Kaisar Hujan - Pengakuan Sepuntung Rokok - Plato dan Goa Ilusif - Stanza Karunia Langit - Pengantin Rokok dan Kopi - Menikmati Kopi - Kalung Sajak | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kaisar Hujan - Pengakuan Sepuntung Rokok - Plato dan Goa Ilusif - Stanza Karunia Langit - Pengantin Rokok dan Kopi - Menikmati Kopi - Kalung Sajak Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:34 Rating: 4,5

Kaisar Hujan - Pengakuan Sepuntung Rokok - Plato dan Goa Ilusif - Stanza Karunia Langit - Pengantin Rokok dan Kopi - Menikmati Kopi - Kalung Sajak

Kaisar Hujan

Wajah langit berkerut bulu-bulu matanya lebat oleh
legam
di udara dingin merambak menaik lantai-lantai malam
lalu tiba ada yang jatuh dari ketinggian sebagai peluru
hujan
menembus tubuhku yang gemetar bersedekap
memeluk harap yang tumpas

Sampai kini cuaca masih menggelar kegaduhan pada
ambang malam
dari lalu hingga malam berlalu langit terus tembakkan
peluru-peluru hujan lamban tapi tak terbilang berapakali
menghujam
jadikan daun-daun berlubang sebagai kini atap perte-
duhan
membuat kata-kata gemigil mendekap makna dingin
pada diri sendiri

Pengakuan Sepuntung Rokok 

sepuntung rokok mengadu pada ketiadaan
mengapa tubuhku dicipta namun dihancurkan
saban hari jari-jari burung melinting
menjelma tubuhku
lalu dibakar dan dihisap bersama segelas kopi
berapa limpatganda luka bakar
burung ciptakan kepadaku
seperti mulut pencetus asap ngepul
bergulung-gulung, membumbung menjilati langit waktu
hanya membikin sesak jantung serta mata luka
barangkali karena tubuhku hanya sebatas kertas dan tembakau
burung begitu ringan membakar
hinggap bertumpuk-tumpuk arang membangun
kenangan pada tanah asbak yang dikutuk
waktu menganga

Plato dan Goa Ilusif

goa menganga di hadapan matahari pada suatu masa
di dalamnya terbelenggu orang-orang purba
yang terlahir sebagai batu peristiwa
serta obor menyala-nyala dari balik tirai kegelapan
percik cayanya melukis gerak manusia mencipta
bayang bergoyang pada dinding, sebagai otak realitas
plato
di sini hanya api pada obro berpijar sebanjang usia
yang menjadi sumbu pengetahuan ilusi
yang terus berbiak berjuta cerita

Stanza Karunia Langit

Langit berkuku hujan mencakar-cakar bumi
Menyihir batu esok tumbuh bebunga melati

Tangis langit sungguh sangat rahmat
Air matanya membangunkan segala yang tak selamat

Tuhan memang rahman membentangkan
sawah-ladang untuk mendewasakan bibit-biti kehidup-
an

Tapi bukan untuk bercocok taman besi-besi
atau berkebun kawat-kawat yang melilit bumi mati

Atau kini burung-burung hanya menyejahterakan
gedung-gedung tinggi bagaikan

Kota-kota pesat menanam bambu-bambu beton
Menjulang merobek wajah langit zaman

Pengantin Rokok dan Kopi

Sepanjang usiaku hanya untuk mengawinkan
sepuntung rokok dan segelas kopi
tak perlu di ruang megah maupun di pesta istimewa
di rentetan meja-meja sunyi pun bisa

Maharnya tak perlu emas atau permata
cukup seperangkat rasa hadirkan nikmat pada puncak
lidah

Di mana saja diriku menjadi penghulu, di liang sepi pun
itu
sebab hanya mulut yang memesona menyatukan cinta
keduanya
ijab Kabul tak usah melatih ucap bicara Arab
cukup legit kata dan puisi
telah mengenang ruap kopi dan asap rokok pada
gelambir bibir hitam

Menikmati Kopi

Serbuk-serbuk malam kurendam dalam gelas kopi
dengan hati-hati mengaduk sampai kental rasa
merebak dalam jiwa menyingsingkan selengan ilham

Dalam angan mulai kuperah kata dari dedak imaji
sampai menggenang bahasa meluberkan genangan
puisi
di lepek pada secangkir kopi

Dalam hati jauh rindu menepi
dan pada pucuk bibir tak henti-henti mencecapi
sampai gelas kopi surut menyisipkan dedak waktu yang
kian larut

Kalung Sajak

Dari timu kali matamu katak-katak bebas
meloncat ke kolam ingatan membawa segerobak
kenang yang mesti kukenang pada setiap tali-tali kata
lalu kusambung menjadi kalung puisi yang kelak abadi
di leher kekasih
dan ketika rembulan datang bersama usia fajar yang
kian memudar
gegaslah sajak kukalungkan ke leher hatimu yang
berhias mawar mimpi
yang kurintis dari lambung rindu hingga ke perih yang
lampau


Cabeyan, 2016 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Norrahman Alif
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 9 Oktober 2016

0 Response to "Kaisar Hujan - Pengakuan Sepuntung Rokok - Plato dan Goa Ilusif - Stanza Karunia Langit - Pengantin Rokok dan Kopi - Menikmati Kopi - Kalung Sajak"