Jera | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Jera Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 07:28 Rating: 4,5

Jera

KABUT itu ada di mata Agus. Sungguh Keyna melihatnya.

Pandangan Keyna masih tertuju pada punggung Agus yang menjauh darinya. Perasaan bersalah menyusup pelan di hati Keyna.

”Maaf ya, Gus, aku nggak bermaksud bikin kamu sedih.” Keyna berkata pelan.

Tentu saja Agus tidak bisa mendengarnya karena jarak mereka sudah jauh. Keyna berbalik, ada Nesha yang sudah berdiri di belakangnya.

”Apa aku jahat bikin Agus gitu, Sha?“ Nesha terlihat berpikir sejenak, kemudian menggeleng.

”Kamu nggak salah kok, Key. Salah Agus yang bikin kamu menunggu sekian lama.”

Keyna menghela napas mendengarnya. Nesha betul, Keya sudah terlalu lama menunggu. Dan penantian itu bukan penantian sebentar. Rumah di ujung jalan menjadi saksi. Anak-anak kecil yang berlarian sambil memeluk Keyna juga jadi saksi. Pohon, rumput dan dedaunan juga bisa menjadi saksi. Ah, sudahlah, Keyna membatin, tak perlu ia menyebut saksi-saksi lain.

”Sekarang apa rencana kamu, Key?”

Keyna mengerutkan kening mendengar pertanyaan Nesha.

”Melanjutkan semua yang sudah kita rencanakan,“ jawab Keyna mantap.
Nesha tersenyum puas mendengarnya.

***
KEKHAWATIRAN Keyna terbukti. Sudah tiga hari ini mata Keyna selalu tertuju ke ujung jalan. berharap akan menemukan sosok Agus dalam pandangannya. Tapi selalu tidak ada Agus di sana. Keyna sampai bosan menjawab pertanyaan anak-anak kecil yang selalu berlarian ke arah Keyna kalau dia datang. Mereka selalu bertanya tentang ketidakhadiran Agus di sana.

”Sha, seharusnya aku relakan aja kali, ya. Jadi Agus bisa datang lagi seperti biasa.“ Bola mata Nesha terbeliak mendengar perkataan Keyna. 

”Ya Ampun, Key, jangan lemah hati dong. Ini demi kebaikan kita bersama,” cetus Nesha. Keyna hanya mengangguk pelan, mencoba menguatkan hatinya.

***
”Key,“ Nesha menarik tangan Keyna. Sontak Keyna menghentikan langkahnya.

”Coba lihat itu.” Keyna mengikuti arah telunjuk Keyna. Ada keterkejutan di mata Keyna. Keyna melihat Agus yang sedang melayani pembeli di sebuah toko.

”Duh, Sha. Ini pasti gara-gara hal itu deh. Aku jadi nggak tega.“

Air muka Keyna yang tadi ceria berubah jadi murung. Ingatan Keyna melayang ke masa setahun lalu. 

”Itu penipuan, Gus.“ Nesha berkata yakin. Agus mendengus, apa yang dikatakannya tidak dipercaya Nesha sedikit pun. Pandangan Agus beralih pada Keyna yang hanya memandangnya ragu.

”Itu penipuan. Cuekin aja kalau nggak kamu bisa nyesal,” cetus Nesha lagi seraya menjauh meninggalkan Agus dan Keyna.

”Key.” Agus menatap Keyna. ”Coba kamu lihat, di sini ada namaku, formulir yang aku isi sendiri juga ada surat keterangan dari notaries.”

Agus menyodorkan lembaran kertas yang ada di tangannya pada Keyna.

Ada nama Agus di bawah nama pemenang yang berhak mendapatkan mobil.

Agus yakin itu bukan penipuan karena dia memang pernah mengikuti undian berhadiah itu.

”Dan waktunya sudah mepet, Key. Hanya sampai siang ini atau hadiah akan hangus. Pliss, Key. Aku janji akan segera mengembalikan uang itu.” Agus memandang Keyna dengan tatapan memohon. Keyna meragu, Agus meyakinkan lagi, Keyna mengangguk setuju.

Sejumlah uang yang rencananya akan mereka belikan berkardus-kardus buka buat taman bacaan untuk rumah di ujung jalan berpindah tangan. Agus tersenyum senang, berlari meninggalkan Keyna. Sesaat setelah berlalunya Agus, Nesha datang dan menepuk jidatnya menyadari sesuatu yang salah telah terjadi.

Sehari, dua hari, seminggu, Agus menunggu hadiah itu dikirimkan tapi penantiannya sia-sia. Nesha mengomel panjang pendek melihat kelakuan Agus. Memberitahu kalau dia sudah menelpok piham pemberi hadiah yang resmi dan mendapatkan informasi kalau semua hadiah sudah diserahkan tanpa dipungut uang sepeserpun.

”Aku akan kembalikan uang itu, Key. Aku janji,“ kata Agus setelah sebulan berlalu saat dia sudah meyakini kalau memang tertipu. 

”Tak apa, Gus. Tidak usah diganti. Ayah sudah bersedia menjadi donatur dengan mengganti sebesar uang kemarin kok.“ Keyna berkata sambil tersenyum. Memberi simpati ke arah Agus. Tapi, Nesha di samping Keyna melotot.

”Nggak bisa. Semua harus Agus ganti!” tegas Nesha. Agus mendelik ke arah Nesha.

”Keyna yang ngasih, kenapa kamu yang nggak rela?“ protes Agus.

”Walau uang itu udah diganti tapi beda, Gus, dengan uang yang melayang. Itu uang dari para donatur yang sudah menitipkan uangnya pada kita. Kamu harus ganti.“ Nesha bersikukuh diiringi tatapan tak tega dari Keyna. 

”Kamu laki-laki kan, Gus? Kemarin bilang hanya pinjam. Janji sebagai laki-laki kalau pinjam ya harus dikembalikan.“ Ego Agus tergores mendengar perkataan Nesha. Agus berlalu dari Nesha dan Keyna sambil berkata akan segera mengembalikan uang itu.

Setahun berlalu, uang itu belum juga kembali pada Nesha walau rumah baca yang mereka kelola sudah dibuka. Dipenuhi anak-anak kecil yang selalu minta dibacakan dongeng bergantian oleh mereka.

”Yuk, ah. Agus bisa geer kalau tahu dia kita perhatikan.“ Nesha menepuk pundak Keyna. Membuyarkan lamunan Keyna yang masih terpaku menatap Agus di sebuah toko. Keyna berlalu mengikuti langkah Nesha. 

”Agus beberapa kali mencoba pinjam uang ke teman kita yang lain, Key. Karena dapat hadiah inilah, dapat telpon hadiah itulah.

Makanya kamu harus nagih terus sama dia. Biar jera.“

Keyna menghela napas mendengarnya. Mencoba mengesampingkan rasa tak tega karena Agus harus bekerja setelah pulang sekolah.

Selamat bekerja, Gus, bisik Keyna dalam hati. •

Hairi Yanti, Balikpapan Barat Kalimantan Timur


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Hairi Yanti
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" edisi 23 Oktober 2016

0 Response to "Jera"