Hujan - Mencintai Sungai - Merayakan Kesepian - Malam Satu Muharram - Kepada Nadia Elsizabert | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Hujan - Mencintai Sungai - Merayakan Kesepian - Malam Satu Muharram - Kepada Nadia Elsizabert Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 01:15 Rating: 4,5

Hujan - Mencintai Sungai - Merayakan Kesepian - Malam Satu Muharram - Kepada Nadia Elsizabert

Hujan

Tiada kuasa ingatan menghitung
gerimis yang perlahan turun
menjadi hujan dan kita memang
tak perlu tahu
sebelum langkah melenyapkan debu
bahwa sesungughnya hujan mencintai
tanaman jauh sebelum tumbuh
beratus pohon di ladang pekarangan

Kini kita tak boleh takjub pada
langit
karena ia telah berdegup di jantung
kita yang sempit

Jadung, 2016

Mencintai Sungai

Setiap sungai memiliki isaknya
sendiri-sendiri
air mata sunyi alir airnya
menahan sedu rincuku yang patah
maka di hulu yang jauh hatiku
rebahlah

Kini ladang ingatan akan terus
selalu basah
mengapung bersama kenangan
yang telah lapuk dan bergetah
aku merindu seperti juga sungai

merindukan tangan lembut
manusia
mengharap rongga-rongga dadanya
tak menjadi tumpuan pembuangan
sampah

Semak-semak terasa bergetar di
tebing yang curam
mencemaskan air sungai beku
sebelum hidup ini khatam
di kampung dan kota-kota
rumah dan ladang banyak terendam
sebab tak mampu menjalin cinta-kasih
padamu
walau hanya semalam

Angin wahai angin, desir kalbuku
malam itu
beritahu aku, di mana sembunyi air
mata
dari hulu ke muara tak terlihat lagi
celah embun sukma
maka dengan sedih dan eprih
kukepalkan
sendiri tangan ini
menjamah bintang, batu, dan
jalanan
yang membentang panjang
mengarah ke jiwa ngarai yang
penuh lubang
bahkan batas ladang yang lama
ditinggalkan

Di nganga jurang yang dilintasi
langkah petani
sungai adalah lengan Tuhan yang
membawa nasib
ke hulu jauh, adalah jantung yang
mengalirkan hidup ke muara
tunas-tunas tanaman berebut
tumbuh, meranting buah cahaya
padang-padang sunyi, bau kemarau
musim hujan
mari labuhkan diri biar hanyut
segala kegelisahan

Setiap sungai mengemban isaknya
sendiri-sendiri
langit kuning tembaga, ladang
tandus cemas di batas dahaga
seteguk tanah di lembah sawah,
bagai kerontang dadaku
tempat menanam sekarung rindu
di sungai, di tebing yang kudaki tak
pernah sampai
lihat, Tuhan begitu tenang menitipkan
arus kehidupan

Sumenep, 2016

Merayakan Kesepian

Aku rayakan kesepian ini meski
sendiri
sampai pedih-perih tertanam abadi
aku kini terbayang ayah di sisi
makam
senyumnya yang tabah tak pernah
terbenam

Aku mengingatnya dengan caraku
yang lain
seperti embun membekukan
kenangan di ruang batin
tapi masih tak kunjung kutemui
jejak alir darah mudaku
yang pernah diwariskan ayah untuk
membasuh lelah ibu.

Jadunng, 2016

Malam Satu Muharram

Angin merobohkan kesunyian
hingga tumbuhlah tunas-tunas
kerinduan
yang gugur dari mata bulan

Jadung, 2016

Kepada Nadia Elsizabert

Pagi buta, aku melihat burung
terbang
dari matamu
ketika ritmis embun turun ke ujung
daun melengkung
kau riang melepas senyum
merengek ke bundamu minta susu
lalu aku gamang menyentuh buah
menguning di ranting jantung

Usiamu kini menyusun bintang
cadas di pantai
dan bunga-bunga mekar di
halaman
lalu aromanya bertabur di dalam
rumah
menjadi pecahan canda-tawa kita
sedangkan aku dari jauh menyulam
kerinduan
menganyam doa-doa, menjahit
senyum bundamu
di helai jiwa

Dungkek, 2016

Subaidi Pratama, lahir di Sumenep, 11 Juni 1992. Puisinya dimuat banyak media dan terkumpul dalam antologi "Festival Bulan Purnana" Trowulan Mojokerto 2010, "Bersepeda ke Bulan" Yayasan Haripuisi Indonesia 2012, "NUN" Yayasan Haripuisi Indonesia 2015, dan "Ketam Ladam Rumah Ingatan" Lembaga Seni & Sastra Reboeng 2016. Alumni PP Annuqayah tahun 2010. Kini bergiat di komunitas sastra Malam Reboan di Kota Malang.

Rujukan:
[1] Dislain dari karya Subaidi Pratama
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Republika" Minggu 16 Oktober 2016


0 Response to "Hujan - Mencintai Sungai - Merayakan Kesepian - Malam Satu Muharram - Kepada Nadia Elsizabert"