Di Balik Gerbang Gelap - Perempuan Tua - Tetenger - Di Sembarang Tempat - Manusia dan Doanya - Luka | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Di Balik Gerbang Gelap - Perempuan Tua - Tetenger - Di Sembarang Tempat - Manusia dan Doanya - Luka Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:44 Rating: 4,5

Di Balik Gerbang Gelap - Perempuan Tua - Tetenger - Di Sembarang Tempat - Manusia dan Doanya - Luka

Di Balik Gerbang Gelap

Semburat cahaya kuning, merah, kemilau putih,
rasa bahagiakah?
entah…

menyusup pelan
tergetar saat mencari terang dan terang
rasa risaukah?
entah...

tak henti bibir berkamit
mencari Dia di balik rupa lusuh
atas tubuh kurus kering terbaring
berbagi kasihkah?
entah...

mencumbui sedekah dariNya
memeluk luka demi luka
membaginya dalam beruntai-untai doa
rasa rindu kepadaNyakah?
entah...

bulir air mata mongering
tersisa di ujung-ujung mantilla
menjuntai dari tiap kepala
resah, ketika sebuah suara menggema,
Aku tak mengenalmu, manusia...
Kiamatkah?
entah...

doa terhenti
nyanyi terhenti
asa terhenti
degup jantung terhenti
tersesat ke manakah?
entah...

lalu lalang, menghilang
hiruk pikuk terhenti
desah nafas melenyap
tubuh layu terhisap
beban dosakah?
entah...

Perempuan Tua

Bedak tebal menguliti wajahnya
keriput dan renta
gincu tebal menguliti bibirnya
keriput dan renta
dan ia ingin mengubahnya
menjadi sekian asa

malam telah lama larut, mbah
tidakkah nina bobo membawa
kakimu ke amben bamboo
di rumahmu yang tua dan renta
tak jauh dari bangunan puluhan
wisma yang sudah sepi dari jamahan
gemerlapnya dunia?

ah,
onggokan nestapa bergulir
dari cerita ke cerita,
dari masa ke masa
”Aku sudah memilih dari sekian jalan,
yang tak bisa dipilih,“ begitu katamu
mbah...

Inilah jalan lintas, inilah jalan pintas
ketika nafsu terkungkung keinginan purba,
alami, tanpa daya
ah,
embah...


Tetenger I

Di antara sangkur, bambu runcing, topi tua
Berlubang, bekas peluru,
Seorang bayi bertanya pada sekelilingnya,
”Anak siapakah aku?“
”Engkau adalah darah daging dari prajuruit,
patriot, yang berlumur darah,
perang mempertahankan tanah tumpah
darah.“
Sang bayi tersenyum bangga


Tetenger II

Di antara gedung pencakar langit, mobil me-
wah berseliweran tumpah ruah
seorang bayi bertanya pada sekelilingnya,
”Anak siapakah aku?“
”Tidak tahu pasti, engkau anak siapa. Barang-
kali anak seorang pengusaha
atau anak kerabat istana.“
Sang bayi terdiam gelisah


Tetenger III

Di antara jutaan berita di media,
seorang bayi bertanya pada sekelilingnya,
”Anak siapakah aku?“
”Ah, tanya saja ke KPK!“
Sang bayi mengatupkan bibir dan pejam-
kan mata


Di Sembarang Tempat

Di sembarang tempat
dunia tak punya nyali
orang tak lagi bermazmur
tak lagi berzikir dan mengaji
jikapun ada
gemanya tertelan dentuman bom angkara
di berbagai belahan dunia

Di sembarang tempat
ribuan jazad tergeletak
mengurai tanya, ada apa dengan manusia?
tak mampu lagi berbisik,
tak mampu lagi meratap
Kelam menembus dinding
jauh sampai ke lubuk jantung
Apakah Allah tak ada lagi di setiap hati?
gosong, meranggas
seperti pohon tanpa oksigen, merintih tanpa kata

Di sembarang tempat,
tertunduk lesu menoreh kata tanpa makna,
manusia tinggal sebuah kata
lebih rendah dari cacing, lalat, dan serigala
akukah?

Manusia dan Doanya

Minggu : Tuhan Allah, kembali hamba da-
tang kehadiranMu
Mohon ampuni dosa dan kesalahan hamba
Senin : Berilah hamba rezeki ya Tuhan
Selasa : Berilah hamba kesehatan ya Tu-
han
Rabu : Sertailah kehidupan keluarga Ka-
mi ya Tuhan
Kamis : Berilah kepandaian dan akal budi
ya Tuhan
Jumat : Ya Tuhan sertailah usaha hamba
Sabtu : Stop wahai manusia, sekarang per-
Gilah lihatlah dunia! Kerjakan sesuatu!
Dan Tuhan pun berlalu


Luka

Luka,
Ombak putih berkejaran,
Teluk Kayele menggores kenangan

Luka,
pena tergenggam dalam tangan lelaki renta,
mencoba menyisihkan seonggok kangen dan asa
entah kepada siapa

Luka,
lelah pada kata

Luka,
tanpa maaf, hidup terbuang
dalam ribuan caci maki

Luka,
Jika hidup berbagi ruang dan dimensi
adakah yang lebih indah dari salam dan ja-
bat tangan?

Luka,
tertutup rapat dan membusuk di dalamnya
sejak enam lima


Zoya Herawati, penulis, tinggal di Surabaya


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Zoya Herawati
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Jawa Pos" Minggu 30 Oktober 2016

0 Response to "Di Balik Gerbang Gelap - Perempuan Tua - Tetenger - Di Sembarang Tempat - Manusia dan Doanya - Luka"