Di Kalang Lengan - Setelah Hari Ganjil Itu - Pengusiran | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Di Kalang Lengan - Setelah Hari Ganjil Itu - Pengusiran Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 01:07 Rating: 4,5

Di Kalang Lengan - Setelah Hari Ganjil Itu - Pengusiran

Di Kalang Lengan

tidur kandung jangan merarau
lihatlah pukul sudah tengah malam
jika tersandung bujang di rantau
ingatlah kampung juga halaman

dilesapkan ke tubuhnya kata demi kata
semenjak tepian ditinggalkan. sejak itu pula usia berjalan
lelaki yang beranjak umur
dari lapik ke kasur. dari dipan ke buaian
tak berhenti amanah disumbatkan. ibu yanng tekun
menyusun lagu demi lagi sepanjang malam. alif ba ta
abjad dan hitungan. siapa nanti yang membayar?
manakala orang-orang sibuk mengejar sorga
mencari-cari telapak kaki
sebelum menyerah pada tuhan

berlagu-lagu telah selesai. beragam pantun juga usai
malam runcing aur
"lelaplah kau anak bujang di kalang lengan buaian tak membuat
waktu jadi singkat. esok matahari akan datang bercerita
tentang kota-kota atau tangkai sapu
yang menunggu di balik pintu"
ada yang terasa ganjil
dingin turun membawa gigil
kata yang dilesapkan ke tubuhnya seolah iringan panjang
barisan orang-orang yang meninggalkan rumah gadang
menuju keberangkatan

timang-timang
buaian rotan
tali berkain sarung
mimpi akan datang di ujung dendang
mendengkurlah ia dalam pangkuan
jantan yang tengah menunggu matahari
lelap dalam dekapan

Payakumbuh

Setelah Hari Ganjil Itu

setelah hari ganjil itu, tepian pun terlupakan
orang-orang ke sawah, orang-orang ke ladang
yang mengaji mendatangi surau-surau. yang bersilat berguru ke angku-angku
di malam-malam bulan setengah maupun purnama
sepak tekong pun dimainkan
"akulah jantan yang tumbuh dengan tubuh menggeliat
dari jendela kulihat kanak-kanak berombongan meninggalkan rumah
pergi mengejar kaji. setelahnya bermain bernyanyi-nyanyi
sudah berapakah usiaku?"
bayang-bayang bertambah panjang
seekor kambing pun dibantai. tiga helai rambut dicukur
menangislah kau untuk kata-kata berikutnya.

maka berbondonglah bako*
datang membawa jamba lengkap-lengkap
seekor ayam tak lupa. beranak-pinaklah demi esok yang luas
si jantan kelak akan mengarungi samudra. memaknai kehidupan
juga mungkin kepergian
"akukah jantan itu? waktu berlingkupan
gagasnya tak tertangkap tangan. pagi siang malam lalu dalam irama tak tentu
setiap hari orang-orang berangkat. mengangkat kopor-kopor, jinjingan
mimpi dan harapan
siapa lagi yang tertinggal?"
dari jendela ia dengar suara pedati berderak-derak. dari jenndela ia lihat
kusir bendi melecutkan cemeti
akan ke manakah mereka

keratau madang di hulu
berbunga berbuah belum
merantau bujang dahulu
di rumah berguna belum

laki-laki yang telah menangis untuk kata berikutnya
pelan-pelan melambaikan tangan. seolah-olah menitip pesan
tiba saatnya nanti, aku akan pergi

Payakumbuh

Catatan:
*) Keluarga dari orangtua laki-laki

Pengusiran

telah dibuatkan untuknya sebingkai layang-layang
senapan pelepah pisang. maka pergilah!
bermain kau di antara pematang ke tepian, berlarilah ke tanjung-tanjung
juga kaki gunung
semakin banyak kau tuliskan kata-kata, semakin teraba luka-luka dunia
di kelok-kelok rahasia kau tanyakan. di pagar-pagar pimping menuju tebing
bila telapak tangan teriris. atau kaki yang tergores tajam lalang
catatlah sebagai perjalanan. bahwa sesungguhnya selalu ada darah yang menetes sebelum pulang
"di manakah aku? layang-layang menerbangkan usia
pelepah pisang itu seolah menembus jantung
berapa banyak kata lagi yang harus kucari?"
hari senja
malam sebentar lagi
semua bersepakat untuk menyambut kesunyian

dari jendela. laki-laki yang sibuk mencari kata-kata
ia lihat rombongan kanak-kanak itu menuju surau
ia pun menghambur ke dalamnya
alif ba ta, sampai tentang neraka dan sorga.
ia catat semuanya. ia simpan ke dalam tubuh yang menggeliat.

dari jendela. laki-laki yang sibuk mencari kata-kata
ia lihat rombongan kanak-kanak itu menuju glanggang
melompat-lompat dengan kuda-kuda terpasang
langkah tuo, ilak kida hingga patah tabu*
ia pun telah khusyuk di antaranya.

"akukah jantan itu? seperenam jalan telah kulalui
di antara lekuk-lekuk lurah dan tanjung-tanjung mendaki
dadaku sesak, rumah gadang terasa semakin menjulang"

telah dibuatkan untuknya sebingkai layang-layang
senapan pelepah pisang. maka pergilah!
di surau kaji selesai
di gelanggang silat pun sampai
inikah pengusiran?

Payakumbuh

Catatan:
*) Nama-nama jurus dalam silat Minangkabau



Iyut Fitra lahir di Payakumbuh Sumatera Barat. Buku puisinya, antara lain Dongeng-dongeng Tua (2009) dan Beri Aku Malam (2012).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Iyut Fitra
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" edisi Sabtu 8 Oktober 2016

0 Response to "Di Kalang Lengan - Setelah Hari Ganjil Itu - Pengusiran"