanya kepada dirinya. Dan ia harus dihadapkan dalam posisi seperti ini. Antara cita-cita dan cintanya terhadap keluarga.

Tanpa berpikir panjang, ia kemudian menemui langsung ustadzah. Dan menceritakan semuanya pada ustazah. Karena ia percaya, ustazah yang sudah ia anggap sebagai orangtua sendiri yakin akan memberikan jalan yang benar.

"Semuanya ada pada keputrusan Jahro. Membahagiakan orangtua itu wajib dan menggapai impian itu juga harus. Tak ada yang sulit di dunia ini Jahro. Asal kita mau berusaha. Coba yakinkan orangtua jahro. Dan jangan lupa selalu berdoa sama Allah. Pinta pada-Nya," nasihat Umi itu membuat air mata Jahro menetes.

**
SETELAH hari itu, Jahro pun kembali bersemangat menghadapi Ujian Nasional dan mempersiapkan tes untuk melanjutkan pendidikannya ke Turki. Ia pun begitu bahagia setelah mendengar keputusan orangtuanya yang tiba-tiba memutuskan untuk mengizinkan Jahro untuk melanjutkan pendidikannya ke luar negeri.

Tak ada yang sulit di dunia ini, asal kita mau berusaha dan menjadikan semua itu sebagai tombak pendewasaan kita yang lebih baik. Sangat disayangkan dan menyesal, dulu saya hanya bisa bersedih dan menyendiri saat saya dihadapkan pada masalah besar.

Sekarang semuanya terasa menjadi lebih baik karena dalam istikharah kutemukan...***

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Reni Marlina
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Pikiran rakyat" Minggu 9 Oktober 2016


0 Response to "Dalam Istikharah Kutemukan"