Di Muka Orang Mati - Kerajaan Kata - Sri Menjahit - Sri Menggunting Kain - Nun - Di Bawah Kelopak Air - Slooterdijk - Penghapal Kitab - Seekor Dingin - Sitor | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Di Muka Orang Mati - Kerajaan Kata - Sri Menjahit - Sri Menggunting Kain - Nun - Di Bawah Kelopak Air - Slooterdijk - Penghapal Kitab - Seekor Dingin - Sitor Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:31 Rating: 4,5

Di Muka Orang Mati - Kerajaan Kata - Sri Menjahit - Sri Menggunting Kain - Nun - Di Bawah Kelopak Air - Slooterdijk - Penghapal Kitab - Seekor Dingin - Sitor

Di Muka Orang Mati

Ketika aku menulis puisi ini orang mati itu
Sedang memandangku lewat sepasang matamu
Sepasang mata yang berjalan di bawah bayang kata
Kata yang berwarna merah dan penuh suara

Ketika kau membaca puisi ini orang mati itu
sedang menulis namamu di degup jantung tanah
Degup yang menggema ke sekalian akar dan hulu
Hulu yang menjalar ke arah mereka yang berdarah

2016

Kerajaan Kata

Di kerajaan kata: para pangeran berjubah ungu
dan berkuda putih. Kuda-kuda putih yang menyerbu
di bawah suara lonceng yang meneteskan darah
Di padang bayang kaki-kaki kuda menderu
Memercikkan api

Di kerajaan kata: di padang-padang ingatan
Para pangeran berdiri di atas abu. Di bawah bayang
menara dan gardu penjagaan. Sejak itu kawat berduri
selilit lidahmu. Hitam liurmu serasa empedu

2016

Sri Menjahit

Di permukaan kain
guntingku memisahkan siang dan malam
Duduk tenang mengayuh mesin perjalananku
meniti benang. Benang yang menyerahkan
sekalian tubuhnya. Menyatukan kembali
potingan tulang rusukmu:

Ini baju untukmu, suami, sayang...

2016

Sri Menggunting Kain

Bentangan kain: padang lengang dan bayang suaramu
Tak perlu aku mengukur panjang lengan, pundak,
punggung, lingkar perut. Sekaliannya kuhafal benar
Kusalin bentuknya di kain seperti kupindahkan
tubuhmu ke dalam tubuhku

Tetoron putih dan katun biru
Gunting tajam berbungkus beludru
Suami sayang tampak di kain baju
Anak lelaki bermata sayu

Bentangan kain: dingin mata gunting meniti salinan
tubuhmu. Tajam yang memisahkan tubuhmu dari kain
Kain berlipat lembut tanpa seinci tergeser. Lihat, gunting
Meniti pundakmu, lengan, punggung, lingkar perut
Sekaliannya kini berkumpul mengelilingiku

Tetoron putih dan katun biru
Gunting tajam berbungkus beludru
Suami sayang hilang ke padang lengang
Berbaju malam bersuara bayang

2016

Nun

Kau pandangi aku setiap hari
lewat bau tubuhmu. Bau mulut orang mati
Orang tak berkampung tak berkaum. Di sungai
dekat menara yang mirip berhala. Kamu berjalan
sambil bersiul. Orang-orang berkumpul
dan saling melupakan

Di atas meja tak ada waktu dalam kata

Bau tubuhmu seperti bayang tentara
yang merogoh-rogoh pikiranku. Pikiran
yang menyimpan ingatan tentang nun. Nun
yang berasal dari entah. Nun yang membuatku
setiap hari memanggul bau tubuhmu

Mencari-cari ibu...

2016

Di Bawah Kelopak Air

Sepasang matamu berasal kelopak air
Pusaran lembut yang menghisap: mengebat
tanganku. Sejak itu aku menjadi tawanan
Pemuja yang diliputi kebahagiaan. Setiap
hari aku meniup dan membuat lubang seruling
Tempatmu menaruh jemari tangan

Dan ini juga untukmu: kata-kata
paling rahasia dari apa yang tak pernah
dibisikkan ruang pada cahaya di muka bayang

Aku telah menatap sepasang matamu
Sejak itu aku tak bisa lagi memandangmu

Seperti kapal selam aku melihat
dengan suara. Dengan irama seruling
Di bawah kelopak air, di jantung palung,
aku berdiam. Tak ada lagi yang bisa kubisikkan
pada ruang, cahaya dan bayang. Sedang pusaran
lembut itu masih menghisap tubuhku. Dan di lubang
seruling jemarimu terus bergerak

Mengebat tanganku...

2016

Slooterdijk

Kita akan bertemu di Slooterdijk

Tapi aku tak bertemu musim panas di Slooterdijk
Udara 12 derajat dalam tempias yang ganas
Langit kotor seperti selimut para pengungsi

Suara burung gagak bergulung dalam angin
Degup jantungnya bergaung dalam tubuhku

Dingin menebal di jadwal kereta
Di jejak kaki orang berjalan ke arah
daun pintu yang berputar-putar
bagai pusaran air

Ada juga perempuan berpayung
dan kekasih yang menyongsong
menyeret kopor berisi puing
sebuah ktoa yang mesti
diselamatkan

Tapi stasiun selengang padang
Kekasih riang bermain bayang

Pasporku lembab pikiranku pengap

Tak ada musim panas di Slooterdijk
Kawanan burung gagak
Mendarat tenang di tubuhku
Menyelubungi suaraku...

2016

Penghapal Kitab

Aku tak ingin menyentuh apapun
Setiap sentuhan mengandung penipuan
Aku bernafas dan berjalan amat perlahan
Setiap detik pandangaku tambah rabun

Kutimbang dunia dari bagiannya
yang paling murni, janji keselamatan
hukum silam. Kuwaspadai sekalian alamat
perubahan warna air, suhu udara, bayangan
seseorang beringsut atau mendekat

Kujauhi jalan para penafsir
Penghasut dan pengicuh

Aku tak menyentuh apa yang disentuhnya
Setiap sentuhan menghancurkan kemurnian
Aku mengutuk sekalian yang tak dikutuknya

Di jalan keselamatan aku berjaga

2015

Seekor Dingin

Seekor dingin melata di balik jangat
Taring cakarnya berasal dari segala bisa
Runcing matanya. Lembut lidahnya

Dipungutnya yang menetes
dari senggama ruang dan cahaya
Yang luput menjadi kata
besar dalam asuhannya

Seekor dingin melata di pembuluh kata
Taring cakarnya merambat, memilin
Sebelum usai ciuman dan senggama

Runcing matanya
Lembut lidahnya

2015

Sitor

– Barbara, Logo


Selepas salju
Selekas rindu
Kerling kekasih
Berdenting ngilu

Sepagut ciuman
Sepeluk kenangan
Berbayang danau
Bersimpang rantau

Seulam waktu
Sepucuk lalu

Tilam putih berbulan biru

2015

Ahda Imran tinggal di Bandung. Buku-buku puisinya, Penunggang Kuda Negeri Malam (2008) dan Rusa Berbulu Merah (2014).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ahda Imran
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Koran Tempo" 29-30 Oktober 2016

0 Response to "Di Muka Orang Mati - Kerajaan Kata - Sri Menjahit - Sri Menggunting Kain - Nun - Di Bawah Kelopak Air - Slooterdijk - Penghapal Kitab - Seekor Dingin - Sitor"