Eksis | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Eksis Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 22:23 Rating: 4,5

Eksis

”Aduh, gawat, gawat, gawat,” Riskiyari tampak panik dan kebingungan. Setelah sepanjang ketemuan dengan teman-teman yang lain kepalanya menunduk menghadap layar hape terus, akhirnya sekarang ia mendongak. 

Teman-temannya bersikap biasa saja. Mereka sudah hafal dengan kebiasaan kawannya yang doyan eksis tesebut. Paling sebentar lagi dia akan bilang….

”Eh, aku numpang update sosmed, dong. Update instagram dan balas komen di Facebook. Sebentar saja,“ pinta Riskiyari. ”Ada yang penting banget, nih.“

”Sepenting apa?” tanya Wita.

”Aku kudu posting buat nunjukin kita lagi ketemuan,” jawab Riskiyari. Ia lalu merengek menanyakan apa boleh meminjam ponsel salah satu teman-temannya. Hanya sebentar, setelah medsos – media sosial – nya ter-update semua, ia akan segera mengembalikannya. ”Enggak bakal makan banyak kuota, deh. Suer. Aku janji.”

Tidak ada yang menanggapi permintaan Riskiyari. Mereka malah menyimpan ponsel masing-masing ke dalam saku celana dan ke dalam tas. 

”Pulsaku habis, nih,” jawab Seto.

”Aku juga sudah enggak punya kuota internet,“ timpal Dila. ”Mungkin nanti baru isi ulang.”

”Aduuuh...,“ rengek Riskiyari. ”Terus aku apload gambar di instagramnya bagaimana?“

”Nanti sepulang dari sini kan bisa?” tegur Ahmad yang sebenarnya sudah jengkel sedari tadi. ”Memangnya kalau enggak di-upload sekarang kamu bakal rugi duit sampai milyaran, gitu?”

Riskiyari manyun cemberut. Ia meletakkan ponselnya di atas meja. Teman-temannya kini melanjutkan obrolan mereka. Sudah tak ada lagi minat Riskiyari untuk menyambung dan bergabung dengan percakapan kawan-kawannya. Hatinya sudah kadung jengkel; ia enggak bisa update media sosial – masih ditambah pula dengan teguran keras teman-temannya. 

Sore ini tadi Riskiyari dan beberapa teman-temannya janjian ketemuan. Setahun setelah lulus SMA, mereka berpencar karena kuliah di kota yang berbeda-beda. Mumpung akhir pekan ini adalah long weekend dan semuanya pada pulang, mereka membikin janji ketemuan. Tapi sayang, saat berkumpul bukannya bercanda dan mengobrol, Riskiyari malah sibuk dengan hapenya. 

Teman-temannya sudah menegur, tapi gadis itu keras kepala. Saat sudah menatap layar hape dengan jari-jari bergerak di permukaan layar, dunia nyata Riskiyari seakan-akan telah hilang. Kebiasaan buruk yang susah berubah sejak SMA. 

“Coba, deh, sekali-sekali ponselnya hilang atau ngapain begitu,” kata Seto. ”Biar kamu tahu kalau hidup tanpa pegang gadget juga indah.”

”Ngedoain kok jelek, sih!?” sembur Riskiyari kesal. Manyun di bibirnya semakin bertambah-tambah. Ia sudah kehilangan momen mengunggah foto ketemuan mereka di instagram. Beberapa komentar di Facebook dan Twitter juga tidak jadi bisa segera dijawabnya. Tiba-tiba ia pengin cepat pulang dari ketemuan lalu mampir toko pulsa untuk beli kuota. 

***
Sepertinya keinginan teman-teman Riskiyari terkabul. Setiap mandi pagi atau sore Riskiyari punya kebiasaan membawa ponsel ke kamar mandi. Sambil nongkrong sebelum membilas badan, ia melihat berita LINE today, melihat instagram para selebritis, membalas komen Facebook, membalas mention kawan di Twitter, dan kegiatan online lainnya. 

Siang nanti ia ada kuliah dengan dosen yang galak. Pun ia masih mahasiswa baru, sehingga mau tidak mau harus rajin hadir kuliah tepat waktu. Selesai handukan dan sekalian mengenakan pakaian ganti, Riskiyari yang terburu-buru mengambil ponsel yang diletakkan dalam wadah peralatan mandi yang menempel dinding. 

Entah karena kurang perhatian atau tergesa-gesa tak mau terlambat tiba di kampus, bukannya tergenggam tapi ponsel itu malah tertepis tangan Riskiyari. Seperti nyamuk yang ditepuk raket listrik, ponsel itu bergeser lalu meluncur turun… lalu… lalu….

Pluuuung… -- masuk ke bak mandi. 

Riskiyari mematung sejenak sebelum gadis itu menjerit pilu. ”Hapeeekuuu…!”

Gawai itu mengapung-ngapung di permukaan air. Sebelum kemudian tenggelam perlahan. 

”Oh, tidak! Jangan! Jangan!” Riskiyari buru-buru menyelamatkan ponselnya. Ia membungkus dengan handuk dan segera dibawa keluar. Menurut artikel yang pernah dibaca, ponsel itu baiknya dibongkar dan disimpan dalam beras. Lalu diangin-anginkan dan dijemur di bawah terik matahari langsung. 

Semua sudah dilakukan Riskiyari sampai-sampai ia membolos kuliah hari itu. Tapi apa daya, ponselnya tidak bisa diselamatkan lagi. Saat minta dibelikan yang baru, mama malah marah-marah dan bilang, ”Memang sudah saatnya kamu berhenti mainan telepon genggam. Berbaur dengan teman jauh lebih baik. Menyapa tetangga dengan tidak lupa tersenyum.“

”Mama, please...,“ rengek Riskiyari.

”Manusia itu diciptakan sebagai makhluk sosial, jadi bersosiallah.“ Mama melanjutkan lagi, ”Kalau kamu mau gadget, tunggu dua bulan lagi baru Mama belikan yang baru.”

Aduh, masa ia tidak bisa update foto-foto dan status Facebook lagi, batin Riskiyari nyeri. Ia bakal ketinggalan banyak berita, dong. Gadis itu merasa lemas. Hanya karena tak ingin ketinggalan berita-berita dan gosip selebritis online, hanya karena kepingin terlihat selalu eksis, hanya karena ia tak bisa lepas dari ponsel barang semenit pun, perbuatannya malah berakibat fatal. 

Mau tidak mau Riskiyari menerima opsi yang ditawarkan mama. Habis ia bisa bagaimana lagi? Hanya karena ia pengin terus eksis, ending ceritanya malah enggak menyenangkan. 

Huft…

Riskiyari berjanji; kelak memiliki gadget baru ia akan mulai membagi waktu antara kehidupan maya atau online-nya dengan kehidupan di dunia nyata. Dan, porsi menikmati hari-hari bersama teman-teman di dunia nyata harus lebih besar ketimbang jatah waktu online. []

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Desi Puspitasari
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" edisi 16 Oktober 2016



0 Response to "Eksis"