Kacamata | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kacamata Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 07:21 Rating: 4,5

Kacamata

PUTRI. Begitu orang-orang memanggilku. Banyak cerita di balik nama itu. orangtuaku menaruh doa besar di dalamnya, berharap kelak putri bungsu mereka memiliki kepribadian dan kehidupan selayaknya putri-putri dalam cerita dongeng.

Namun kenyataan memang tak selalu sesuai dengan harapan. Setidaknya aku beruntung karena lahir dan dibesarkan dalam keluarga yang menyayangiku, meski semula orangtuaku tak menginginkan keberadaanku, sebab mereka sudah merasa cukup dengan dua putra yang kini menjadi kakakku.

Alhasil bahkan ketika masih berada dalam rahim ibuku pun, aku sudah belajar mengerti arti perjuangan. Perjuangan melawan obat yang diyakini dokter dapat melenyapkanku, dan perjuangan menjelaskan dengan bahasa tubuh bahwa aku adalah anugerah yang Tuhan titipkan di keluargaku. Atas kehendak-Nya aku masih bertahan di fase selanjutnya, dan terlahir sebagai Putri yang normal.
Aku bersyukur, keluargaku memiliki perekonomian yang baik sehinggasegala kebutuhanku dapat terpenuhi. Setidaknya sampai usiaku menginjak 10 tahun, bertepatan meninggalnya ayahku. Finansial keluargaku sangat terguncang, dan aku mengalami masa-masa remaja yang sulit, yang tak mungkin kulewati dengan baik tanpa sosok ibu di sisiku. Ibuku wanita kuat, meski ditinggal sosok suami seakligus tulang punggung keluarga. Ibu selalu tegar di hadapan ketiga anaknya yang masih bersekolah.

Begitupun saat dua tahun sepeninggal ayah, keluargaku kembali mendapat cobaan berupa fitnah. Ayah dituduh menyalahgunaan uang perusahaan selama masa kerjanya dulu. Hatiku sulit menerima perubahan begitu drastis dalam waktu relatif singkat dalam hidupku. 

Psikologisku terguncang sehingga aku bermetamorfosisi dari Putri ceria dan ramah menjadi Putri pendiam dan penyendiri.

Secara akademik, kemampuan intelegensiku memang tidak menurun sama sekali. Aku berhasil lulus SMP dengan peringkat terbaik dan mendapat beasiswa melanjutkan sekolah ke SMA favorit. Jarak tempuh jauh mengharuskanku berangkat setelah azan Subuh berkumandang, sampai rumah kembali sebelum azan Mahrib. Setiap hari selama tiga tahun aku harus mengayuh sepeda selama kurang lebih dua setengah jam, demi menuntut ilmu.

Selama rentang waktu itu aku hanya dibekali sebotol air mineral. Jangankan membli makanan atau minuman, aku bahkan tidak membawa uang meski selembar yang bergambar Pattimura sekalipun. Kadang aku merasa ini terlalu pedih untuk fakta hidup seorang ’Putri‘ sepertiku. Namun setiap kali aku lelah dan iri pada teman-temanku, ibu selalu menyemangatiku.

***
PAGI ini aku mendapati diriku penuh semangat. Di sudut kelas aku duduk melepas lelah selepas mengayuh sepeda. Aku menyadari kebenaran filsafat bahwa roda kehidupan berputar. Bukankah aku pernah di atas? Mengapa aku harus mengeluh ketika sekarang aku berada di bawah? Pasti ada saatnya aku kembali di atas, namun di setiap sisi roda itu kita dilatih terus berjuang, meski dengan jalan beragam. 

Bel sekolah berbunyi pertanda pelajaran pertama dimulai. Aku mengawali hari dengan belajar fisika. Hari ini Pak Hamid, guru fisika, menjelaskan tentang gerak parabola dan seperti biasa materinya selalu mudah untuk kupahami. Tapi di tengah-tengah penjelasannya, aku merasakan keanehan lain. Kedua mataku tidak bisa membaca tulisan Pak Hamid di papan tulis. Penglihatanku memang sudah mengalami gangguan sejak kecil. Rabun jauh. 

Saat ini mungkin kerusakan di kedua mataku sudah benar-benar parah, sehingga wajah Pak Hamid yang berdiri di depan kelas pun hanya terlihat samar. Aku terdiam. Tak berani bercerita pada siapapun, teman-teman bahkan ibuku sekalipun. Sebab aku tidak ingin menambah beban beliau dengan segala keterbatasanku. Aku mencoba mengakali kekurangan itu dengan duduk di bangku paling depan di kelas, tapi gagal.

Sore, ibu membawaku ke optik. Sepanjang perjalanan kami lebih banyak diam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Ternyata kedua mataku minus 5 dioptri, yang berarti dalam ilmu fisika, mataku hanya bisa melihat dengan jelas benda berjarak 20 cm. Bukan hanya aku, wajah ibu juga menyiratkan keterkejutannya. Terlebih lagi ketika disampaikan kisaran harga yang diperlukan untuk membuat kacamata yang nominalnya setara biaya sekolah selama enam bulan.

Akhirnya kami pulang dengan tangan kosong. Ibu tidak mengantongi uang sebanyak itu. Sedih dan kecewa memang, tapi aku tidak marah.

Tiga tahun berlalu dan aku benar-benar belajar tanpa pernah satu hari pun dapat membaca tulisan di papan tulis. Aku bersyukur tetap bisa memertahankan prestasiku dan mendapat beasiswa sampai dinyatakan lulus SMA.

Sekarang pun aku mendapat beasiswa penuh melanjutkan pendidikan di kota pelajar. Sungguh kebahagiaan yang tak terkira. Dapat kuukir kebanggaan di wajah ibu pada hari perayaan kelulusanku karena aku lulus dengan peringkat terbaik seangkatanku.

Aku pulang dengan rasa haru yang tak sanggup kubendung. Kukayuh sepeda dengan ibu yang membonceng di belakang sambil memegang medali kelulusanku. Sampai di rumah, ada seorang pria berusia senja telah menunggu kami. Aku tidak mengenalnya, tapi melihat air muka ibu yang seketika berubah, dapat kuterka pria itu orang penting di kantor tempat almarhum ayah bekerja. Mereka berdua mengobrol di teras rumah yang gentengnya sudah hampir ambruk, sementara aku masuk ke dapur dan mendapati kedua kakakku yang tengah mengobrol, aku tersenyum.

Bersyukur karena kedua kakakku kini telah memiliki pekerjaa tetap sehingga kondisi finansial keluarga kami sedikit lebih stabil.

Setidaknya kami dapat mencicil utang keluarga yang digunakan untuk kebutuhan selama kami tidak memiliki pemasukan. Obrolan kami terhenti ketika mendengar suara tangisan ibu. Kami pun panik dan bergegas keluar. Kami bertanya-tanya mendapati ibu sedang sujud di lantai teras rumah. tanpa ditanya, ibu sontak berbalik dan memeluk kami, mengatakan bahwa pria tadi datang untuk menyampaikan keputusan kepala bagian tempat almarhum ayahku bekerja dulu mengenai tuduhan penyalahgunaan dana yang tidak terbukti, disertai pengembalian aset keluarga kami. Kebahagiaan yang bertubi-tubi punmengakhiri perjuangan.

Seminggu setelah kelulusanku, aku berangkat ke kota pelajar untuk melanjutkan sekolah. Aku diantar ke stasiun oleh keluargaku. Sesaat sebelum kereta berangkat ibu memberikanku kotak kecil berwarna mrah muda yang katanya hanya boleh dibuka setelah kereta berangkat. Peluit pun menandakan kereta akan memulai perjalanannya, aku segera membuka kotak tadi dan mendapati sebuah kacamata dengan bingkai warna senada di dalamnya. Tanpa kusadari butiran air jatuh pada sudut-sudut kelopak mataku, terlebih saat membaca tulisan ibuku yang terselip di sana.

”Kacamata ini mungkin akan membantumu melihat kembali warna-warni duniamu yang sempat suram,Nak. Tapi kacamata ini tidak akan mengubah sudut pandangmu karena kamu telah belajar melihat jauh dari apa yang bisa dilihat oleh kedua matamu. Melihat kesulitan sebagai tantangan dan keterbatasan sebagai pilihan. Buat Ibu selalu bangga dengan penglihatanmu, Nak.“ •

Arum Putri Sukmasari, Universita PGRI Yogyakarta

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Arum Putri Sukmasari
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 9 Oktober 2016


0 Response to "Kacamata"