Di Makam Hubulo - Ziarah ke Bukit Borgo - Pantai Talise - Sulamadaha - Benteng Kastela - Pelajaran dari Teluk - Kwatrin Teluk Palu - Teluk Tomini | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Di Makam Hubulo - Ziarah ke Bukit Borgo - Pantai Talise - Sulamadaha - Benteng Kastela - Pelajaran dari Teluk - Kwatrin Teluk Palu - Teluk Tomini Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:08 Rating: 4,5

Di Makam Hubulo - Ziarah ke Bukit Borgo - Pantai Talise - Sulamadaha - Benteng Kastela - Pelajaran dari Teluk - Kwatrin Teluk Palu - Teluk Tomini

Di Makam Hubulo 

Kau terpejam menahan panasnya siang
Di ubun-ubun, Matahari semakin tinggi
Sinarnya memantul pada atap-atap seng
Tapi yang bisa kutangkap hanya bunyi

Bunyi merayapi lorong gelap di nadimu.
Mengikuti darah. Lalu tanganmu bergerak
Pada gundukan tanah kauciptakan dunia
Dunia baru yang tumbuh dari kata-kata

Kata-kata dijatuhkan dari tingkap langit
Dengan lapang sunyi menampungnya di bukit
Lalu pohon-pohon tua sekitar makam semuanya
Terpana. Kau memahaminya sebagai puisi

Puisi meresap langsung ke pusat jantungmu.
Menjadi napas. Matahari turun mendekati bumi
Sinarnya yang kemerahan meredup di matamu.
Terpejam adalah jalan panjang menuju pulang.

2013

Ziarah ke Bukit Borgo 

Undakan batu itu membaca takdirnya sendiri
Pada setiap langkah kaki pengiring jenazah
Daun kamboja yang gugur itu mencatatkan umurnya
Pada tanah basah. Keabadian menjadi sebuah parodi

Banyak patung megah yang tak menyatakan apa-apa
Selain kebisuan yang luput disimpan sejarah
Kaligrafi-kaligrafi indah yang terukir pada nisan
Hanya mempertegas betapa pendeknya jarak ingatan

Tahun-tahun terkubur bersama almanak dan arloji
Nama-nama besar membusuk dalam hikayat
Yang kekal hanya sunyi. Hanya dentang lonceng sepi

Kematian telah usai dimainkan sepasang burung
Adegan-adegan yang menegangkan itu berlalu sudah
Panggung kembali kosong. Hidup di dunia sekadar jeda

2015

Pantai Talise

Langkahku terasa berat ketika menuruni jalan setapak
Rumpun ilalang yang kusibak seperti kenangan yang lewat
Sambil memalingkan muka. Lalu aku menghirup aroma lain
Aroma yang tak rutin ditiupkan gelombang ke rongga udara

Kedatanganku di pantai ini bukan ingin menyambang seteru
Mantera yang kurapal hanya sekadar menghangatkan rabu
Sekian lama aku membisu dan lupa bagaimana mengucapkan
Namamu. Sekian lama terlunta dalam reruntuhan waktu\

Jemariku memetik keheningan dari hamparan tanpa ufuk
Dawai berdenting dari kekosongan yanng pecah diterpa angin
Pulau-pulau menjadi percikan titik yang semakin mengecil

Sekain lama aku menunggu suaramu turun menemui kami
Di bumi. Sekian lama aku membayangkan pertemuan gaib itu
Ketika sabda dan gema berkelindan bagai garam dengan lautan

2015

Sulamadaha

Langkah samar kabut bergerak ke arah pulau karang
Di antara bunyi ombak yang menghempas pelahan-lahan
Selasar pantai nampak meliuk-liuk hingga ke ujung teluk
Membentuk lekukan biru yang menjilat-jilat buih putih

Laksana tanjung dengan ceruk-ceruk tebingnya yang curam
Satu lukisan tak akan habis ditafsir sepanjang putaran waktu
San setiap tafsir akan melahirkan sejumlah pemaknaan lain
Tak tahu siapa di antara kita yang memperlebar wilayah rindu

Kita akan belajar pada laut yang menyimpan isyarat lembut
Di balik keganasan ombaknya. Kita akan berguru pada gunung
Yang terbuka bagi kedatangan dan kepergian burung-burung

Kekasihku, biarlah keyakinan kita menemui ufuknya sendiri
Sebagaimana setiap perahu melayari takdirnya masing-masing
Kita akan bertemu pada saat bulan dan matahari bersentuhan

2015

Benteng Kastela

Di gerbang kastil aku mengumpulkan guguran bunga
Juga kata-kata. Dibawah remang langit kesumba
Seribu satu kisah penindasan kupadatkan dalam soneta
Kebisuan masa lalu seakan kembali menemukan nadanya

Diksi kupungut dari sisa ruang dan serpihan waktu
Untuk mengikuti refrein lagu. Sedang pada setiap kalimat
Pertempuran yang berabad lamanya kusingkat menjadi frasa
Mantera-mantera kubangunkan dari reruntuhan bahasa

Di balik keangkuhan kastil telah kukubur sebuah biografi
Pada batu nisan kupahat alamat sunyi. Lalu aku pergi
Meninggalkan pulau yang selalu menebarkan melankoli

Kini tubuhku terapung dalam satu pusaran yang tak lain
Bernama keheningan. Dunia masih berputar pada orbitnya
Di atas perahu malam aku menyambut guguran bintang

2015

Pelajaran dari Teluk

Keanggunan dipunyai gelombang
Dengan tariannya yang lentur
Ketabahan dimiliki karang
Yang tulus menerima setiap debur

Keteguhan dipegang ufuk
Sebagai pembatas ruang dan waktu
Kematangana digenggam matahari
Yang rela tenggelam untuk terbit kembali

2014

Kwatrin Teluk Palu 

1
Paras langitmu merah kesumba
Membayang di punggung segara
Tirai kabutmu sehalus kain senja
Berjuntaian hingga ceruk belanga

2
Ketika samsu meredupkan sinarnya
Ombak di haribaanmu setenang jiwa
Berilah angin petang sejumput nada
Dari dawaimu akan terdengar balada

3
Manteramu melayang ke angkasa
Tarianmu di antara bunyi serangga
Anggun seperti gunungmu di utara
Sungaimu di tenggara tinggal gema

2015

Teluk Tomini

Terlanjur dalam aku memasukimu
Hingga tak ada lagi jarak di antara kita
Terlanjur masuk aku menyusuri sunyimu
Berlayar menerobos keheningan segara

Daun-daun melambai di pinggiran hutan
Akar-akar gentayangan di tebing curam
Kurengkuh ombakmu dengan kedua lengan
Perahuku oleng dilengkung pinggangmu

Terlampau tajam dayungku merobek dingin
Hingga engganmu tersangkut gigir terumbu
Terlampau sakit aku menembus segala ingin
Mengayuh wkatu mencapai  marwah rindu

Bukit-bukit berjajar memagari telukmu
Matahari lenyap di tengah kepungan awan
Kuselami palung di kedalaman semadimu
Namun celah menuju hatimu betapa rawan

2015



Acep Zamzam Noor lahir di Tasikmalaya, Jawa Barat. Ia bergiat di Sanggar Sastra Tasik (SST) dan Komunitas Azan. Kumpulan puisinya antara lain Bagian dari Kegembiraan (2013) dan Like Death Approaching and Other Poems (2015).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Acep Zamzam Noor
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" edisi Sabtu 18 Oktober 2016

0 Response to "Di Makam Hubulo - Ziarah ke Bukit Borgo - Pantai Talise - Sulamadaha - Benteng Kastela - Pelajaran dari Teluk - Kwatrin Teluk Palu - Teluk Tomini"