Firasat Hujan | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Firasat Hujan Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 18:40 Rating: 4,5

Firasat Hujan

HUJAN diselingi suara gelegar petir bersahutan. Saya benci hujan sejak saya tinggal di kota industri ini. Umpatan demi umpatan terlahir dari mulut saya yang mengeluarkan asap-asap keresahan.

SEBENCI saya saat seseorang yang sudah dicintai sepenuh hati, mengorbankan waktu dan uang untuknya. Tanpa alasan, dia selingkuh dengan tetangga kontrakan saya, ketika hujan deras di rumah lelaki brengsek itu.

Lain dengan Arin—keponakan saya yang menyukai hujan. Baginya hujan adalah anugerah dan rekreasi jiwa. Dia bisa mandi hujan dengan girang tanpa pernah takut sakit. Arin akan selalu bahagia memandangi hujan yang jatuh dari langit dengan mata berbinar sejak dia kecil. Dan saya semakin terpuruk kesal karena hujan sudah membuat saya berjibaku dengan kemacetan, dan terlambat masuk kerja. Mendapat potongan gaji beserta ocehan-ocehan kasar bos besar. Sampai sering bertemu kesulitan di lapangan. 

Sebagai seorang 'delivery' di perusahaan penyuplai 'sparepart'. Saya merasa jalanan adalah jiwa saya. Hingga saat hujan membuat jalanan menjadi becek, banjir dan rusak hingga macet di beberapa ruas jalan, seketika itu saya terpuruk. Bagaimana tidak terpuruk, mengantar barang pesanan 'customer' harus cepat dengan alasan 'urgent' untuk segera dipakai. Saya harus menempuh perjalanan dengan tepat waktu. 

Kekasih saya meninggalkan saya saat hujan deras mendera. Pacar saya yang lain menyelingkuhi saya di tengah hujan berlangsung. Hujan membuat suasana hati ini semakin gusar dan pelik. “Ah, itu perasaan Om Agus saja,” timpal Arin setengah meledek. Dia memang suka sekali iseng ketika saya galau. Tak jarang jika perempuan yang naksir saya selalu digodanya terlebih dahulu. Ada yang menganggapnya biasa dan ada yang sebal karena sikap Arin yang kepo.

Hari ini saya merasa tidak bersemangat. Di mana hujan sudah mengabar lewat langit-langit mengelabu, angin dingin yang mengigit kulit. Saya harus mengecek mesin motor setiap Minggu, dan membeli mantel baru yang lebih kuat dari yang kemarin. Mbak saya—ibunya Arin selalu membantu. Meski dalam keadaan yang sulit. Lalu di akhir bulan selalu saya bayar, bahkan sering memberi lebih untuk anak-anaknya.

Saya merasa keponakan saya ini sedang mengalami sesuatu. Dua minggu saya perhatikan Arin. Dari cara bicara, wajahnya dan gelagatnya. Tak disangka, gadis itu sedang terkena virus merah jambu. Jatuh cinta, atau cinta monyet untuk yang masih sekolah. Tersipu-sipu malu, lebih ceria dan genit. 

“Om Agus kenapa sih?” tanyanya genit. Saya cuma nyengir kuda saat memata-matai dia lewat pertanyaan konyol, mirip wartawan gosip. Maklumlah, saya sangat khawatir dengan Arin yang masih belia. Sepertinya gadis itu belum waktunya merasakan jatuh cinta. Sampai saya selalu tanyakan siapa cowok yang membuat dia jatuh cinta, dia bilang itu rahasia. Itu membuat saya penasaran.

Saya sudah sepuluh tahun berpengalaman dengan urusan itu. Diusia saya yang sudah kepala tiga. Jangankan perempuan, lelaki seperti saya saja jika jatuh cinta akan berseri-seri. Jika patah hati, rasanya bagai terjun dari ketinggian tebing dan hancur berkeping-keping. Bagaimana jika Arin merasakan patah hati? Nah, itu yang sedang saya pikirkan. Padahal dia sedang menjadi pelajar yang teladan dan cerdas. Ibunya sering membanggakan kecerdasan akademiknya di sekolah pada saya. Karena ayah Arin itu orang yang sangat cuek.

“Arin minta tolong, Arin pinjam tas ranselnya, Om Agus.” Suatu pagi di hari Sabtu. Membuat saya terkejut. Mau ke mana dia? 

“Untuk apa, Rin? Ada kegiatan sekolah, ya?” tanya saya memberondong.

Kedua bola matanya seakan mencari sesuatu di langit sana. “Hmmm, Arin ingin kemping, Om,” jawabnya kemudian. Saya sedikit ragu dengan jawabannya. Kemping? Menurut saya, saat ini semua anak sekolah menengah atas dan kejuruan telah selesai menghadapi ujian. Harusnya tidak ada lagi kegiatan sekolah. 

“Menginap? Kemping ke mana? Sama teman-teman sekolah?” kembali saya bertanya banyak. Mukanya menjadi masam.

Saya pikir, dia akan jujur dan tidak mencari-cari alasan. Ternyata saya salah. Dia lebih cerdas dan berani. “Iya menginap, di Mekar Sari. Bareng sama teman-teman sekolah. Bukan acara sekolah, tapi sekadar acara perpisahan gitu, Om.” 

Nah, benar kata saya. Bukan kegiatan sekolah. Hanya inisiatif mereka saja. “Sudah bilang sama ibu dan ayah?” tanya saya kembali. Arin menghela napas. Mungkin terasa saya ini paman yang terlalu cerewet. Selalu bertanya dan bertanya.

Dia mengangguk gemas, “Kalau nggak mau pinjemin, ya udah!” ucapnya ketus. Terasa sekali kekesalan di wajah anak itu. Akhirnya saya meminjamkan tas ransel itu. 

“Ini ambil. Ingat, kalau sudah pinjam dikembalikan. Pesan Om, kamu jaga diri baik-baik.” Dia mendengarkan sembari mengambil tas ranselnya dan berlalu. Di sana keceriaannya masih bisa saya rasakan.

Keesokannya, di hari Minggu. Arin berangkat dengan teman-temannya. Saya lihat dia bersama tiga teman ceweknya naik mobil carteran. Kendaraan itu berlalu memunggungi saya dan ibunya dan langit memberi pertanda akan turun hujan. Ada raut kecemasan di wajah ibunya. 

Saya tinggalkan cerita si Arin ini. Seperti biasa di hari Minggu, saya hanya sendiri dalam kontrakan sepetak sambil mendengarkan lagu-lagu Iwan Fals dan Ebiet.G.Ade. Terdengar suara gluduk bersahutan, dan hujan pun turun mengiringi kesepian saya yang tak berarti. 

Semua tetangga kontrakan pergi. Hari Minggu tidak akan membiarkan mereka kesepian di rumah sepertak ini. Ibu Arin masih terlihat cemas. Membuat saya memikirkan Arin. Usianya baru genap delapan belas tahun. Saya pikir dia adalah gadis polos yang masih bermanja di ketiak ibu dan bersembunyi di balik punggung ayahnya saat ketakutan. Ternyata kini dia sudah besar. 

Hujan semakin deras. Suara musik yang saya dengarkan semakin dikalahkan. Saya benci hujan. Tapi merindukan sesuatu ketika suara hujan itu bermain di telinga saya, bagai musik alam. Teringat kampung halaman, teringat emak yang selalu membuatkan kudapan hangat sangat hujan turun. Teringat kakak-kakak yang suka bermain hujan, kemudian menarik saya ke luar untuk main hujan-hujanan bersama mereka, saat emak dan bapak tertidur.

Aroma hujan di sana lebih menentramkan dibanding di kota ini. Kota industri yang sudah terjamah polusi dan krisis sosial. Lamunan saya akhirnya membawa ke bawah alam sadar. Tiba-tiba, Arin datang pada saya dalam keadaan mengejutkan di mata saya. Bajunya robek di sana-sini, rambutnya kusut, wajahnya lusuh. Dia menghambur dipelukan saya. “Om Agus, tolong Arin,” sedihnya. Sontak saya terbangun mendapati mimpi itu. Ya Tuhan, sepertinya terjadi sesuatu pada Arin. Saya merinding seketika. Bukan karena dinginnya hujan saat itu, tapi karena mimpi tadi. 

Keesokan harinya, berangkat kerja. Terlihat Arin sudah berada di rumahnya. Saya penasaran, ingin langsung melihat kondisinya. Entahlah, kenapa saya sekarang-sekarang ini memerhatikannya lebih. Dia melihat saya dan langsung masuk ke rumah. Saya bingung kenapa, tak berapa lama dia keluar.
“Om Agus! Ini tas ranselnya. Terima kasih, ya,” ucapnya sembari memberikan tas ransel itu pada saya. Ternyata dia mengembalikan tas ransel yang dia pinjam itu. Terlihat wajahnya biasa saja, tidak ada yang aneh. Saya lega. Arin baik-baik saja.

Dua minggu setelah itu saya tidak lagi memikirkan Arin. Saya pikir anak itu akan melanjutkan pendidikannya. Kuliah di universitas yang dia dambakan. Hujan datang lagi. Petir bersahutan dengan keras. Sontak seketika hati saya gamang. 

Ketika pulang bekerja sore itu, rumah mbak saya terlihat ramai sekali. Banyak kerumunan dan teriakan pilu. Lekas saya berlari menghampiri. Terlihat ibu dan ayah Arin yang histeris memanggil nama Arin. Ada apa dengan gadis itu? Benak saya mulai terguncang, gamang dan mata saya terbelalak mendapati Arin sudah terbujur kaku di pembaringan.

“Apa yang terjadi, Mbak, Mas?” tanya saya pada ayah dan ibu Arin. 

“Arin, Gus! A-Arin meninggal!” teriak mbak saya.

“Kenapa, bisa, Mbak? Bagaimana bisa?” tanyaku berulang seolah tak percaya.

“Arin! Kenapa kau lakukan ini pada kami!” Ayah Arin histeris, membuat bulu kuduk saya merinding mendengarnya. Dia benar-benar berduka.

“Arin ditemukan gantung diri di kamar mandi … tepatnya tadi sore, Gus.” Bu RT memberitahu saya meski dia tidak tega, sembari memberikan buku diari Arin berwarna biru yang diketemukan di meja belajarnya. 

Saya tak kuasa menahan tangis. Saya biarkan air mata itu mengalir deras. Seakan guncangan itu semakin tidak terkendali. Tangan ini gemetar saat membaca halaman terakhir tulisan Arin di buku itu. Saya tidak percaya bahwa keponakan saya yang begitu cerdas, polos dan ceria itu sudah tidak perawan lagi. Dia meminta maaf kepada semua orang termasuk saya—pamannya. Dia patah hati! Lelaki yang dia cintai pergi meninggalkannya. Saya sampai tidak memikirkan lelaki itu siapa. 

Apa yang saya mimpikan tentang Arin kemarin adalah ini. Ya Tuhan, saya telat untuk mencegah semua itu tidak terjadi. Padahal telah diberikan banyak pertanda. Saya terdiam kaku bersama suara hujan dan jeritan pilu orangtua Arin.***

Cikarang Barat, 01-Oktober-2016


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Rosi Ochiemuh  
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Pikiran Rakyat" Minggu 30 Oktober 2016

0 Response to "Firasat Hujan"